Train Your Brain

Ahad lalu adalah hari kedua saya mengikuti The 4th International Intensive Course on Islamic Psychology (IICIP).  Salah satu sesi dibawakan oleh Dr. Mohammad Abo-Hilal, seorang psikiater dari Suriah.  Beliau banyak berkecimpung di bidang Mental Health Psychosocial Support (MHPSS) bagi masyarakat di daerah konflik.  Dalam tulisan ini saya tidak membahas mengenai materi yang beliau sampaikan tapi ada satu pertanyaan menarik dari sesi bersama Dr. Hilal siang itu.  

“Jika terjadi krisis, masyarakat akan merasakan dampaknya dalam 3 level: ringan, sedang, berat.  Menurut Anda berapa persen yang akan mengalami masalah mental dalam ketiga kategori tersebut?”  Demikian kurang lebih beliau mengajukan pertanyaan di bagian awal presentasinya.

Pertanyaan yang disampaikan dalam bahasa Inggris ini dijawab beragam oleh para peserta.  Banyak yang menuliskan prosentase tinggi untuk terjadinya masalah mental berat. 

Dr. Hilal tertawa kecil saat membaca jawaban yang masuk,  “Karena sering berinteraksi dengan orang yang memiliki masalah, kita berpikir banyak orang akan mengalami masalah.”  Demikian kira-kira yang dapat saya simpulkan dari komentar beliau.  “Padahal statistik menunjukkan hanya 10% yang akan mengalami masalah mental berat sementara 70% lainnya mengalami masalah mental ringan dan akan segera pulih dengan sendirinya,” lanjutnya seraya menayangkan data.

Tayangan data dan komentar beliau terhadap jawaban peserta ini menarik bagi saya.  Jika kita fokus pada masalah, kita akan merasa bahwa ada banyak masalah.  Padahal belum tentu demikian.

Saya ingat belasan tahun lalu saat baru menemani suami bertugas di sebuah puskesmas.  Saat itu saya merasa pusat kesehatan masyarakat ada di mana-mana, sesuatu yang tidak saya “lihat” sebelumnya.  Kenyataannya, puskesmas itu jumlahnya tetap saja.  Namun karena saya sedang fokus pada tugas baru suami di puskesmas, perhatian saya pada gedung yang berisi aktivitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat itu meningkat.  Tanpa disadari, otak saya selalu mencari plang nama puskesmas di sepanjang jalan yang saya lalui dan menemukannya!  Ini hukum alam.  Sesuatu yang menjadi pusat perhatian akan menguat dalam ingatan dan menarik hal-hal serupa ke dalam ranah atensi kita. 

Mengenai tarik menarik ini, saya pernah membaca kisah Buya Hamka.  Diceritakan bahwa seorang pemuda mendatangi ketua umum pertama Majelis Ulama Indonesia tersebut. 

“Subhanallah, Buya.  Sungguh saya tidak menyangka.  Ternyata di Mekah ada pelacur.  Kok bisa ya, Buya?” tanya pemuda tersebut.

H. Abdul Malik Karim Amrullah menjawab, “Oya? Saya baru saja pulang dari Los Angeles dan New York. Ma syaa Allah, di sana tidak ada pelacur.”

“Mana mungkin, Buya.  Di Mekah saja ada, di sana pasti lebih banyak,” sanggah  sang pemuda.

“Kita memang hanya akan dipertemukan dengan apa-apa yang kita cari,” jawab sang Ulama.

Apa yang kita cari menentukan apa yang akan kita temukan.  Saat kita mencari masalah, yang kita temukan adalah masalah.  Saat kita mencari anugerah, yang kita temukan adalah anugerah.  Penjelasan-penjelasan ini membuat saya makin memahami bahwa jika kita bersyukur, maka nikmat akan bertambah.   Saat perhatian fokus pada hal-hal yang kita syukuri, maka akan semakin tampak banyak hal yang perlu disyukuri sehingga kita merasakan semakin banyak kasih sayang Allah yang terlimpah pada kita. 

Untuk bisa merasakan limpahan kasih sayang ini, kita perlu melatih otak untuk memusatkan perhatian pada hal yang tepat.  Train Your Brain.  Fokus pada syukur akan menghasilkan lebih banyak rasa syukur.  Demikian pula sebaliknya.

Kita yang menentukan, pada apa perhatian akan kita arahkan.  Kita yang memilih, ke arah mana otak akan kita latih.  Sesuatu yang mendapat perhatian akan berkembang pesat dan menarik hal-hal serupa untuk mendekat.  Wallahu a’lam.

Mutiara, 9 November 2022

Dian L Izwar


(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras.”

QS. Ibrahim: 7


 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *