Catatan Pertama
Ikatlah ilmu dengan menulisnya – HR. Al-Hakim.
Ada beberapa orang yang mempunyai daya ingat yang sangat kuat hingga mampu menghafal dengan cepat dan tetap mengingat apa yang telah dihafalnya. Salah satu contoh dari manusia istimewa ini adalah Imam Bukhari, beliau mampu menghafal hadits-hadits nabi dengan mudah dan tetap dapat mengingat hadits-hadits yang telah dihafalnya tersebut. Namun tidak semua orang seberuntung beliau, pada umumnya manusia memiliki keterbatasan dalam mengingat. Apa yang kita ketahui hari ini belum tentu kita ingat lagi beberapa hari kemudian. Memori kita terbatas.
Saya termasuk manusia pada umumnya ini, oleh karena itu saya senang membuat catatan sebagai alat bantu untuk mengingat. Ayah saya memiliki andil besar dalam menciptakan kebiasaan ini. Beliau mempunyai “buku pintar” yang berisi semua hal yang beliau anggap penting. Buku pintar tersebut berupa buku tulis biasa namun isinya luar biasa. Setiap informasi yang beliau rasa perlu akan dicatat di dalam buku tersebut.
“Kita tidak perlu mengingat semua hal, namun kita perlu tahu dimana kita bisa menemukan informasi mengenai hal tersebut,” demikian beliau bertutur.
Saya pun mencontoh kebiasaan beliau. Hal-hal yang saya rasa penting, saya catat. Informasi yang baru saya dengar, saya baca, saya lihat atau saya renungkan akan saya tuliskan. Ide-ide yang terlintas dan kalimat-kalimat yang muncul dalam pikiran, saya ubah ke dalam bentuk coretan. Dulu saya bahkan meletakkan buku kecil di samping tempat tidur sehingga jika tiba-tiba ada ide yang muncul sesaat sebelum terlelap saya dapat dengan mudah mencatatnya. Saat ini banyak hal saya catat di dalam gawai, meski pun tetap ada yang saya catat secara manual di buku. Salah satunya adalah Catatan untuk Kakak yang merupakan diari interaksi saya dengan gadis kecil saya yang cantik. Saya katakan padanya, “Bunda tulis buku untuk Kakak, in syaa Allah nanti kalau Kakak sudah bisa baca, Kakak bisa baca tulisan Bunda di buku ini.” Dia menjawabnya dengan senyum sumringah. Saya membayangkan bahwa kelak apabila saya tak lagi dapat menemaninya, ia akan tetap merasakan kehadiran saya melalui tulisan dalam buku itu. Pesan-pesan yang saya anggap penting untuknya saya tuliskan di sana.
Beberapa hasil catatan saya tuangkan dalam bentuk tulisan singkat, ada pula yang saya jadikan cerita pendek atau puisi. Kata hati dan emosi yang muncul pada saat memaknai sebuah kejadian saya uraikan dalam bentuk puisi. Pemikiran dan analisis terhadap sebuah peristiwa saya buat menjadi artikel.
Kesenangan saya dalam menulis ini didukung oleh pekerjaan saya sebagai trainer yang menuntut saya untuk banyak membaca untuk kemudian menuliskan kembali intisari dari apa yang saya baca tersebut dalam modul-modul pelatihan dengan bahasa yang lebih mudah dipahami oleh peserta pelatihan. Sejak lulus dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia pada tahun 1996 saya sudah mulai menulis artikel dan modul pelatihan.
Selain artikel dan cerita, saya juga mulai menulis resep masakan. Insiprasi menuliskan resep ini muncul dari komentar suami saya.
“Bunda itu masakannya enak, tapi nggak bisa diulang,” ujarnya suatu saat.
“Ini enak juga, tapi beda sama yang kemarin,” komentar suami saat makan nasi kebuli buatan saya.
“Iya, yang kemarin pakai susu, yang ini pakai santan,” saya menjawab sambil tersenyum. Saya memang suka mengubah resep pada saat berada di dapur. Seringkali saya masak malah tanpa resep, tergantung pada saat itu saya ingin memasak apa dan bahan-bahan apa yang tersedia di dapur. Saya bisa membuat tumis pare asin, manis atau pedas, tergantung mood.. hehehe,,, jadi meskipun judulnya sama-sama tumis pare, rasanya bisa berbeda.
“Bagus lho, Bunda bisa bikin berbagai masakan dengan bebagai rasa. Bunda nggak catat resepnya?” Pertanyaan suami ini menggugah saya untuk memiliki buku resep ala Dian.
Sejak saat itu saya mulai mencatat resep-resep yang saya anggap enak sehingga suatu saat apabila saya ingin memasak ulang saya dapat membuat kembali dengan rasa yang kurang lebih sama (tetap tergoda sih, untuk mengubah, mengurangi atau menambah beberapa bahan.. hehehe). Bahkan resep yang selama ini sangat sederhana seperti membuat sambal pun saya catat. In syaa Allah, secara bertahap, bagian dari catatan-catatan tersebut akan saya unggah di dapurhati.com. Semoga apa yang saya tuliskan dapat menjadi pengingat bagi saya dan juga dapat bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya.
Bismillah. Semoga Allah swt meridhai niat saya untuk menulis di dapurhati.com dan memudahkan kita semua untuk mengamalkan pengetahuan yang telah Allah berikan pada kita.
Mutiara, 1 Juli 2020.
Dian L Izwar

Makasih banyak An… Share yg bagus banget… Utk membiasakan lagi mencatat… Apalagi kita juga mesti ingat otak yg Allah kasih pinjam ini punya masa berlaku, dan suatu saat akan menurun performa-nya… Jadi mencatat adalah salah satu cara utk membuat kita tetap on…
Alhamdulillah.
Sama-sama, Sa. Semoga Allah mudahkan kita untuk memanfaatkan semua karuniaNya. Terima kasih juga sharenya..