Mengedepankan Hikmah
Saat tengah berbincang-bincang beberapa waktu yang lalu seorang sahabat tiba-tiba bertanya, “Mbak, bagaimana caranya supaya kita bisa bilang alhamdulillah ‘ala kulli hal?”
Saya terdiam sejenak. Ini pertanyaan berat. Saya juga masih terus belajar untuk bisa dengan sepenuh hati memuji Allah atas semua ketetapanNya.
Alhamdulillah ‘ala kulli hal bermakna segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan. Hal ini berarti senantiasa mengagungkan Allah pada saat apa pun. Mensyukuri apa pun yang Allah berikan, baik itu sesuatu yang diinginkan maupun yang tidak diinginkan. Bagian terakhir ini yang agak sulit. Saat mendapatkan sesuatu yang baik dan menyenangkan akan lebih mudah mengucapkan alhamdulillah tapi jika yang terjadi sebaliknya, bagaimana caranya agar tetap bersyukur?
Saya teringat beberapa peristiwa yang awalnya terasa kurang menyenangkan tapi pada akhirnya membawa kebaikan. Hal ini beberapa kali terjadi pada saya dan orang-orang yang saya kenal baik. Misalnya seorang dokter yang sudah mendapatkan tempat kerja yang baik tapi harus digeser karena ada “titipan orang penting” yang menginginkan posisi sang dokter. Dokter tersebut terpaksa berpindah tempat tugas. Ternyata tempat yang baru jauh lebih baik dari tempat kerja sebelumnya. Jika tidak “dipaksa” pindah, dokter tersebut tidak akan menemukan tempat kerja yang baru. Rasa tidak nyaman saat “harus” pindah dibayar dengan tempat kerja yang lebih baik. Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Ada sesuatu yang baik menanti dibalik peristiwa yang tidak menyenangkan.
Pengalaman lain adalah saat saya berada di tanah suci. Suatu sore saya ketinggalan bus menuju masjidil haram. Agar tetap bisa shalat ashar berjamaah, saya dan suami berjalan mencari masjid yang berada di sekitar maktab. Dalam perjalanan kembali ke maktab, kami menemukan sebuah toko yang menjual ikan teri basah dan bumbu dapur. Saya langsung berbelanja dan masak ikan teri cabe hijau. Sebuah menu yang sangat nikmat setelah bekal makanan dari tanah air habis. Saya dan teman-teman di maktab makan dengan lahap, rindu masakan Indonesia terobati. Jika tak ketinggalan bus, saya tidak tahu ada toko tersebut. Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Ada hal baru dibalik sebuah peristiwa yang tidak sesuai dengan harapan. Bisa jadi pengetahuan baru, pelajaran baru, pengalaman baru atau apa pun yang akan memperkaya wawasan kita. Selalu ada hikmah dari setiap peristiwa. Namun seringkali kita baru menyadari hikmah ini di kemudian hari, terkadang bahkan sangat lama setelah peristiwa itu terjadi.
Kembali pada pertanyaan sang sahabat, saat itu saya berkata, “Kita perlu yakin bahwa ada hikmah dari setiap peristiwa. Hikmah yang biasanya datang belakangan ini, kita bawa ke depan. Jadi kita mengedepankan hikmah dari sebuah kejadian. Saat mengalami hal yang tidak menyenangkan, kita bisa bertanya hal apa yang Allah ingin saya pelajari dari persitiwa ini? Kebaikan apa yang menanti saya setelah hal ini berakhir? Dengan menjawab pertanyaan ini, in syaa Allah kita akan lebih mudah untuk mengucapkan alhamdulillah.”
“Kalau nggak ketemu hikmahnya gimana, Mbak?”
“Hmm…pertanyaannya sulit-sulit ya,” ujar saya dalam hati. 😊
“Yang penting yakin. Kalau setelah dipikir nggak ketemu, nggak apa-apa. Terima saja. Yang penting yakin bahwa apa pun yang Allah berikan akan berujung pada kebaikan. Keyakinan ini akan memberikan ketenangan. Emosi yang lain tentu ada, misalnya kecewa, sedih atau marah. Namun saat kita meyakini bahwa ini adalah yang terbaik dari Allah, kita akan menjadi lebih tenang.” Saya menarik napas sejenak sebelum melanjutkan.
“Contoh sederhana ya. Kemarin saya memesan stroberi segar pada tetangga. Ternyata sebagian buah merah itu sudah layu dan ada yang berjamur. Saya merasa kecewa karena yang saya bayangkan adalah buah yang ranum dan segar. Namun saya segera sadar, ini adalah yang terbaik bagi saya saat ini. Saya yakin si tetangga tidak menjual stroberi berjamur dengan sengaja. Pasti ada hikmahnya. Saat saya sedang memandangi buah itu, suami saya datang. ‘Dimasak aja, bikin sirop,’ ujarnya. Saya tersenyum cerah. Segera saya pisahkan bagian yang masih baik dan saya masak dengan sedikit gula. Setelah matang, saya kasih es batu dan daun mint.”
“Kebayang segernya, Mbak,” celetuk sang sahabat.
“Iya, seger banget. Sudah lama saya nggak bikin minuman seperti itu. Biasanya stroberi langsung saya makan atau dibuat jus. Ini baru dapat ide karena ketemu ada sebagian yang berjamur, nggak sehat rasanya kalau dimakan mentah.”
“Sesederhana itu ya, Mbak.”
“Iya, kalimat sederhana yang dampaknya sangat kuat bagi kesehatan mental. Coba kalau saya ngomel-ngomel, marah-marah. Berapa banyak energi saya terbuang sementara stroberinya tidak akan berubah. Kalau saya marah sama yang jual, hubungan baik dengan tetangga bisa rusak. Mungkin tak terpikir juga akan bikin es yang nikmat ini karena emosi lagi tinggi,” sambung saya seraya tertawa. Sang sahabat pun ikut tertawa.
Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Pertanyaan sulit sang sahabat membuat saya berpikir dan ingin menuangkannya dalam sebuah artikel. Semoga Allah mudahkan kita untuk menjadi hambaNya yang selalu bersyukur.
Mutiara, 10 Desember 2021
Dian L Izwar
“Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan segala puji di akhirat bagi Allah. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana, Maha Mengetahui.”
QS. Saba’ ayat 1.
