Bunda Salah Lagi
“Ini buku baru Bunda?” suara jernih bertanya antusias saat menemukan sebuah buku di atas meja kerja.
Saya mengangguk sambil tersenyum. Buku antologi cerpen itu memang baru tiba.
“Buku Bunda…” Jemari kecil terjulur meraih lembaran berjilid itu. Saya memperhatikan dengan hati gembira. Gadis kecil saya selalu antusias pada buku. Ia duduk dan mulai membalik lembar demi lembar.
“Dia berdoa,” ujarnya saat menemukan gambar wanita mengangkat tangannya di bagian lustrasi buku. Lalu ia kembali ke halaman depan, hanya figur orang berdoa yang bisa ia “baca”. Antologi cerpen itu tak banyak gambarnya.
Saat ia mengamati sampul bagian belakang, saya bertanya. “Kakak bisa nemu nama Bunda nggak di sana?”
Dengan serius bidadari saya mulai mencari. Matanya menelusuri deretan nama yang tertera. Saya menunggu, tak menyangka gadis lima tahun itu akan butuh waktu lama untuk menemukan nama saya. Apakah karena semua kata ditulis dengan huruf kapital? Gadis kecil saya sudah kenal huruf besar dan kecil, seharusnya tidak ada masalah.
“Ketemu?” tanya saya setelah beberapa menit berlalu.
Si cantik diam saja, matanya masih menatap deretan nama di hadapannya.
Saya menunggu lagi. Memberinya waktu untuk mencari.
“Nama Bunda huruf depannya apa?” pancing saya.
Ragu-ragu ia menunjuk sebuah kata. BURHANUDIN.
Astagfirullah, saya baru menyadari bahwa saya kembali melakukan kesalahan. Rupanya sedari tadi ia mencari kata BUNDA. Ia sudah hafal huruf penyusun kata itu tapi tak menemukannya di buku. Ia terus mencari karena yakin kata itu ada. Saya memintanya untuk mencari, jadi pasti ada. Dia percaya pada saya. Dia anak yang patuh. Duh, maafkan Bunda, Nak. Terbayang gelisahnya ia, mencari sesuatu yang tak ada atas perintah Bundanya.
Saya duduk di sebelahnya. “Kakak tadi cari yang tulisannya B-U-N-D-A ya?” Tanya saya sambil mengeja.
Gadis mungil saya mengangguk.
“Maaf ya, Kak. Maksud Bunda tadi nama panjang Bunda. Siapa?”
“Dian L Izwar” Ia menjawab dengan mantap
“Pintar, kalau Dian huruf depannya apa?”
“D”
“Ada nggak di sana?”
“Ini.” Dengan mata berbinar ia menunjuk nama saya secepat ia menyebutkannya. That’s my girl! Saya memberinya kecupan sayang sekaligus maaf karena telah menempatkannya pada situasi tak nyaman.
“Pintar, Kakak. Ada nama panjang Bunda di buku ini, ya?”
“Ada,” jawabnya antusias
“Jadi kalau di buku Bunda, nama Bunda ditulisnya apa, Kak?”
“Dian L Izwar” Ia menjawab bangga, “nanti buku-buku Bunda kita taruh di perpustakaan ya,” lanjutnya.
“Siap,” saya menjawab sambil mengangkat tangan membentuk sikap hormat. Kami pun tertawa.
Sebagai orang tua, terkadang tanpa sengaja kita menempatkan ananda pada situasi yang sulit. Kita meminta mereka mencari yang tidak ada atau serta merta melabel mereka tak bisa karena lamanya mereka berespon. Padahal bisa saja kita yang terlalu berharap atau malah salah memberi perintah. Seringkali kita berorientasi pada hasil, padahal upaya yang telah mereka lakukan jauh lebih berharga. Wallahu a’lam.
Mutiara, 20 Mei 2021
Dian L Izwar
“Maklumi dunia (kebutuhan) anak kecil.”
(HR. Bukhari & Muslim)
