Almanak
“Bu, saya mau minta almanak sama Ibu,” ujar seorang sahabat sekitar sepekan yang lalu. Tiba-tiba saja ia mengajukan permintaan itu. Tidak ada percakapan pendahuluan atau hal lain yang kami perbincangkan sebelumnya. Ketika menyadari kedatangan saya, ia langsung menyampaikan kalimat di atas.
“Almanak?”
“Iya. Kalender 2024. Saya mau minta satu sama Ibu.”
“Oh. Baru November, Mbak. Masih lama 2024.”
“Iya,” ujarnya.
Saya tidak tahu dasar dari permintaan ini. Saya tidak punya kalender 2024 di rumah. Saya juga tidak dapat menduga-duga atas ide apa sang sahabat meminta almanak pada saya. Namun saya ingat pesan almarhum Kakek, “Kalau ada yang meminta, berikanlah. Meskipun ia datang dengan berkuda.” Maksud pesan tersebut adalah meskipun ada orang yang terlihat kaya (mendatangi kita dengan naik kuda) tetapi apabila ia meminta sesuatu, maka upayakanlah untuk memberikan apa yang dimintanya itu. Tidak perlu melihat penampilan atau mempertimbangkan hal lain. Berikan saja jika kita memang bisa memberikannya.
Menurut Kakek, permintaan menunjukkan bahwa seseorang sedang dalam kekurangan dan ia menganggap kita mampu memenuhi kekurangan itu. Jadi pada waktu melihat pedagang menjajakan kalender 2024 beberapa hari kemudian, saya sempat berpikir untuk membelinya. Bisa jadi kalender itu akan sangat berharga bagi sang sahabat. Tetapi niat membeli itu masih saya tunda. Rasanya belum pas saja waktunya. Toh 2024 masih sebulan lagi.
Tadi sore sehabis mengajar, saya menyempatkan diri mampir ke ruang dosen sembari menunggu jemputan untuk pulang. Pada saat itu seorang karyawan sedang merapikan beberapa gulungan kertas di atas meja.
“Bu Dian mau kalender?”
“Wah, boleh.”
“Mau lebih dari satu boleh, Bu. Siapa tahu mau dikasih ke tetangga.”
Sebuah penawaran yang langsung mengingatkan saya pada permintaan almanak 2024. Ma syaa Allah. Tidak ada yang kebetulan dalam hidup. Saya pulang membawa dua buah kalender. In syaa Allah satu akan saya berikan pada sahabat yang tempo hari meminta almanak.
Kejadian ini tampaknya sederhana, tapi membuat saya merasakan bagaimana Allah telah mengatur segalanya. Saya baru berniat untuk memberikan sesuatu pada seseorang. Sesuatu itu belum saya miliki. Saya baru berpikir untuk memperolehnya dengan cara membeli. Tiba-tiba Allah memberikannya pada saya dengan cara yang tidak saya duga. Saya butuh satu, diberikan dua. Gratis pula. Ma syaa Allah. Semoga catatan kecil ini mengingatkan saya untuk senantiasa meluruskan niat dalam memberi dan melibatkan Allah dalam setiap langkah hidup saya, sekecil apa pun langkah itu.
Saat kita berniat melakukan kebaikan maka Allah akan memudahkan jalannya, in syaa Allah.
Mutiara, 30 November 2023
Dian L Izwar
“Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan).”
(QS. Al-Lail: 5-7)

Masya Allah Terharu bacanya ❤️
Ma syaa Allah.. terima kasih, Fajar.