Ta ‘allama

Alquran merupakan pedoman bagi seorang muslim dalam menjalani kehidupan.  Setiap muslim perlu mengenal dan mempelajari Kitabullah.  Demikianlah pemahaman saya mengenai pentingnya Alquran bagi umat Islam.  Saya rasa pemahaman ini sebagian besar datang dari kakek yang sangat mendorong saya untuk belajar Alquran.

“Kalau sudah khatam quran, kita potong kambing,” demikian janji beliau puluhan tahun lalu pada cucunya yang masih kanak-kanak.  Menunjukkan betapa pentingnya mempelajari Alquran hingga setelah menamatkannya perlu dirayakan dengan memotong seekor kambing.

Saya mulai mengaji saat duduk di kelas tiga SD.  Sore hari sepulang sekolah, saya ke masjid.  Bersama teman-teman, saya berkenalan dengan huruf hijaiyah.  Berlatih agar dapat mengucapkan huruf sesuai dengan makhraj-nya, mengatur posisi alat ucap sedemikian rupa agar dapat melafalkan ke-29 huruf ini dengan benar. 

“Salah dalam melafalkan dapat membuat kata yang dibaca berubah makna,” demikian pesan Ustazah kami.

Setelah mengenal huruf, saya belajar membaca.  Rangkaian huruf yang membentuk kata dibunyikan sesuai dengan harakat yang ada di setiap huruf.  Ada fathah yang berbunyi a, kasrah yang berbunyi i, dan dhammah yang berbunyi u.  Juga ada tanwin dengan bunyi an-in-un dan  sukun yang berarti huruf tersebut dibaca mati (hanya konsonan saja tanpa vokal) serta tasydid yang berarti konsonan ganda. 

Kemudian saya diajari ilmu tajwid untuk membaguskan bacaan.  Yang pertama adalah mad, memanjangkan bacaan pada saat bertemu dengan huruf-huruf tertentu.  Sebuah kata wajib dibaca sesuai dengan aturan mad-nya.  Kesalahan dalam memanjangkan bacaan bisa mengubah arti kata.

Berikutnya saya belajar hukum izhar, idgham, ikfa, iqlab dan qalqalah.  PR setiap pulang mengaji adalah mencari semua hukum tajwid ini pada ayat-ayat yang telah dibaca.  Saya diminta untuk menuliskan ulang ayat-ayat tersebut dan menandai bagian yang merupakan izhar, idgham, ikfa, iqlab dan qalqalah.   Ustadzah meminta saya melakukan ini mulai dari Al-Fatihah, Al-Baqarah, An-Nisa dan seterusnya.  Demikianlah interaksi saya dengan Alquran hingga saya menamatkan sekolah dasar.

Di SMP saya tidak lagi mengaji ke masjid, hanya belajar agama Islam di sekolah.  Tugas yang berhubungan dengan Alquran adalah menghafal ayat-ayat pendek.  Saya lebih mudah mengingat sesuatu jika hal tersebut saya pahami maknanya sehingga saat menghafal sebuah ayat, saya menghafalkan juga artinya. 

Di SMA guru agama Islam saya membuka les membaca Alquran seusai jam pelajaran.  Saya ikut belajar.  Ibu yang baik hati tersebut mengatakan bahwa saya sudah bisa membaca Alquran dan tak perlu melanjutkan les bersama teman-teman lainnya.  Saya merasa senang.  Saat itu saya merasa sudah selesai belajar Alquran.

Selanjutnya saya mulai lebih sering berinteraksi dengan Alquran terjemah.   Jika pada saat membaca terjemahan saya menemukan makna menyentuh hati atau saya rasa penting, saya menuliskan ayat tersebut di tempat yang mudah terlihat.  Saya masih ingat di kelas 1 SMA menuliskan surat Al-Isra ayat 36 di buku agenda:

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui.  Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” 

Saya menjadikan ayat ini sebagai pedoman dalam berperilaku.  Saya berusaha mendapatkan informasi yang menyeluruh sebelum memutuskan untuk terlibat dalam suatu hal.  Saya mencari tahu alasan dan atau tujuan saat akan melakukan sesuatu, tidak sekedar ikut-ikutan.

Saat menjadi mahasiswi saya membaca terjemahan Alquran.  Saya mewarnai ayat-ayat yang berisi perintah dengan stabilo warna hijau dan ayat-ayat yang berisi larangan dengan warna pink.  Warna kuning untuk doa-doa.  Alquran saya penuh warna, mirip dengan buku teks kuliah 😊. 

