Susu Kurma

“Bundaaa….!” seruan riang memenuhi ruang dengar.
Saya menyambut kehadiran mereka dengan hati berbunga.  Dikunjungi para keponakan itu menyenangkan. 

Dua kakak beradik berjalan memasuki rumah.  Mereka memiliki kamera baru dan sibuk mengambil foto.  Mulai dari kaki seribu yang ditemukan di luar pagar hingga suasana di dalam rumah.

“Ayo kita keluar, Bunda.  Kita foto di luar rumah,” ajak si Kakak yang disambut dengan bersemangat oleh adiknya.

Saya pun menurut.  Murid kelas satu SD itu sibuk mengatur kameranya.  Zoom-in, zoom out.  Pakai blitz dan tidak.  Termasuk mengatur timer di kamera agar ia bisa turut berfoto.  Saya menjadi model di luar rumah pada pukul satu siang.  Menyenangkan dan kegerahan.. hehehe…

“Keringatan,” si Kakak menunjukkan jilbabnya yang mulai basah.  Suhu udara di Jakarta akhir-akhir ini memang meningkat.  Hawa di luar terasa panas

“Ayo kita masuk,” ajak saya yang disetujui oleh mereka berdua.

“Bunda mau bikin susu kurma, Kakak mau?” tanya saya sesampainya kami di dalam rumah.

“Mau!” sahutnya dengan mata berbinar. 

Susu kurma adalah salah satu minuman kesukaan kami.  Bayangan kurma yang diblender dengan susu dan diberi es batu mengundang kesegaran di tengah cuaca panas ini.  Saya segera melangkah ke dapur.

Sesaat kemudian, gadis kecil kesayangan saya menyusul.

“Bunda, aku nggak jadi deh mau susu kurmanya.”

“Kenapa?” saya bertanya heran.  Tadi ia sangat antusias saat saya tawari minuman manis itu.

“Soalnya aku punya yogurt dan thai tea.  Aku sudah punya 2 minuman,” jelasnya.

Maa syaa Allah.  Rupanya gadis kecil ini ingat bahwa ia punya sebotol yogurt yang belum diminum dan ibunya juga sedang memesan minuman untuk kami semua.  Saat menawarinya susu kurma, saya tidak tahu mengenai minuman yang tengah dipesan itu.  Selang beberapa lama si adik memberikan segelas matcha latte pada saya. 

“Ini untuk Bunda,” ujarnya diiringi senyum manis.  Itu adalah minuman yang dipesan secara daring oleh ibunya.

Saya menerimanya dengan hati bahagia.  Teramat bahagia.  Bukan karena mendapat minuman dingin di cuaca panas tapi karena gadis kecil kami telah memahami arti cukup.  Maa syaa Allah.  Tabarakallah.  Ia menolak tawaran minuman yang disukainya karena telah mempunyai cukup minuman.

Awalnya ia antusias dengan tawaran susu kurma tetapi setelah menimbang beberapa saat, siswi kelas satu itu berubah pikiran.  Ia tidak mengambil semua.  Ia mengukur kebutuhannya.  Ia sadar tak akan sanggup menghabiskan ketiga jenis minuman itu.  Karena susu kurmanya belum dibuat, ia membatalkannya. 

Terima kasih, Sayang, telah mengingatkan Bunda untuk merasa cukup dengan apa yang kita punya.  Untuk selalu menimbang dan mengambil keputusan sesuai dengan kebutuhan.  Semoga Allah selalu membimbing kita menjadi hambaNya yang qanaah ya, Nak.  Aamiin.

Mutiara, 6 Mei 2023
Dian L Izwar


“Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup.”
HR. Bukhari & Muslim


 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *