Kemandirian

“Group ortu rusuh banget, anak-anaknya lagi baksos, terus ortu minta update terus kondisi dan foto-foto anaknya..” tulis seorang sahabat di sebuah grup media sosial.

Saya membaca ulang unggahan itu. Saya tahu anaknya baru saja diterima di sebuah perguruan tinggi, grup manakah yang ia maksud?  Ternyata itu adalah grup sebuah media sosial yang khusus dibentuk untuk para orang tua mahasiswa.  Yang sedang melakukan baksos adalah para mahasiswa baru.  Mereka diajak kakak tingkatnya untuk melakukan kegiatan bakti sosial dan para orang tua sibuk meminta foto terkini mengenai anaknya sedang melakukan apa dan dengan siapa selama acara tersebut. Saya menarik napas. Mahasiswa lho ini yang sedang dibicarakan.

“… kok jadi anak TK dan SD ya anaknya,” komentar seorang sahabat diiringi simbol tawa.

Sementara sahabat lainnya menulis, “… gue baru tahu sekarang anak kuliah juga ada grup ortunya ya.”

Orang tua mengkhawatirkan anak adalah hal yang wajar. Rasa sayang mendorong kita untuk melindungi dan memberikan yang terbaik bagi mereka. Namun bukankah kita juga punya tugas mendidik?

Pada kelas-kelas pengasuhan, saya menyampaikan bahwa tugas orang tua sejatinya ada dua: mengenalkan anak dengan sang Pencipta dan mendidiknya menjadi pribadi yang mandiri. Kemandirian adalah hal penting.  Betapa pun kita ingin, kita tak akan bisa selamanya mendampingi anak. Akan tiba masanya mereka menjalani hidup tanpa kehadiran orang tua. Bagaimana mereka akan melangkah mantap jika kita selalu memegang tangannya?

Mengurangi intervensi adalah langkah awal melatih kemandirian. Biarkan anak-anak mencoba, mengalami dan belajar dari pengalamannya. Lakukan hal ini sedini mungkin. Tega membiarkan anak belajar menjalani kehidupan adalah bentuk kasih sayang. Orang tua yang terlalu melindungi dan melayani anak, secara tidak sadar telah menghilangkan kesempatan anak untuk mengembangkan kemandirian. Anak menjadi tidak terasah untuk memecahkan masalahnya sendiri, ia tidak terlatih untuk mengelola emosi dan bangkit dari situasi yang tidak menyenangkan.

Saya ingat kisah seorang sarjana. Saat baru mulai bekerja, ia melakukan suatu hal yang membuatnya dimarahi atasan. Yang ia lakukan dalam menghadapi situasi ini adalah menangis dan mengadu pada ibunya. Sang ibu lalu mendamprat atasan tersebut. Akhir ceritanya mudah ditebak: si anak langsung dipecat. Sedih rasanya saat mendengar bahwa setelah kejadian itu ia tidak lagi mempunyai pekerjaan, hingga saat ini. Namun yang lebih memprihatinkan dari kasus ini adalah ada orang tua yang ikut campur masalah anaknya hingga ke urusan kantor. Di mana kemandirian si anak?

Sebagai orang tua, kita perlu lebih menahan diri. Tidak semua air mata harus kita usap dengan segera. Ada kalanya kita perlu menjauh. Beri ruang bagi anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Cara mereka mungkin belum efektif, bersabarlah. Mungkin mereka akan terjatuh, biarkan mereka belajar untuk kembali berdiri. Izinkan mereka mengalami.

Hilangkan rasa khawatir dengan doa. Ibu mertua saya pernah berkata, “Jika ia sudah keluar rumah, doakan. Mintakan perlindungan pada Allah.” Kalimat ini membuat hati menjadi tenang. Ketika kita telah menyerahkan perlindungan kepada Penciptanya, in syaa Allah apa pun yang terjadi padanya adalah yang terbaik. Wallahu’alam.

Mutiara, 29 Oktober 2022
Dian L Izwar


“Ada tiga doa yang tidak tertolak: [1] doa orang tua (kepada anaknya) [2] orang orang yang berpuasa [3] doa orang yang sedang safar”
(HR. Al Baihaqi)


 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

2 thoughts on “Kemandirian”

  • December 5, 2022 at 16:26
    Permalink

    proses praktek kemandirian sering mjd pertentangan ayah dan ibu… biasanya berakhir kptsn ibu yg lbh dominan dg dalih kasian, khawatir dan nanti aja prakteknya klo udh agak kegedean dikit…

    Reply
    • December 7, 2022 at 11:57
      Permalink

      Perlu kesepakatan orang tua ya. Ibu terkadang tidak tega melihat anaknya “susah”, padahal tega demi melatih anak agar mandiri juga bentuk kasih sayang. Terima kasih sudah berbagi, Pak Anis. Salam buat ibu.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *