Use it or loose it
Ibu saya menanam bibit pare di halaman rumah. Tanaman berbuah pahit itu dibiarkan menjalar ke batang jambu klutuk. Ibu rajin merawatnya, menyirami jika tak ada hujan serta membuang daun-daun yang menguning. Beberapa pekan kemudian sang pare telah tumbuh subur. Bunga-bunga kecil bewarna kuning muncul di antara dedaunan hijau yang rimbun.
Suatu hari ibu melaporkan ada dahan jambu biji yang merunduk. Setelah diteliti, penyebabnya adalah buah hijau panjang bertekstur yang menggantung indah di dahan tersebut. Ibu senang sekali menemukan buah pertama itu, beliau langsung memanen dan memasaknya. Pare adalah salah satu sayur kesukaan Ibu.
Beberapa hari kemudian, tampak lagi sebuah pare menggantung di sela-sela daun jambu klutuk. Ibu menghadiahkan pare itu pada menantunya yang juga penggemar pare. Aura bahagia terpancar di wajah Ibu saat mempersilakan sang menantu memetik pare hasil tanaman beliau.
Pagi ini, Ibu kembali menemukan sebuah pare, sebagian warnanya sudah menguning. Mungkin buah ini tertutup dedaunan sehingga baru terlihat saat warnanya mulai berubah.
“Orangenya yang menarik pandangan. Waktu hijau tidak tampak karena sama hijau dengan daun klutuk.” Ujar Ibu dengan ceria.
Di usianya yang sudah tiga perempat abad Ibu mengisi hari dengan berkebun. Ibu menanam aneka sayuran, mulai dari singkong, ubi jalar, bayam, kangkung hingga kacang panjang. Sebenarnya, bisa saja semua sayuran itu dibeli dan Ibu duduk manis menikmati. Beberapa orang berpendapat, para lansia sebaiknya istirahat dan tak usah banyak beraktivitas. Beberapa teman “memanjakan” orang tua mereka sedemikian rupa hingga kakek dan nenek ini hanya menghabiskan hari dengan duduk di kursi. Hal ini justru berbahaya bagi lansia. Prinsip “use it or loose it” berlaku untuk kemampuan yang mereka miliki. Apabila dengan dalih ingin berbakti kita mengambil alih semua hal yang biasa beliau lakukan maka tanpa sadar kita juga telah secara perlahan membuat beliau kehilangan kemampuannya untuk mandiri.
Fitrah manusia adalah bergerak. Selama kondisi masih memungkinkan, biarkanlah orang tua bergerak dalam tempo mereka sendiri. Gerakan mereka tentu lebih lambat dari kita, biarkanlah. Tunggu saja. Pada fase ini bukan lagi efektif dan efisien yang menjadi ukuran tetapi makna dari sebuah kegiatan. Menjadi pribadi yang mandiri secara fisik akan menambah rasa percaya diri pada lansia. Mendukung beliau berkegiatan sesuai dengan kemampuannya adalah bantuan terbaik yang dapat kita berikan.
Di samping kemandirian secara fisik, lansia juga perlu merasa berarti. Berilah kesempatan bagi beliau untuk dapat “memberikan sesuatu” pada anak dan cucunya. Memberikan hasil panen pada orang-orang yang disayangi menambah rasa bahagia di hati Ibu. Rasa bahagia yang menyumbang besar pada kesehatan mental beliau.
Saya teringat Nenek. Nenek saya sangat suka memasak. Beliau senang menjamu orang. Seiring dengan pertambahan usia, beliau mulai mudah lupa, termasuk lupa pada saat memasak. Kala itu keluarga menganggap bau gosong yang makin sering tercium dari dapur adalah isyarat agar Nenek berhenti memasak. Seorang asisten dihadirkan untuk menggantikan peran Nenek di dapur. Sudah waktunya Nenek pensiun setelah puluhan tahun memasak untuk kami semua. Kini saatnya Nenek menikmati makanan yang disajikan tanpa perlu ke dapur lagi. Semua senang dan tak ada lagi masakan yang hangus.
Beberapa waktu setelah tak lagi memasak, kemampuan fisik dan kognitif Nenek menurun dengan cepat. Beliau kehilangan aktivitas rutin ke dapur. Secara fisik tidak ada lagi fase berjalan menuju dapur minimal tiga kali sehari untuk kemudian berkeliling di dalam ruangan favorit Nenek tersebut untuk menyiapkan masakan. Sebuah aktivitas fisik yang tampaknya sederhana namun sangat bermanfaat bagi lansia. Secara kognitif, beliau tidak lagi menyusun menu. Nenek tak lagi memikirkan bahan-bahan apa yang dibutuhkan untuk membuat sebuah masakan atau apa sayur yang cocok untuk dihidangkan bersama gurame goreng balado, misalnya. Nenek juga kehilangan momen bahagia saat melihat masakannya disantap lahap oleh keluarga. Peran Nenek berubah dari aktif sebagai penyedia hidangan menjadi penikmat sajian saja. Sebuah perubahan besar dalam pemanfaatan kemampuan. Saat tak lagi digunakan, kemampuan yang dulu Nenek miliki menghilang. Use it or loose it.
Sebagai anak, bantuan yang dapat kita berikan pada orang tua agar beliau dapat mempertahankan kemampuan yang pernah dimiliki adalah dukungan untuk tetap aktif dan produktif saat menjalani hari tua. Kita dapat menyediakan bibit untuk berkebun bagi yang suka bercocok tanam atau menghadirkan asisten untuk menemani di dapur bagi yang gemar memasak. Bisa juga mendorong beliau membuat buku bagi yang gemar menulis. Semakin aktif lansia mengisi waktu dengan kegiatan yang berarti, in syaa Allah semakin baik pula kesehatan fisik dan mentalnya. Wallahu a’lam.
Padang Datar, 24 Oktober 2021.
Dian L Izwar
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.”
(QS. Luqman: 14)
