Menuju Al Aqsha: Upaya Memahami Bagaimana Allah Menjawab Doa (bagian ketiga)

Pada bagian yang lalu telah diceritakan bagaimana rombongan kami terbang dari Jakarta ke Muscat dan melanjutkan perjalanan dari Muscat ke Kairo. 

Pada tanggal 11 Maret 2020 ketua rombongan memutuskan bahwa kami semua akan terbang menuju Yordania besok.  Belum diputuskan apakah kami akan segera pulang atau akan melanjutkan ziarah di Amman seperti jadwal semula.  Saya berdoa agar dapat segera kembali ke Jakarta.  Namun saya tetap ikut apa pun yang diputuskan oleh ketua rombongan.  Pihak travel agent segera mengurus semua keperluan perjalanan ke Yordania. 

Tiket dari Kairo ke Amman telah dipesan.  Lima belas menit sebelum membayar seluruh tiket tersebut otoritas Kairo mengumumkan bahwa akan ada hujan lebat disertai badai sehingga seluruh penerbangan dari dan ke bandara Kairo dihentikan pada tanggal 12 dan 13 Maret 2020.  Otoritas Kairo juga memerintahkan semua orang untuk tetap berada di kediamannya masing-masing, kantor dan sekolah diliburkan.  Pihak travel agent mengumumkan bahwa pada tanggal tersebut kami dipersilakan beristirahat di hotel.  

Alhamdulillah, saya merasa ini adalah cara Allah untuk membuat kami dapat beristirahat.  Ada yang tidur dari jam 2 siang hingga jam 8 malam.  Perjalanan Jakarta-Muscat-Kairo cukup melelahkan.  Berita tidak dapat masuk ke Al-Aqsha menurunkan adrenalin dan menambah rasa letih.  Allah berikan waktu untuk beristirahat, memulihkan stamina agar tetap sehat, in syaa Allah. Apalagi rentang usia di rombongan kami cukup besar, dari usia 20-an hingga 70-an tahun.  Ada yang ingin jalan-jalan, ada yang sejenak ingin rehat.  Allah mengirimkan badai sehingga semua dapat beristirahat.  Tour guide di Kairo mengatakan bahwa jarang sekali hujan di Kairo, apalagi yang disertai badai.  Hujan badai  hanya terjadi sekali dalam 10 tahun.  Allah menakdirkan hujan badai itu terjadi saat ini, saat kami sedang berada di Kairo.

Saya menikmati istirahat di hotel, memandang sungai Nil yang airnya berubah menjadi coklat setelah hujan deras.  Beberapa tempat di Mesir terjadi genangan.  Karena tidak biasa hujan, jalan-jalan di Mesir tidak dirancang dengan sistem drainase untuk mengalirkan air.  Akibatnya air menggenang di jalan-jalan.  Pada tanggal 13 Maret cuaca mulai membaik, beberapa orang ingin berjalan-jalan ke Alexandria.  Kabarnya kota itu indah.  Namun hujan membuat jalan-jalan menuju Alexandria tergenang dan tak dapat dilalui kendaraan, kami semua tetap beristirahat di Kairo.

Pada tanggal 13 Maret malam saya bertemu dengan travel agent di Mesir.  Ia mengatakan bahwa beberapa negara Asia Tenggara akan melakukan kebijakan lockdown.  Ia ingin kami dapat segera kembali ke Indonesia.  In syaa Allah rombongan akan kembali ke Jakarta pada tanggal 15 Maret 2020 dari Kairo.  Alhamdulillah.  Saya senang sekali mendengar berita ini.  Mudahkanlah kepulangan kami ke Jakarta ya, Allah.  Lindungilah kami semua, jagalah agar kami semua tetap sehat, pinta saya padaNya.

Allah menjawab doa saya, kami terbang dari Kairo ke Jakarta via Muscat dengan aman dan nyaman.  Di pesawat saya bertemu dengan sesama warga Indonesia.  Ia bercerita bahwa ia terbang dari Jakarta tanggal 6 Maret dengan itinerary yang tidak jauh berbeda dengan rombongan saya.  Ia telah sampai di perbatasan Mesir dan Israel, menunggu proses masuk ke Israel saat Israel menutup perbatasan. 

“Gak bisa masuk Israel, padahal sudah geret-geret koper besar,” ujarnya. 

Alhamdulillah rombongan mereka dapat masuk ke Yordania dan menghabiskan waktu di Yordania hingga jadwal kepulangan ke Indonesia. 

Ia juga bercerita bahwa ada rombongan sebelumnya yang dapat masuk Israel namun harus menjalani karantina 14 hari di Israel dan saat ini belum bisa kembali ke Indonesia.  Selama mendengarkan cerita ibu tersebut, saya bersyukur dalam hati.  Menurut saya, apa yang Allah berikan pada saya adalah yang terbaik.  Rombongan ibu tersebut tetap pulang sesuai jadwal, tour mereka dianggap selesai walau tidak ke Masjidil Aqsha.  Sementara rombongan kami pulang lebih cepat.  In syaa Allah pihak travel agent akan mengusahakan rombongan kami untuk tetap dapat ke Al-Aqsha setelah wabah corona ini berlalu karena land arrangement yang telah kami bayarkan untuk di Yordania, Israel dan Palestina belum kami gunakan.  Semoga Allah mampukan kami semua untuk melanjutkan ziarah ini. 

Setelah mendarat di Jakarta, saya mengabarkan kedatangan saya di tanah air pada beberapa teman dan kerabat.  Saya kabarkan bahwa saya pulang lebih cepat karena kami tidak bisa masuk ke Israel dan tak jadi mengunjungi Masjidil Aqsha. 

Salah seorang berkata, “Ya. Allah.  Sayang banget, ya.” 

Saya jawab, “Alhamdulillah.  Ini adalah yang terbaik yang Allah berikan untuk saya saat ini.” 

Perjalanan kali ini tidak membawa saya sampai ke Al-Aqsha namun selama perjalanan ini Allah menunjukkan pada saya betapa lemahnya manusia, betapa tidak berdayanya saya.  Allah tunjukkan betapa Maha Pengasihnya Ia, betapa sayangnya Allah pada saya.  Allah tunjukkan kekuasaanNya, Allah yang Maha Mengatur, Allah yang Maha Melindungi.  Saya merasa Allah menjawab doa saya.  Bukan doa untuk dapat mengunjungi Masjidil Aqsha, tapi doa agar saya lebih dekat padaNya. 

Kadang-kadang kita meminta sesuatu yang menurut kita adalah jalan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, namun Allah Maha Tahu.  Allah memberikan yang terbaik bagi kita, selalu.  Andai saya bisa terus ingat ini, saya rasa saya akan selalu bahagia.  Semoga. 

Saat ini saya sedang mengisolasi diri di rumah selama 14 hari.  Menambah sepekan lagi cuti dari jadwal semula.  Saya yakin ini pasti juga yang terbaik.

Tadi pagi saya membuka WA group rombongan kami, ada pesan masuk dari travel agent di Mesir. 

Pesan itu ditulis dengan huruf tebal, bunyinya: Mesir akan stop semua flight dari sekarang sampai akhir Maret. 

Fabiayyi aalaai rabbikumaa tukadzdzibaan. 

Jakarta, 17 Maret 2020

Dian L Izwar

Catatan:  tulisan ini saya buat setahun yang lalu ketika baru kembali dari Cairo.  Hingga saat ini pandemi covid-19 masih belum berakhir.  Kami semua masih menantikan kesempatan untuk mengunjungi Al-Aqsha.  Semoga Allah mampukan kami untuk bisa shalat di Masjidil Aqsha pada waktu terbaik yang dipilihkanNya.  Aamiin.


“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

QS. Ar-Rahman ayat 13


 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *