Memahami Arti Ramadan
Hari ini adalah hari kedua puluh di bulan Ramadan 1442 H. Tak terasa Ramadan tahun ini hanya tinggal 10 hari lagi. Tiba-tiba saja terlintas di pikiran saya kata Ramadan berulang kali. Ramadan adalah nama bulan ke sembilan di penanggalan Hijriyah. Ramadan adalah nama bulan yang pada saat itu umat Islam diperintahkan berpuasa. Ramadan adalah bulan yang mulia. Pemahaman saya mengenai Ramadan hanya sebatas itu.
Saya penasaran, mengapa bulan ini dinamakan Ramadan. Apa arti sesungguhnya dari Ramadan? Maka perjalanan pencarian makna pun dimulai. Saya belajar bahwa pengetahuan dimulai dari sebuah nama. Bismillah, semoga rasa penasaran kali ini berbuah pengetahuan yang bermanfaat.
Saya awali pagi ini dengan browsing, menjelajah dunia maya dengan kata kunci ‘arti Ramadan’. Dari beberapa artikel yang saya baca, Ramadan adalah satu-satunya nama bulan yang disebut dalam Alquran. Alquran pertama kali diturunkan pada tanggal 17 Ramadan. Ini merupakan salah satu alasan mengapa bulan ini menjadi istimewa, ia juga disebut sebagai bulan Alquran.
“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Alquran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan petunjuk tersebut dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)… ” (QS. Al-Baqarah: 185).
Lalu, apa arti Ramadan? Ramadan berasal dari kata رمض yang dalam kamus Lanes-Lexicon berarti the earth or the ground and the stones became vehemently heated by the sun. Kalimat ini saya pahami sebagai tanah dan batu yang membara akibat terkena sinar matahari yang garang. Kata vehemently menunjukkan intensitas proses pemanasan yang tinggi.
Dalam kamus ini juga dikatakan bahwa orang yang berpuasa akan mengalami rasa panas di dalam tubuhnya sebagai akibat dahaga yang sangat. Secara fisiologis suhu tubuh seseorang memang dapat meningkat apabila ia mengalami dehidrasi. Sementara dalam kamus Hans Wehr, kata رمض selain bermakna kering dan terbakar (terutama pada tanah akibat panas yang berlebihan) juga diartikan to be consumed by grief and sorrow yang saya pahami sebagai berada dalam keadaan menderita.
Selanjutnya, kata رَمَضَانَ menurut Lanes-Lexicon adalah bulan kesembilan dalam bulan Arab. Dinamai Ramadan karena orang Arab memberi nama bulan berdasarkan dengan keadaan pada saat itu. Nama Ramadan sangat sesuai dengan keadaan cuaca yang amat panas. Pada bulan itu sinar matahari sangat menyengat. Di samping itu, Ramadan yang berarti terbakar oleh panas juga berkaitan dengan pembakaran dosa karena pada bulan ini Allah menghapus dosa-dosa hambaNya yang telah lalu.
“Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat, dan Ramadan ke Ramadan adalah penghapus dosa-dosa yang di antara semua itu, jika dosa-dosa besar dijauhi.” – HR. Muslim.
Saat memahami arti Ramadan dan asal katanya, saya membayangkan bahwa bulan suci ini memang dihadirkan untuk menempa manusia. Ibarat besi yang dipanaskan hingga menjadi lunak, lalu ditempa menjadi bentuk yang lebih baik. Proses yang terjadi selama bulan Ramadan sejatinya membuat seseorang menjadi pribadi baru di 1 Syawal.
Secara fisik Ramadan membuat tubuh mengatur kembali pola makan dan tidur. Mengistirahatkan sistem pencernaan selama kurun waktu yang cukup panjang membuat proses regenerasi sel dapat berlangsung dengan baik, keadaan ini juga meningkatkan imunitas tubuh.
Secara mental puasa Ramadan terbukti menurunkan stres, kecemasan dan depresi. Selama berpuasa, seseorang dihadapkan pada situasi fisik dan emosi yang sulit; tidak boleh makan, minum, berbohong dan melakukan hal-hal lain yang dapat merusak pahala puasa. Keberhasilan dalam mengatasi keadaan ini meningkatkan rasa percaya diri dan kemampuan untuk mengendalikan diri. Dua hal yang berdampak baik pada kesehatan mental. Bahkan puasa Ramadan juga dapat mengendalikan adiksi, misalnya kecanduan rokok. Banyak orang yang dapat menahan diri untuk tidak mengepulkan asap rokok selama berpuasa. Jika mereka meneruskan kebiasaan ini setelah Ramadan, insya Allah mereka akan terbebas dari adiksi rokok.
Secara sosial, Ramadan melatih kepekaan. Kewajiban membayar zakat dan maraknya kegiatan berbagi makan berbuka puasa membuat individu lebih memperhatikan sesama. Biasanya kegiatan berbuka puasa dan sahur dilakukan bersama-sama dalam satu keluarga. Kegiatan makan dan shalat umumnya dilakukan pada jam yang sama. Berangkat ke masjid untuk tarawih pun bersama-sama. Hal ini akan melatih disiplin dan toleransi, di samping mengembangkan kedekatan di antara individu yang terlibat. Kebiasaan berkata baik dan menahan amarah selama Ramadan juga membentuk kemampuan sosial yang baik apabila diteruskan menjadi sebuah kebiasaan.
Secara spritual sudah jelas bahwa Ramadan meningkatkan relasi dengan Sang Pencipta. Banyaknya shalat sunah dan kegiatan membaca Alquran merupakan sarana untuk makin mendekat pada sang Khalik. Itikaf adalah waktu untuk menikmati saat menyendiri bersama Yang Maha Pengasih, memohon ampunan dan hidayahNya. Bermuhasabah, menghisab diri sendiri. Merenungkan hal-hal baik dan buruk yang telah dilakukan. Mengenali kembali niat yang sesungguhnya pada setiap perbuatan. Membersihkan hati, melatih kalbu agar selalu menghadirkan Allah pada setiap tindakan.
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)
Dengan menghayati semua proses ini, bukankah insan yang melalui Ramadan dengan bersungguh-sungguh akan merasakan ‘panas’ yang melembutkan kalbu lalu mengelola dirinya menjadi pribadi yang lebih baik? Wallahu ‘alam.
Mutiara, 2 Mei 2021
Dian L Izwar
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa… “
QS. Al-Baqarah ayat 183

Maa syaa Allaah tabarokallaah… Jazakillaah
Alhamdulillah. Wa jazaakallahu khairan, Kang.