Pada masa-masa awal praktik sebagai konselor di rumah sakit, seseorang datang ke ruangan saya dan menawarkan tafsir Al-Misbah.  Saya merasa ini adalah isyarat agar saya meningkatkan pemahaman saya dari membaca terjemah menjadi membaca tafsir.  Saya membelinya, lengkap 30 juz.  Sepertinya saya terlalu sibuk mengurusi hal yang lain sehingga tafsir tersebut belum tamat saya baca.  Buku-buku hard cover itu lebih banyak berada di dalam lemari.

Setahun sebelum pandemi, saya tertarik untuk mendalami psikologi Islam.  Ketertarikan ini membawa saya kembali mempelajari Alquran.  Saya ingin tahu bagaimana Alquran mendefinisikan manusia.  Pada saat itu saya menyadari bahwa membaca terjemahan saja tidak cukup.  Saya perlu memahami bahasa Alquran.  Saya perlu tahu makna asli dari kata yang dituliskan dalam kitab mulia tersebut.  Menyadari ketidakmampuan ini, saya ikut kursus bahasa Arab Alquran.  Kursus bahasa yang bertujuan untuk memahami kata-kata dalam Alquran. Menurut guru saya, bahasa Arab yang menjadi bahasa Alquran adalah bahasa Arab klasik – sedikit berbeda dengan bahasa Arab modern.

Pada awalnya saya belajar membedakan kata.  Apakah ia termasuk harf, ism atau fi’l.  Pada saat itu saya baru tahu kalau umumnya sebuah kata dalam bahasa Arab memiliki akar kata.  Akar kata biasanya terdiri dari 3 huruf dan akar kata inilah yang biasanya terdapat di kamus.  Tambahan imbuhan akan membentuk turunan kata dengan jumlah huruf yang lebih banyak.  Saya baru sadar mengapa dulu saya tidak bisa menemukan arti sebuah kata pada kamus bahasa Arab yang saya punya.  Saya belum mengembalikan kata tersebut ke dalam bentuk akar katanya.  Hahaha.. inilah pentingnya belajar… 😊

Saat mempelajari perubahan kata, saya terpesona akan kekayaan kosa kata dalam bahasa Arab klasik sekaligus terpukau oleh betapa efisiennya penulisan kata tersebut.  Sebuah fi’l tidak hanya sekedar kata kerja namun juga berisi keterangan mengenai waktu pelaksanaan dan subyek yang melaksanakan perkerjaan pada kata tersebut.  Adanya imbuhan menjadikan sebuah kata semakin spesifik, misalnya tasydid yang menyiratkan bahwa pekerjaan yang terdapat dalam fi’l tersebut dilakukan berulang-ulang.  Semakin banyak jumlah huruf yang menyusun kata, semakin dalam maknanya.

Beberapa waktu yang lalu saya mempelajari kata ‘alama (عَلَمَ).  Guru saya memperkenalkan kamus Lanes Lexicon.  Berdasarkan kamus tersebut, dalam bentuk dasarnya ‘alama merupakan kata kerja lampau yang berarti telah mengetahui dengan pasti atau telah benar-benar tahu mengenai sesuatu.  Salah satu turunan katanya adalah ta’allama  yang dalam bahasa Inggris berarti possessed knowledge as a faculty firmly rooted in his mind.  Dalam bahasa Indonesia saya memahami ini sebagai telah memiliki pengetahuan sebagai kemampuan yang berakar kuat di dalam pikiran.

Guru saya membahas hadis:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ 

(Khairukum man ta’allamal qur’aana wa ‘allamahu)

“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Apabila merujuk pada kamus Lanes Lexicon, maka kata ta’allama di dalam hadis ini berarti mempelajari Alquran sampai ia menjadi sebuah kemampuan yang menetap di dalam pikiran kita.  Tujuan akhir dari proses belajar ini adalah membuat Alquran mengisi pikiran kita secara permanen.  Dengan demikian ia akan menjadi dasar dari semua pemikiran kita dalam menjalani kehidupan ini.

Ketika sampai pada pemahaman ini, saya merasa bahwa selama ini saya belum belajar Alquran.  Saya baru belajar membaca Alquran.  Itu belum ‘alama apalagi ta’allama.  Saya masih harus belajar banyak.  Sangat banyak.  Bismillah, semoga Allah mudahkan.

Mutiara, 7 April 2021 (5 hari menjelang Ramadhan 1442 H)

Dian L Izwar


كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبَٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ

Yang diturunkan kepadamu ini, hai Muhammad, adalah kitab suci yang diturunkan dengan penuh manfaat.  Demikian itu agar mereka memahami ayat-ayatnya secara mendalam, dan agar orang-orang yang berakal sehat dan berhati jernih dapat mengambil pelajaran darinya.

(QS.Shad: 29)


Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *