Sepasang Merpati

Kedatangan Mer di taman belakang mengundang hadirnya seekor merpati betina, Mir namanya.  Mir adalah dara putih dengan campuran bulu hitam.  Dia merpati cantik yang hendak dipasangkan dengan Mer.

Pada awal bertemu, Mir tampak tidak tertarik.  Ia tidak menanggapi rayuan kasmaran Mer.  Namun setelah beberapa lama hidup berdampingan, Mir akhirnya menerima Mer sebagai pasangan.  Sejak itu mereka hampir selalu terlihat berdua.  Kemana Mir terbang, Mer mengikuti.  Mereka makan bersama dan tidur bersisian.

Mer dan Mir juga saling membantu dalam menjaga kebersihan bulu-bulu mereka.  Merpati suka menelisik bulu dengan paruhnya.  Namun tentu saja paruh mereka tidak dapat menjangkau bagian belakang kepala.  Mer akan membersihkan bagian kepala Mir, begitu juga sebaliknya.  Mereka terlihat saling menyayangi, saling mengisi.

Setelah beberapa lama berpasangan, Mer mulai membawa ranting-ranting kering ke kandang.  Ya, Mer membuat sarang.  Rupanya Mir sudah hendak bertelur. Sesekali Mir ikut turun mencari ranting kering.  Ia menyusun ranting itu di dalam kandang sehingga membentuk sarang yang nyaman baginya.  Mir mengeser-geser kumpulan ranting dan daun kering dengan paruh dan kakinya lalu menghadirkan sebutir telur di tengah-tengah sarang yang telah terbentuk.

Keesokan harinya, sebutir telur lagi muncul di sarang.  Sang induk pun mulai mengeram.  Mir duduk di sarang sepanjang hari.  Ia baru meninggalkan sarang saat Mer datang untuk menggantikannya.

Mir dan Mer mengeram bergantian.  Yang satu akan menunggu yang lain datang sebelum meninggalkan sarang.  Ma syaa Allah.  Kerjasama yang sangat baik. Mer tahu kapan Mir butuh terbang untuk melemaskan sayap atau mengisi tembolok dan melepas dahaga, demikian pula sebaliknya.

Sekitar 18 hari setelah dierami, dua telur Mir menetas.  Induknya masih harus menemani piyik-piyik itu agar tetap hangat, juga memberi mereka makan.  Mer dan Mir bergantian meloloh anak-anak mereka.

Secara bergiliran Mer dan Mir berada di sarang hingga dua anak mereka mulai besar dan tak lagi harus dijaga kehangatan tubuhnya.  Di saat itu, mulailah kembali Mer dan Mir terlihat berduaan.  Mereka terbang berdekatan dan mencari makan bersama.  Merpati memang setia.  Tak heran jika mereka menjadi lambang cinta.

Melihat kebiasaan Mer dan Mir, saya teringat kasus-kasus pasangan di ruang konseling.  Hubungan mereka tak seindah kebersamaan Mer dan Mir.  Sering kali relasi mereka ditandai dengan tuntutan yang diiringi rasa kecewa karena harapan yang yang tak terpenuhi.

Bila pasangan saling menuntut, mereka cenderung merasa terpaksa dan akan sama-sama merasa “lelah”.  Akhirnya masing-masing menjadi tidak mampu atau tidak mau memenuhi tuntutan yang ada.  Hadirlah rasa kecewa yang semakin lama semakin dalam.  Semakin menuntut, semakin kecewa.  Semakin kecewa, semakin menuntut.  Sebuah lingkaran yang sebenarnya dapat diputus dengan menghadirkan keinginan untuk memberi karena sesungguhnya hakikat cinta adalah memberi.

Saat saling memberi, pasangan akan saling mengisi.  Kebutuhan keduanya terpenuhi tanpa ada yang merasa terpaksa melakukan sesuatu.  Keinginan untuk memberi bahkan menimbulkan rasa bahagia di hati sang pemberi.  Pribadi yang bahagia akan memancarkan aura positif.  Relasi di antara pasangan menjadi lebih hangat dan kuat.  Hidup pun terasa makin indah, in syaa Allah.

Semoga kita dapat menghadirkan keinginan untuk memberi dengan setulus hati.  Memberi yang terbaik untuk sesama dan terutama bagi pasangan hidup yang telah menjadi pendamping kita.  Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama?

Mutiara, 17 November 2023
Dian L Izwar


“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya”

(HR At-Tirmidzi)


 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *