Gula Pasir dan Sapu Lidi
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri…
Q.S. Al-Isra’ ayat 7
Jika kita berbuat baik, berarti kita berbuat baik untuk diri kita sendiri. Kita tentunya sudah sering mendengar kalimat tersebut. Saya hanya ingin berbagi pengalaman yang saya rasakan dalam menghayati ayat ini. Anda pun dapat menuliskan pengalaman Anda, semoga dapat menjadi hikmah bagi siapa pun yang membacanya. Semoga Allah berikan kemudahan bagi kita semua untuk senantiasa melakukan kebaikan.
Tiga hari yang lalu, salah seorang tetangga menawarkan gula pasir di group media sosial khusus kompleks kami. Selama masa pandemi ini, beberapa warga kompleks memang berinisiatif untuk berniaga. Saya berusaha untuk berbelanja pada mereka, di samping membina silaturahmi juga saling membantu. Atas niat membantu inilah saya memesan gula pasir tersebut. Keesokan paginya gula pasir diantar ke rumah saya.
Kemarin pagi, suami saya mengatakan bahwa gula pasir di botol kaca tempat kami biasa menyimpan gula habis. Suami saya memperlihatkan botol gula pasir yang kosong setelah ia menggunakan sisa gula yang ada. Ia masih membutuhkan tambahan gula lagi. Saya bergegas ke lemari penyimpanan. Tidak ada gula pasir. Saya periksa sekali lagi. Tetap tidak saya temukan gula pasir.
Bagaimana saya bisa lupa? Saya biasanya selalu mempunyai cadangan. Jika gula di lemari penyimpanan sudah dituang ke dalam botol, saya akan membeli gula baru sebagai cadangan. Tampaknya saya tidak mengikuti prosedur itu kali ini, saya tidak ingat apa penyebabnya. Yang jelas tidak ada gula pasir cadangan di lemari penyimpanan dan botol gula pasir telah kosong. Itu artinya tidak ada gula pasir di rumah kami.
Ups, tunggu dulu.. tiga hari yang lalu saya telah memesan gula pasir, saya memang belum memasukkannya ke lemari penyimpanan karena selama pandemi benda-benda yang tidak diperlukan segera biasanya saya ‘karantina’ dulu sekitar 5 hari sebelum digunakan. Saya membeli gula pasir dari tetangga bukan karena gula pasir saya habis (saya tidak sadar kalau saya tidak punya gula pasir cadangan) tetapi hanya karena ingin membatu tetangga yang berniaga. Ternyata yang terbantu adalah saya. Saya jadi punya gula pasir pada saat suami saya membutuhkannya kemarin pagi.
Kejadian ini mengingatkan saya pada pengalaman akhir tahun 2019 yang lalu. Saat itu saya sedang merapikan bunga di halaman depan.
“Sapu, Bu..” sebuah suara menyapa.
Saya mengangkat kepala, memandang ke arah jalan. Seorang bapak tua berhenti di depan pagar. Di hadapannya ada sebuah gerobak yang penuh berisi aneka perlengkapan rumah.
“Sapu lidinya, Bu.. Buat di kebun,” ujarnya.
Saya memandang dua buah sapu lidi yang ditawarkannya. Saya baru membeli sapu lidi. Apa saya perlu membelinya lagi?
“Ini yang nggak pakai tangkai juga ada, Bu. Lebih murah,” bapak tua itu mengambil sapu lidi tak bertangkai dari gerobaknya. Ada dua jenis sapu lidi kini di tangannya.
Saya putuskan untuk membeli sapu-sapu itu. Bukan karena saya butuh tapi karena ingin membantunya. Saya ingin jualannya laku. Ia tampak senang.
“Tongkat pelnya nggak sekalian, Bu” ia kembali menawarkan saat saya mengulurkan uang untuk membayar.
Saya memandangi tongkat pel dengan karet diujungnya. Sejauh ini, saya tidak memerlukan alat itu. Sapu dan tongkat pel kain sudah cukup bagi saya untuk membersihkan rumah. Mungkin bapak itu bisa membaca pikiran saya sehingga ia berkata, “Ini ada karetnya, Bu. Buat di teras kalau habis hujan.”
Saya pikir tak apalah saya beli, tentu ia akan senang kalau jualannya laku lebih banyak. Saya mengangguk. Bapak tua itu tersenyum senang, saya juga.
“Sebentar saya ambilkan yang lebih bagus,” ujarnya seraya menuju gerobaknya.
Pada saat ia mencari tongkat pel di antara tumpukan aneka sapu, tongkat pel dan pengki, sebuah sikat bertangkai panjang ia keluarkan dari ikatan karena menghalangi tongkat pel yang ingin diambilnya. Itu adalah sikat kamar mandi yang selama ini selalu saya ingin beli. Saya biasanya teringat untuk membeli sikat itu pada saat harus membersihkan kamar mandi namun kerap terlupa pada saat berbelanja.
“Itu sikat apa, Pak?” tanya saya.
“Sikat kamar mandi. Bagus ini, tangkainya panjang. Pesanan orang, saya bawa lebih satu,” ia menjelaskan sambil memberikan sikat bertangkai panjang itu pada saya.
Saya menyambutnya dengan gembira. Alhamdulillah. Saya senang sekali.
Akhirnya saya membeli dua jenis sapu lidi, satu tongkat pel dan satu sikat bertangkai panjang. Bapak tua itu tampak senang dengan transaksi kami. Saya juga sangat senang. Sudah lama sekali saya menginginkan sikat bertangkai panjang ini. Saya merasa bahwa saat saya benar-benar ingin membantu seseorang, justru sayalah yang terbantu. Allah Maha Adil.
Tanggal 1 Januari 2020 Jakarta dilimpahi hujan yang deras dan lama. Rumah saya yang selama ini aman-aman saja kali ini ikut tergenang air hujan yang tak sanggup lagi diserap oleh tanah. Setelah hujan reda dan air surut, alat apa yang paling membantu saya membersihkan sisa-sisa kotoran yang terbawa air? Tongkat pel dengan karet diujungnya! Ma syaa Allah. Allah yang Maha Mengatur telah menggerakkan hati saya untuk membelinya pada saat logika saya berkata saya tidak membutuhkannya. Kebaikan itu akan selalu kembali padamu. Wallahu a’lam.
Mutiara, 19 Agustus 2020 selepas Magrib (1 Muharam 1442 H)
Dian L Izwar.
Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula)
Q.S. Ar-Rahman ayat 60
