Ponsel dalam Genangan

Saya menunduk dan tiba-tiba ponsel saya meluncur menuju genangan air, tak sempat saya menangkapnya.  Benda yang telah dua tahun setia menemani itu melayang sebentar, lalu tenggelam.  Dengan panik saya berjongkok dan meraih gadget yang sudah basah kuyup.  Saya ingat pesan seorang teman untuk segera mematikan perangkat elektronik apa pun yang terkena air.  Air dapat menyebabkan hubungan pendek dalam sirkuit listrik dalam piranti tersebut dan bisa berakibat fatal. 

Saya tekan tombol power, tak ada reaksi.  Jantung saya berdetak cepat.  Saya berkejaran dengan waktu.  Jangan sampai air mengganggu sirkuit listrik di ponsel ini.  Saya tekan lagi, kali ini sedikit lebih lama.  Beberapa saat kemudian muncul pertanyaan di layar: apakah anda yakin akan mematikan perangkat? Ya! Saya menyentuh pilihan yang tertera namun ponsel saya tidak bereaksi apa pun.  Saya lupa kalau layarnya masih basah, sentuhan saya tak dapat diolahnya.  Saya lap layar telepon pintar itu menggunakan jilbab, sarana pengering terdekat yang ada saat itu.  😊

Alhamdulillah, akhirnya ponsel saya bisa mati.  Saya menarik nafas lega.  Saya keringkan seluruh permukaan yang tampak.  Setelah mengeluarkan kartu SIM saya sandarkan gawai yang sudah tampak kering itu dengan posisi berdiri, bagian baterai berada di bawah.  Logika saya, dengan posisi tersebut air akan turun ke satu arah dan tidak menggenangi mainboard.     

Beberapa saat saya memandangi ponsel dalam posisi tersebut.  Hati saya merasa seperti ada yang kurang,  rasanya ada langkah lain yang harus saya lakukan.  Ya, saya perlu membuka casing untuk memastikan tak ada air lagi di bagian dalam.  Ponsel saya menggunakan baterai tanam, bagaimana cara membuka casingnya?  Saya mengamati bagian samping dan belakang telepon pintar itu namun tak menemukan petunjuk bagaimana cara membukanya.  Saya mulai stres.  Saya sedang berpacu dengan waktu.  Semakin lama saya biarkan bagian dalam ponsel ini dalam keadaan basah, semakin besar risiko terjadinya hal yang tidak diinginkan.  Saya berharap telepon genggam kesayangan saya dapat berfungsi kembali dengan baik.  Banyak catatan penting tersimpan di dalamnya.

Di tengah kepanikan, saya menghidupkan laptop.  Saya menjelajah di dunia maya. “Cara membuka casing hp XXX” demikian saya mengetik seri ponsel saya.  Dalam hitungan detik tampil banyak pilihan.  Tiga menit kemudian saya telah berhasil membuka casing ponsel berdasarkan panduan yang saya peroleh.  Alhamdulillah, saya menarik nafas lega.  Saya keringkan bagian dalam ponsel menggunakan tisu handuk.  Saya memilih jenis tisu ini untuk meminimalkan risiko tertinggalnya bagian kecil dari tisu di bagian dalam ponsel.  Saya tidak menggunakan tisu wajah atau jenis tisu lain yang mudah hancur terkena air.

Setelah tidak ada lagi bagian yang tampak basah, saya posisikan ponsel dalam keadaan berdiri seperti sebelumnya.  Kemudian saya berselancar lagi di dunia maya, kali ini dengan kata kunci: tips mengatasi hp terkena air.  Banyak pilihan yang disarankan.  Saya memilih menggunakan kipas angin untuk mengeringkan bagian dalam dari ponsel.  Dalam pertimbangan saya, cara ini cukup efektif untuk menghilangkan air dan risikonya paling minimal. 

Cara lain yang dianjurkan adalah merendam ponsel di dalam beras.  Beras dikatakan dapat menyerap kelembaban yang ada di ponsel.  Saya tidak memilih cara ini karena ada risiko debu halus yang ada di beras akan masuk ke dalam bagian ponsel yang terbuka.  Disarankan juga untuk menggunakan silika gel.  Saya tidak punya silika gel. 😊

Saya tidak memilih penggunaan pengering rambut karena panas yang dihasilkan dapat merusak bagian-bagian kecil di dalam ponsel.  Demikian pula dengan menjemur di bawah sinar matahari.  Paparan panas dapat membuat bagian-bagian tertentu dari mainboard meleleh. 

Hasil jelajah saya mengenai tips mengeringkan ponsel yang terkena air menyimpulkan bahwa ponsel hanya boleh dihidupkan kembali saat benar-benar sudah kering.  Nah, bagaimana cara memastikannya?  Ini yang sulit.  Patokan waktu yang disarankan untuk mengeringkan adalah 24 – 48 jam.  Minimal 24 jam.  Saya ambil yang paling lama, saya memasang kipas angin selama 24 jam di depan ponsel.  Dalam 24 jam berikutnya kipas kadang-kadang saya matikan beberapa saat.  Menjaga agar si kipas tidak “kelelahan” karena bekerja sepanjang waktu.  Setelah itu ponsel saya biarkan selama dua hari lagi di suhu ruangan tanpa AC, berharap agar ia kering sempurna.  Alhamdulillah selama 4 hari itu tidak ada hal penting yang mengharuskan saya menghidupkan gawai itu.  Agar dapat tetap berkomunikasi, kartu SIMnya telah saya pindahkan ke perangkat yang lain.  Pada hari ke-5 saya menghidupkan ponsel yang pernah basah itu.  Ada catatan penting yang harus saya lihat di sana.  Bismillah.  Saya tekan tombol power dengan hati penuh harap dan sedikit cemas.  Detik-detik menunggu ia hidup membuat saya menahan nafas.  Alhamdulillah.  Semua kembali berfungsi dengan baik.  Saya menarik nafas lega.  Sungguh Allah Maha Baik.

Saat memandang ponsel yang telah kembali aktif seperti semula, saya ingat kejadian 12 tahun yang lalu. Saya pernah mengalami kejadian serupa, ponsel saya meluncur manis ke dalam genangan air.  Yang berbeda adalah saya tidak mengeringkannya dengan maksimal.  Setelah melepas baterai dan tempat kartu SIM, saya mengelap semua bagian dengan handuk lalu membiarkannya selama beberapa jam.  Saya berpikir (waktu itu) semuanya sudah kering.  Waktu saya tekan tombol power, gawai itu hidup sebentar kemudian mati total dan tak bisa hidup lagi.  Saya harus merelakan semua data yang tersimpan di dalamnya. 

Kedua pengalaman ini mengingatkan saya akan pentingnya ilmu.  Segala sesuatu ada ilmunya.  Pada sebuah kajian seorang ustadz pernah berkata: masalah itu sebenarnya tidak ada, sesuatu menjadi masalah karena kita belum tahu ilmunya.  Saya setuju dengan pendapat beliau.  Ilmu adalah kunci untuk mengatasi setiap tantangan yang kita hadapi dalam hidup ini.  Bukankah ayat pertama yang diturunkan Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw adalah perintah untuk belajar?  Wallahu a’lam.

Mutiara, 18 Desember 2020

Dian L Izwar


“Barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia hendaklah dengan ilmu dan barang siapa yang menginginkan (kebahagiaan) akhirat hendaklah dengan ilmu.” 

(Imam Syafi’i)


 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *