Melahirkan Pemuda

Kita sebut saja dia Muda, karena ia memang masih muda.  Lulusan SMK ini bekerja membantu Ayah saya menggembala.  Tugas utamanya adalah menyediakan rumput bagi sapi-sapi yang ada.  Ia adalah pekerja termuda di kebun Ayah.

Yang menarik dari Muda adalah karakter dan tanggung jawabnya.  Muda terkenal sebagai orang yang menepati janji. Penduduk desa tahu mengenai hal itu.  Apabila pemuda ini berkata iya, maka kita dapat percaya bahwa itulah yang akan dikerjakannya.  Integritasnya yang telah dikenal luas inilah yang membuat Ayah mengajaknya bekerja di kebun kami.

Meski rajin bekerja, Muda juga menyediakan waktu untuk melakukan hobi berburunya.  Jika pada hari Ahad ada jadwal berburu babi di hutan sekitar kebun, ia akan turut serta.  Namun ia tak melupakan tugasnya.  Sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap ketersediaan pakan sapi, maka pada hari Sabtu Muda akan menyiapkan rumput ekstra bagi sapi-sapi tersebut.  Meskipun hari Ahad ia tak muncul di kandang, rumput untuk sapi telah tersedia.  Itulah kelebihan Muda, ia bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.  Ia juga anak yang santun.  Setiap kali berpapasan, ia akan tersenyum dan menyapa.  Selain sapaan ramah, “Bu..” ia tak lagi banyak bicara, kecuali kalau saya mengajaknya berbincang.

Melihat sosok Muda, saya teringat pada  salah seorang penggiat parenting, Adriano Rusfi.  Bang Aad, demikian saya menyapa beliau, menyampaikan bahwa sudah saatnya pengasuhan kembali melahirkan para pemuda, yaitu seorang yang telah aqil baligh, dewasa dari segi fisik dan akal.  Saat ini banyak kita temui fenomena ketidakselarasan perkembangan aqil dan baligh pada anak.  Mereka telah dewasa secara fisik (baligh) namun belum dewasa secara akal (aqil).  Keadaan ini tergambar dalam perilaku-perilaku remaja yang galau.  Sumber daya fisik mereka yang luar biasa tak dapat dimanfaatkan secara optimal karena pola pikir yang masih kekanak-kanakan.

Salah satu penyebab kurang terasahnya aqil pada anak adalah sikap orang tua yang tidak membiarkan anak untuk mengatasi masalahnya sendiri dan sangat memanjakan sang buah hati. Sebagian orang tua terlalu “menyayangi” anak hingga tak tega melihat mereka “kesusahan” sedikit saja.   Misalnya ada orang tua yang sama sekali tidak melibatkan anak-anak dalam pekerjaan rutin di rumah  karena menganggap itu adalah tugas asisten rumah tangga.  Saat bisa menghadirkan asisten, mengapa harus menyuruh anak bersusah payah mencuci piring?  Padahal penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang terbiasa mengerjakan pekerjaan sehari-hari di rumah cenderung menjadi pribadi yang lebih sukses pada saat mereka dewasa.  Mereka memiliki rasa empati yang lebih baik, terbiasa mengatur waktu, terlatih untuk bertanggung jawab dan lebih mudah bekerja sama dengan orang lain.

Saya mengenal orang tua yang memberikan tugas rumah tangga pada anak-anaknya.  Sang anak boleh memilih apakah akan mencuci piring sehabis makan, menyapu rumah, menyiram tanaman atau tugas lainnya.  Di samping melatih tanggung jawab, tugas-tugas ini juga membuat anak memahami bahwa setiap anggota perlu memberikan kontribusi dalam sebuah keluarga.   Semua orang perlu mengambil peran aktif untuk mendukung kesejahteraan bersama.  Sikap mental ini akan jauh berbeda dengan anak-anak yang selalu diladeni asisten rumah tangga atau orang tua, mereka terlatih untuk dilayani bukan berkontribusi.

Anak-anak yang tumbuh dengan sikap mental ingin berkontribusi pada keluarga in syaa Allah kelak juga akan mengembangkan sikap yang sama pada saat ia berada dalam sebuah perusahaan, komunitas, masyarakat, negara bahkan dunia.  Mereka akan menggali potensi yang dapat mereka sumbangkan pada lingkungan.  Orientasinya adalah memberi, bukan meminta.  Hal ini akan membuat mereka tampil menonjol, lebih disukai dan mudah mendapat promosi.  Sebagai warga negara atau pemegang tampuk pemerintahan, mereka akan bertanya “apa yang dapat saya berikan pada negara” dan bukan sebaliknya.

Semoga ikhtiar pengasuhan kita untuk menyelaraskan perkembangan aqil dan baligh pada anak dapat melahirkan pemuda-pemuda yang diinginkan oleh Bung Karno untuk mengguncang dunia.  Wallahu a’lam.

Selamat memperingati hari Sumpah Pemuda.

Bukittinggi, 28 Oktober 2021
Dian L Izwar


“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”

(HR Ath-Thabrani)


Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *