PIlihan

Siang itu perbincangan ringan dengan beberapa sahabat melalui media sosial bergerak ke arah diskusi yang agak berat.  Awalnya kami hanya mengobrol tentang busana dan mengenang pilihan busana para junior kami sewaktu mereka masih balita.  Ada masa mereka menyenangi kostum tertentu sehingga mereka ingin selalu mengenakan baju itu.  Akibatnya ada yang pergi ke pesta dengan kostum ibu peri lengkap dengan tongkatnya. Ada pula yang memakai seragam tentara dengan helm dan senjata laras panjang kemana-mana.  Kami tertawa mengenang masa-masa itu, saat ini beberapa dari mereka sebentar lagi akan menjadi mahasiswa.

Diskusi menjadi lebih berat saat seorang sahabat mengungkap cerita kerabatnya yang berusia 15 tahun bersikukuh menunggu ibunya pulang untuk memilihkan baju yang akan dikenakannya.  Padahal ia sudah ditunggu oleh keluarga untuk acara nonton film bersama di bioskop dan si ibu masih berada di tempat kerja.  Sang ayah yang saat itu berada di rumah gagal membujuk putrinya.  Hingga dimarahi pun sang anak tetap ngotot menunggu ibunya pulang untuk memilihkan baju untuknya.  Semanja itukah remaja putri ini pada ibunya? 

Usut punya usut tenyata si anak bersikeras hanya ingin mengenakan baju pilihan ibunya karena di mata sang ibu ia tidak pernah bisa memilih baju yang tepat.  Setiap kali ia mengenakan baju pilihannya sendiri, si ibu akan memperlihatkan wajah tidak suka.  Dia juga lelah mendengar komentar sang ibu mengenai pilihan bajunya yang tidak cocok, kurang serasi dan beragam komentar lain selama berhari-hari.  Proses pembelajarannya selama 15 tahun membuat ia sampai pada kesimpulan: jika akan pergi bersama ibu atau untuk acara bersama keluarga biarkan ibu yang memilihkan baju.  Dengan cara ini ibunya senang dan ia pun tak harus mendengarkan omelan panjang, aman.

Keputusan ini menjadi masalah saat ia harus memilih baju sementara sang ibu tak ada di sampingnya.  Ia tidak mempunyai keberanian untuk menentukan pilihannya sendiri.  Si anak telah kehilangan otonominya dalam mengambil keputusan, sebuah hal penting dalam perjalanan menuju kemandirian.

Sejatinya tugas kita sebagai orang tua hanya dua, yaitu mengenalkan anak dengan Sang Pencipta dan melatihnya untuk menjadi mandiri.  Kemandirian merupakan hal esensi dalam pendidikan anak karena tidak selamanya kita akan berada di samping mereka.  Mereka harus bisa memecahkan masalah dan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan mereka sendiri. 

Melatih kemandirian bisa dimulai dari hal yang sederhana.  Intinya adalah membiarkan mereka memilih dan menghargai pilihan yang mereka ambil.  Memberi kebebasan untuk menentukan baju yang akan dikenakan sesudah mandi merupakan latihan yang bisa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. 

Buah hati saya sudah memilih bajunya sendiri sedari kecil.  Awalnya saya memberi dua pilihan,  “Kakak mau pakai baju yang merah atau yang kuning?” 

Ia akan memilih.  Entah dengan pertimbangan apa.  Yang penting ia telah berlatih membuat pilihan, belajar mengambil keputusan.

Lama-lama saya menggunakan pertanyaan terbuka, “Kakak mau pakai baju apa?”  Lalu ia mulai membongkar lemari pakaian.  Ya, tentu ada konsekuensi dari proses belajar ini.  Lemari pakaiannya menjadi berantakan setelah ia memilih baju.  Kemudian kami sama-sama merapikannya.  Ia pun belajar bahwa lemari yang rapi lebih enak dipandang dan baju jadi lebih mudah terlihat dalam lipatan yang rapi.

Sejak usia 3 tahun ia telah memilih sendiri baju yang akan dikenakannya.  Pernah ia sangat suka dengan  sebuah baju kaos bergambar mobil sehingga selama beberapa hari ia selalu mengenakan baju itu.  Pakai, cuci, kering, pakai lagi.   Dalam beberapa kasus ada orang tua yang bosan melihat anaknya mengenakan baju yang sama sepanjang pekan atau merasa malu karena terkesan si anak hanya punya baju itu saja.  Di sisi lain, proses ini penting dalam pembentukan rasa percaya diri anak.  Saat kita menghargai pilihannya ia menjadi lebih yakin untuk mengambil keputusan berdasarkan pertimbangannya sendiri di masa yang akan datang.  Penghargaan terhadap pilihan akan memupuk rasa percaya dirinya.

Ada masanya gadis kecil saya sangat menyenangi warna pink.  Pada waktu memilih busana untuk menghadiri sebuah resepsi ia ingin mengenakan baju panjangnya yang berwarna putih dengan taburan bunga berwarna merah muda.  Ia memang tampak manis dengan gaun itu. 

“Kakak mau pakai baju pink ini, Bunda.”

Saya mengangguk.

“Bunda juga.  Kita semua pakai baju pink aja.”

Saya kembali mengangguk sambil berpikir keras baju apa yang akan dikenakan oleh suami saya karena kami akan pergi bertiga.

Ia kemudian memilihkan jilbab pink untuk saya kenakan.  Ini adalah momentum untuk mengenalkannya pada gradasi warna.  Saya ambil beberapa jilbab bewarna merah muda lalu memintanya untuk memilih yang paling dekat warnanya dengan baju yang akan saya kenakan.  Ia memilih dengan tepat.  Allhamdulillah, kepekaannya terhadap warna mulai terasah.   Dan saya juga bersyukur karena suami saya memiliki batik dengan warna senada sehingga dapat mewujudkan keinginan gadis kecil kami untuk mengenakan busana kembar warna.  Jadilah kami keluarga pink di pesta itu 😊.  Tak masalah selama saya dapat melihat binar bahagia di bening bola mata si cantik kami.

Dalam perjalanan pilihan busananya, pernah juga gadis kecil saya mengenakan atasan polkadot dan celana panjang garis-garis.  Saya tersenyum dalam hati melihat pilihan bajunya.  Saat itu ia baru tahu konsep serasi dalam warna.  Jadi pilihannya benar, karena atasannya berwarna merah dan putih, bawahannya juga.  Ia belum memiliki pengetahuan mengenai pola.  Jadi saya biarkan saja seharian ia mengenakan baju itu.  Setelahnya baru saya berdiskusi mengenai motif busana.  Saat kami sama-sama melipat pakaian yang baru diambil dari jemuran saya terkadang bicara mengenai konsep keserasian dalam berpakaian.  Memperluas wawasannya dalam mempertimbangkan sesuatu.

Setiap pendidikan membutuhkan waktu.  Sebagai orang tua kita bisa saja memutuskan segala sesuatunya untuk si buah hati, mereka tinggal menjalani.  Namun kita juga bisa berproses bersamanya.  Membebaskan si kecil bereksplorasi dan membuat pilihan, menemani perjalanan tumbuh kembangnya menjadi pribadi mandiri.  In syaa Allah.

Mutiara, 8 Maret 2021

Dian L Izwar


 “Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki.  Barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak.  Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat”

QS.Al-Baqarah ayat 269


 

 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *