Meramu Kata
Saya baru saja menonton sebuah serial di televisi. Judulnya ‘Kurulus: Osman’. Pada episode ini, Bala Hatun yang terluka ditolong oleh seorang wanita tua bernama Elf Hatun. Wanita yang tinggal sendiri di dalam gua itu berusaha sebaik mungkin merawat luka akibat tusukan pedang di perut Bala.
Ketika wanita pemberani yang jago mengayun pedang itu siuman, Elf menyuapinya. Saat mereka berbicara, Bala menangkap ada sesuatu yang disembunyikan oleh Elf. Bala bertanya apa yang terjadi pada lukanya karena kakinya terasa kebas.
Elf Hatun mengatakan bahwa ada luka yang meninggalkan bekas di kulit dan ada juga luka yang meninggalkan bekas di jiwa.
“Lukamu adalah luka yang meninggalkan bekas di jiwa,” ujar Elf Hatun
Bala memintanya untuk bicara lebih jelas.
Elf bekata, “Kamu adalah wanita pejuang, bukan takdirmu mengurus bayi.”
Air mata Bala menggenang.
Elf melanjutkan ucapannya, “Namun jika Allah berkendak, wanita usia 90 tahun pun bisa punya anak. Mungkin pula wanita yang rahimnya terluka akan punya anak, aku tidak tahu.”
Saat melihat adegan ini saya teringat cerita seorang teman yang menunggu-nunggu kabar namun tak kunjung datang. Ternyata kabar yang ditunggunya adalah kabar yang tidak menyenangkan dan orang yang harus menyampaikan kabar tersebut memilih untuk menghilang dari pada harus menyampaikan kabar buruk. Padahal pilihan ini malah membuat teman saya menjadi lebih tidak nyaman. Ia kehilangan kesempatan untuk melakukan mitigasi karena lambatnya berita tersebut sampai padanya.
Dalam adegan tadi Elf juga harus menyampaikan kabar buruk tapi ia tidak menghilang atau berbohong. Ia mengungkapkan kebenaran dengan merangkai kata yang lebih enak didengar. Kalimat “kamu adalah wanita pejuang, bukan takdirmu mengurus bayi” dipilihnya untuk menyampaikan pesan: “Rahimmu terluka dan karenanya besar kemungkinan kamu tidak akan bisa mengandung bayi.” Meskipun kalimat pertama tetap menimbulkan kesedihan di hati Bala, tetapi nada kalimatnya tidak sekeras kalimat kedua.
Intinya, kita tetap dapat menyampaikan sebuah berita yang kurang menyenangkan dengan pilihan kata yang lebih baik. Tipsnya adalah mencari kekuatan dari si penerima pesan dan sedapat mungkin mengaitkan kekuatan ini dengan kabar yang ingin disampaikan agar ia mempunyai daya lenting dalam menghadapi berita buruk tersebut. Upayakan agar kata-kata yang dipilih dapat membuat si penerima pesan menyadari kekuatan lain dari dirinya. Kekuatan yang akan membantunya bangkit dari situasi tidak nyaman akibat kabar yang diterimanya. Terakhir, selalu sampaikan bahwa segalanya mudah jika Allah berkehendak. Selalu ada harapan. Harapan membawa seseorang untuk bangkit dan berjuang. Wallahua’lam.
Mutiara, 28 Agustus 2021
Dian L Izwar
“Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata, dan lidah dan sepasang bibir? Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan).”
QS. Al-Balad 8-10
