Ke Dokter Gigi Aja

Ini kisah seorang sahabat.  Anaknya baru tumbuh gigi permanen tapi gigi susunya tidak goyah.  Akibatnya, gigi permanen tersebut tumbuh di belakang gigi susu yang tetap tegak di tempatnya.  Tentu saja hal ini tidak sehat bagi perkembangan gigi anak.  

Setelah menunggu beberapa waktu dan si gigi susu tak kunjung goyah, sang Ibu berkonsultasi ke dokter gigi.  Saran dari dokter tersebut adalah mencabut gigi susu karena akan mengganggu tumbuhnya gigi permanen.  Tidak ada pilihan selain membawa si anak ke dokter gigi.  Ini akan menjadi pengalaman pertama baginya.  Mulailah sang ibu membujuk. 

“Nanti habis giginya dicabut, dikasih hadiah oleh dokternya,” ujar sang ibu. 

Dokter gigi yang khusus menangani anak-anak itu memang menyediakan hadiah untuk setiap anak yang berani memeriksakan gigi.

Si anak pun mau.  Ia dengan berani datang ke dokter dan membiarkan giginya dicabut.  Setelah selesai, anak itu mendapatkan hadiah dari sang dokter yang ramah.  Ia senang sekali.  Alhamdulillah.  Semua berjalan sesuai rencana.  Ibu pun senang.

Beberapa pekan kemudian, gigi seri atas si anak mulai goyah.  Jika kemarin gigi bawahnya yang berganti dengan gigi permanen, maka sekarang gigi atas.  Alhamdulillah gigi pemanen tampaknya tumbuh persis di bawah gigi susu sehingga gigi susu tersebut terdorong ke atas dan mulai goyah.  Si ibu senang karena proses pergantian gigi anaknya kali ini in syaa Allah bisa berlangsung tanpa harus ada intervensi khusus.

“Wah, giginya sudah goyah.  Nanti kalau sudah tambah goyah, kita bisa cabut giginya.  Kamu nanti bisa cabut sendiri.  Didorong-dorong aja pakai lidah ya,” ujar si ibu menyemangati anaknya.

“Aku maunya cabut di dokter gigi aja,” jawaban anaknya membuat ibu itu mengerenyitkan dahi.

“Lho, kok ke dokter?  Kan giginya bisa kita cabut sendiri.”

“Aku mau dapat hadiah dari Bu Dokter,” jelas si anak.

Rupanya ia sangat senang dengan hadiah yang didapatnya dan menginginkannya lagi.

Kasus seperti ini bisa terjadi dalam banyak hal, bukan hanya pada saat anak harus ke dokter gigi.  Sebagai orang tua, kita kerap membujuk anak untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu dengan memberinya hadiah.  Hadiah memang dapat membuat anak termotivasi.  Ia berusaha  melakukan apa yang diminta orang tua karena menginginkan hadiah yang dijanjikan. 

Apakah orang tua boleh memberi hadiah? Tentu saja boleh, tapi itu belum cukup.  Orang tua perlu menjelaskan pada anak tujuan atau alasan dari sebuah tindakan. 

Dalam kasus di atas, orang tua perlu menyampaikan bahwa karena gigi susunya tidak goyah, kita tidak bisa mencabutnya sendiri.  Oleh kerena itu kita perlu bantuan dokter gigi.  Jadi perlu dijelaskan bahwa tujuan kita ke dokter gigi adalah untuk mencabut gigi yang tidak bisa kita cabut sendiri.  Pemahaman mengenai tujuan dari perilaku ini in syaa Allah akan membuat anak tidak akan meminta ke dokter gigi pada saat tidak diperlukan.  Jadi anak perlu paham terlebih dahulu mengapa ia harus ke dokter gigi, baru kemudian ia dibujuk untuk mau ke dokter gigi. 

Selayaknya hadiah bukan menjadi tujuan, anak perlu memahami dasar dari sebuah tindakan.  Hal ini penting bagi proses perkembangan perilaku anak di masa yang akan datang.  Apabila orang tua biasa menjelaskan tujuan atau alasan dari sebuah perilaku, maka in syaa Allah anak akan terbiasa untuk berpikir dahulu sebelum bertindak.  Ia akan menimbang tujuan dari sebuah perbuatan dan tidak akan terburu-buru melakukan sesuatu hanya karena menginginkan kesenangan saja.  Wallahu a’lam.

Mutiara, 07 Juni 2022

Dian L Izwar


“Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. 

Kemudian sesungguhnya Kami yang akan menjelaskannya.”

(QS. Al-Qiyamah: 19-20)


Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

2 thoughts on “Ke Dokter Gigi Aja”

  • June 9, 2022 at 20:43
    Permalink

    Suguhan buah pikiran yang apik. Luar biasa.

    Reply
    • June 10, 2022 at 10:05
      Permalink

      Alhamdulillah, terima kasih Ibu Cahyati.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *