Menjadi Ibu

“Cari baby sitter yang bagus di mana ya, Tan?” wanita muda itu bertanya.  Ia memanggil saya Tante karena memang usia saya lebih muda dari ibunya.

“Rencananya nanti gimana setelah lahiran?” Saya balik bertanya.

“Ya balik kerjalah, Tan.  Makanya mau cari baby sitter.  Kalau ART biasa kayaknya aku kurang percaya.  Mama kan nggak mungkin juga ngurusin bayi.  Paling nanti bantu liatin aja.”  Ia menerangkan rencananya.

“Nggak ada pilihan lain?”

“Maksudnya, Tan?”

“Apa memang harus kerja kantoran lagi setelah punya bayi?”

Calon ibu yang tengah hamil besar itu terdiam sejenak.  Saya tidak tahu apa yang dipikirkannya.  Karirnya memang sedang menanjak.  Lulusan S2 dari universitas terkemuka di Indonesia ini sedang menikmati dunia kerja.  Pekerjaan membawanya berkeliling Indonesia.  Menjelajahi negeri sambil bekerja merupakan hal yang sangat menyenangkan, mengunjungi berbagai kota dan menikmati kekhasan masing-masing daerah membuat dunianya makin berwarna.  Ia pernah bercerita mengenai hal ini pada saya.

“Eh, kalau nggak kerja.   Berarti di rumah aja?”

“Iya.  Jadi ibu.”  Saya sengaja menekankan kata ibu. 

Sebagian masyarakat merasa bahwa menjadi ibu bukanlah pilihan.  Seakan-akan ia menjadi sebuah peran yang terjadi begitu saja pada saat seorang wanita melahirkan.  Padahal peran ibu tidak hanya terkait pada proses kelahiran tetapi juga pengasuhan.  Menjadi ibu adalah sebuah anugerah sekaligus tanggung jawab.  Anak adalah amanah sehingga tugas utama seorang ibu setelah melahirkan adalah membesarkan anaknya.  Dengan demikian pekerjaan utama seorang wanita yang telah menjadi ibu sejatinya adalah mengasuh dan mendidik sang buah hati.  Sesuatu yang akan lebih sulit dilakukan dengan optimal apabila sang ibu juga mempunyai tanggung jawab lain di luar rumah.

“Nanti nggak punya uang jajan dong…”  Wanita muda itu berkata sambil tertawa. 

Menghasilkan uang merupakan salah satu alasan bagi seorang wanita untuk bekerja di luar rumah.  Beberapa istri merasa lebih memiliki kendali apabila mempunyai uang sendiri.  “Beda aja sama uang dari suami,” ujar mereka.  Alasan lain untuk bekerja adalah mengamalkan ilmu dan aktualisasi diri.  Berada di kantor membuat beberapa wanita merasa lebih dihargai.  Beberapa juga menjadi lebih percaya diri dengan predikat wanita karir yang tersandang di bahunya.  Di samping itu, berkarir di luar rumah juga dipandang sebagai sarana untuk dapat menerapkan ilmu yang telah dipelajari semasa kuliah.  Semua alasan ini sah saja.  Yang menjadi pertimbangan adalah prioritas.  Mana yang lebih penting, mengejar karir atau tumbuh kembang sang buah hati. 

“Coba dihitung.  Berapa yang kamu dapat dan berapa yang harus kamu keluarkan untuk membayar baby sitter dll..”  Saya berusaha mengikuti cara berpikirnya.

“Baby sitter… bensin.. makan siang…”  Ia mulai menghitung.

“Nggak signifikan sisanya…. Hahaha…” Tawa renyah mengiringi hasil perhitungan anggaran yang dilakukannya.

“Nah.. kalau kita bicara rupiah.  Worth it nggak?  Kamu akan kehilangan momen bareng bayimu lho.  Bisa jadi kamu nggak akan lihat kapan dia mulai bisa duduk atau jalan, apa kata pertama yang diucapkannya..”

“Iya, sih.”

“Apa kamu juga yakin, baby sitter akan menyayangi, mengasuh dan memberikan stimulasi sebaik kamu?  Lima tahun pertama masa tumbuh kembang anak akan sangat berpengaruh dalam hidupnya.  Dan masa ini nggak bisa diulang.  Apa yang dialaminya pada 5 tahun pertama ini sangat penting bagi kesejahteraan fisik, mental dan spiritualnya di masa dewasa.”

“Iya, sih.  Aku juga pernah dengar itu.”

“Pikirkan lagi.  Mana yang saat ini menjadi prioritas.  Mumpung masih bisa milih dan masih ada waktu,”  ujar saya mengakhiri pembicaraan kami, memberikan ruang bagi wanita usia dua puluh tahunan itu untuk merenung.    Percakapan ini terjadi sekitar 4 tahun yang lalu.

Kemarin, saat dengung perayaan Hari Ibu mulai terdengar, saya teringat pada ibu muda ini.  Saya tahu akhirnya ia memutuskan untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga, mengasuh sang buah hati.  Saya pernah bertemu putri kecilnya yang saat ini berusia empat tahun.  Ia seorang gadis kecil yang sehat, pintar dan cantik.  Sebagai psikolog, saya melihat ia adalah anak yang ceria dengan perkembangan fisik dan mental yang sesuai dengan usianya.  Saya ingin tahu bagaimana sang ibu melewati masa-masa transisi dari wanita karir menjadi ibu rumah tangga, jadi saya menanyakannya.

“Kalau diinget-inget, dulu terasa berat pas awal berhenti kerja.  Aktivitas jadi berubah drastis.  Kadang kangen ngantor dan ketemu teman-teman.  Terus kadang suka sebel kalau mau belanja apa-apa harus ngomong dulu sama suami.  Lihat teman-teman lanjut S3 juga kayaknya jadi kepengen.  Tapi sekarang udah nemu nyamannya, Tan.  Sudah santai.”

Alhamdulillah.  Saya turut senang mendengar ia kini telah mulai dapat menikmati peran sebagai ibu rumah tangga.  Perubahan tentu membutuhkan adaptasi.  Stres di masa awal perubahan adalah hal yang umum terjadi.  Alhamdulillah ia telah dapat melewati masa itu.

“Menyesal nggak dengan keputusan 4 tahun yang lalu?” pancing saya.

“Alhamdulillah.  Nggak, Tan.  Masih happy sejauh ini.  Paling kalau bosan ya, go food atau jalan-jalan.. hahaha..”

“Jadi pilihan yang tepat kah untuk jadi ibu buat si kecil aja saat ini?”

“Supaya nyaman di hati, inget ke tujuan awal aja, Tan.  Untuk ibadah.  Harus diinget-inget terus ini.  Kalau pas lupa bisa jadi stres sendiri… hahaha.”  Ia mengungkapkan kalimat kunci yang membuatnya nyaman dengan pilihan yang telah diambilnya.  Ma syaa Allah.  Ini adalah sebuah sandaran yang kuat.  Semoga Allah senantiasa merahmatinya.

Seperti peran-peran yang lain, menjadi ibu juga memiliki tantangan tersendiri.  Bayi yang 24 jam tergantung pada ibu terkadang membuat ibu tak bisa punya waktu untuk dirinya.  Terkadang hari terasa berlalu tanpa sesuatu yang berarti.  Namun lihatlah binar di mata bening yang menatap penuh cinta.  Dengarlah derai tawa dari mulut mungilnya.  Pandanglah tingkah jenaka mereka.  Anak-anak yang bahagia karena ibunya selalu ada.   Seorang anak membutuhkan cinta, penerimaan dan pengakuan dalam masa tumbuh kembangnya.  Siapa yang dapat memberikan semua itu lebih baik dari ibu? 

Semoga Allah selalu membimbing kita dalam memberikan yang terbaik bagi sang buah hati.  Generasi mulia yang akan meneruskan kebaikan orang tuanya.  Generasi penerus bangsa. 

Selamat Hari Ibu.

Mutiara, 22 Desember 2021

Dian L Izwar


“Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna.  Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut.  Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya.  Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (menderita) karena anaknya….”

QS. Al-Baqarah ayat 233.


Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *