Ingin Buku

“Alhamdulillah, dapat buku ya,” ujar saya pada sang rekan saat ia kembali ke bangku di sebelah saya.

“Iya, Bu.  Aku kemarin pengen banget buku ini.  Trus semalam aku berdoa khusus supaya dapat buku ini,” rekan semeja saya menjawab dengan rasa haru yang getarannya dapat saya rasakan.  Saya pun ikut terharu.

Pada penutupan hari pertama kemarin, panitia workshop Tazkiya Therapy yang diselenggarakan oleh International Open University di Kawasan Permata Hijau Jakarta memberikan hadiah buku bagi peserta yang mau merangkum materi yang telah disampaikan oleh DR. Bagus Riyono selama 4 sesi pertama.  Disediakan 2 buku untuk dua peserta yang bersedia menyampaikan rangkuman.

Rupanya sang rekan juga menginginkan buku karangan DR. Bilal Philips itu hingga ia berdoa khusus untuk dapat memilikinya.  Pada malam usai workshop hari pertama ia sungguh-sungguh meminta pada Allah agar mendapatkan buku tersebut.

Pada hari kedua workshop, terdapat sesi praktik Tazkiya Therapy berpasangan.  Ia merupakan pasangan saya dalam sesi praktik ini.  Kami melakukan aktivitas yang disarankan fasilitator sebaik yang kami bisa.  Menjelang akhir sesi praktik, fasilitator menghampiri kami dan menanyakan apakah kami mau menjadi model untuk simulasi praktik Tazkiya Therapy di depan kelas. 

Sang rekan menatap saya, meminta persetujuan.

“Kalau saya boleh, Bu,” ujar saya pada fasilitator kami.  Ini adalah kesempatan baik untuk mendapatkan umpan balik langsung dari DR. Bagus Riyono sebagai penggagas konsep Tazkiya Therapy.  Ma syaa Allah. 

Sang rekan tak langsung menjawab.  Suasana hening beberapa saat.  Ia tampak ragu. 

Fasilitator kami menangkap keraguannya dan berkata, “Nggak usah diceritakan semua masalahnya.  Yang boleh diketahui teman-teman saja.”

Sekali lagi sang rekan menatap saya.

“Pilih satu kasus saja,” ujar saya.  Kami memang sempat mendiskusikan beberapa hal selama praktik Tazkiya Therapy tadi.  Saya merasa ada hal-hal pribadi yang tak ingin ia bagi dengan orang lain dan itu sangat wajar.

Ia masih belum menjawab.

“Kalau tidak berkenan, tidak apa-apa.  Saya akan minta kesediaan pasangan lain,” ujar fasilitator yang menangkap kuatnya keraguan di wajah sang rekan.

Saya mengangguk.  Tak perlu memaksakan diri jika tak berkenan.  Bila ragu-ragu, tinggalkan.  Ini prinsip saya.

“Saya mau, Bu.”  Sang rekan membuat keputusan sesaat sebelum fasilitator beranjak untuk meminta kesediaan peserta lain. 

Fasilitator yang ramah itu tersenyum dan kami melakukan simulasi praktik Tazkiya Therapy di depan kelas.  Alhamdulillah semua berjalan dengan baik dan kami masing-masing mendapatkan sebatang coklat sebagai bentuk apresiasi dari panitia.  Workshop pun berlanjut hingga akhir hari kedua.

Pada sesi penutupan, panitia meminta kelas untuk memberikan kesan terhadap workshop ini.  Hanya 3 orang yang diberi kesempatan meski banyak yang ingin turut menyampaikan kesan.  DR. Bagus Riyono menanggapi kesan-kesan tersebut sekaligus menyampaikan “take home messages” bagi para peserta.   Setelah itu, tiba-tiba panitia memanggil saya dan rekan yang tadi melakukan simulasi praktik Tazkiya Therapy untuk tampil ke depan kelas.  Wakil ketua Program Studi Psikologi International Open University menyerahkan buku karangan DR. Bilal Philips pada kami berdua.  Buku yang sangat diinginkan oleh sang rekan.  Ma syaa Allah.  Kami sama sekali tidak menyangka.  Apalagi, sebatang coklat telah kami terima sebagai bentuk apresiasi setelah simulasi tadi. 

Peristiwa ini mengingatkan saya akan pentingnya doa.  Kita perlu yakin bahwa Allah mendengar doa kita.  Di samping itu, saya juga merenungkan perlunya usaha untuk mendapatkan apa yang kita minta dalam doa tersebut. 

Saya teringat kisah Nabi Musa yang berdoa meminta air bagi kaumnya saat mereka berada di padang pasir yang tandus.  Sangat mudah bagi Allah untuk membuat air memancar dari batu tanpa Nabi Musa harus melakukan apa-apa, tapi Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya.  Dengan sebab itulah 12 mata air memancar dari sebuah batu besar atas izin Allah. 

Dalam kasus di atas, usaha sang rekan untuk mengambil peluang menjadi model simulasi praktik yang ditawarkan oleh fasilitator adalah sebab ia memperoleh buku pada sore itu.  Ia perlu berusaha.  Ia perlu “memukulkan tongkatnya” agar keinginannya terpenuhi atas izin Allah. 

Kisah ini membuat saya semakin yakin bahwa berdoa dan berusaha adalah satu paket yang tidak terpisahkan.  Kita perlu melakukan kedua hal ini dengan keyakinan yang mantap di dalam hati.  Keyakinan ini, in syaa Allah akan membuat kita lebih sehat mental dalam menjalani hidup dan menjawab tantangan yang ada.  In syaa Allah kita akan merasa lebih tenang karena sebelum mengerahkan upaya terbaik, kita telah meminta pada Rabbul ’Alamin, Pemilik semesta alam.  Bukankah hanya dengan izinNya semua hal dapat terjadi? 

Bismillah, semoga saya senantiasa ingat untuk memohon rahmatNya sebelum “memukulkan tongkat”.  In syaa Allah. 

Mutiara, 19 Januari 2026
Dian L Izwar.


Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (apa yang kamu harapkan)…”
QS. Ghafir: 60

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *