Kamar Kost
Rumah saya direnovasi. Saya harus pindah kamar untuk sementara waktu. Rencananya saya akan menempati kamar sementara ini sekitar 4 bulan. Diharapkan sebelum awal tahun 2021 renovasi rumah saya telah selesai, in syaa Allah. Karena hanya untuk sementara, saya menamai kamar ini kamar kost.
Kamar kost tidak sebesar kamar saya yang lama. Saya memang tidak berusaha mencari kamar yang besar karena ini hanya untuk sementara. Yang penting syarat minimal terpenuhi: kamarnya cukup nyaman untuk beristirahat, ventilasinya bagus sehingga sirkulasi udaranya baik dan saya tidak perlu menggunakan lampu di siang hari, serta ada sedikit ruang kosong di dalam kamar untuk shalat berjamaah. Itu saja sudah cukup.
Karena kamar kost saya tidak luas, hanya sebuah lemari yang bisa masuk. Semua kebutuhan kami harus muat di dalam lemari itu. Saya mensortir perlengkapan yang benar-benar kami butuhkan dalam 4 bulan ke depan. Hanya yang penting dan sering saya gunakan saja yang ikut masuk ke dalam lemari, yang lain saya simpan di gudang. Saya memiliki beberapa mukena dan sarung yang saya sediakan untuk para tamu sehingga apabila datang waktu shalat, kami bisa shalat berjamaah. Mukena dan sarung ini biasanya saya simpan di dalam lemari kamar tamu. Di kamar kost tidak ada lemari tamu, jadi saya hanya menyisihkan 2 pasang mukena untuk saya pakai sehari-hari, sisanya saya pak untuk disimpan di gudang. Demikian pula dengan baju-baju, saya hanya pilih beberapa yang benar-benar kami butuhkan. Hanya barang-barang yang benar-benar perlu saja yang ada di kamar kost. Saya juga tidak menghias kamar ini. Yang saya perlukan adalah sebuah jam sebagai penunjuk waktu dan sebuah kalender dinding sebagai pengingat tanggal. Pada zaman #dirumahaja akibat pembatasan sosial berskala besar ini saya terkadang tidak ingat hari ini tanggal berapa, setiap hari rasanya sama saja😊. Jadi dua benda itulah yang menempel di dinding. Singkat kata, saya tidak terlalu memikirkan kamar kost ini. Perhatian saya lebih tertuju pada kamar yang akan dibangun.
Saya dan suami berdiskusi mengenai kamar baru yang akan kami bangun. Kami memikirkan sebuah kamar yang lebih nyaman dari kamar lama kami. Ukurannya perlu lebih luas. Plafonnya akan dibuat lebih tinggi. Akan ada bukaan jendela yang lebar dan menghadap ke arah taman. Akses ke kamar mandi diupayakan dekat. Kami mempertimbangkan untuk membuat lantai dari kayu atau parquet untuk memberi kesan hangat pada kamar itu. Kami mencari banyak informasi, berselancar di dunia maya atau menghubungi teman yang lebih tahu. Kami membaca buku mengenai disain kamar tidur dan berdiskusi panjang mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan dari masing-masing disain. Material apa yang paling sesuai, kusen kayu atau kusen alumunium? Bagaimana disain jendelanya? Bukaan jendela kupu-kupu atau geser? Mana yang lebih ergonomis? Berhari-hari kami berdiskusi mengenai hal ini. Kami ingin kami sudah benar-benar yakin dengan pilihan kami sebelum menuangkannya dalam cetak biru pembangunan kamar tersebut. Kami mengupayakan yang terbaik yang dapat kami lakukan untuk membuat kamar itu benar-benar nyaman saat nanti menempatinya. Waktu, pikiran dan energi kami curahkan dalam merancang kamar tersebut. Ia menjadi pusat perhatian kami.
Sore tadi saat sedang berbenah di kamar kost, tiba-tiba terlintas dalam pikiran saya perbandingan prosentase energi yang kami habiskan untuk “mengurusi” kamar kost dan energi untuk “mengurusi” renovasi kamar baru kami. Meskipun saat ini kami menempati kamar kost, namun energi yang tercurah untuk merancang kamar baru jauh lebih banyak. Kami merasa kamar itu akan kami tempati dalam jangka waktu yang lama sehingga perlu dipersiapkan semaksimal mungkin. Sedangkan kamar kost hanya akan ditempati untuk sementara waktu menunggu kamar baru kami selesai dibangun. Saya merenung. Jika untuk kamar yang akan ditempati di dunia saja, saya mencurahkan energi sebesar itu, berapa besar energi yang harusnya saya curahkan untuk kehidupan yang lebih kekal nanti? Astaghfirullah hal adzim. Bukankah dunia ini hanya ‘kamar kost’?
Mutiara, 24 Agustus 2020
Dian L Izwar
Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.
Q.S. Al-‘Ankabut: 64

Benar sekali Dian
Semua yg kita jalani di dunia ini hanya sebentar saja
Jadi biasa2 saja dan wajar2 saja dalam ber cita2 dan ber ke inginan dan juga dalam mencintai
Semua nya kita jalani menurut ajaran Nya
Teapi tetap semangat dalam meraih cita2
Iya, Uni…
Terima kasih.