Upside Down
Anggrek saya mengeluarkan malai. Rumpun yang satu ini agak istimewa karena ia merupakan anakan yang saya pisahkan dari induknya dan saya rawat sendiri. Saya mengamati proses perkembangan tunas kecil ini dari “bayi” hingga kini mengeluarkan tangkai panjang calon bunga. Penuh harap saya menunggu bakal bunga tersebut membesar hingga mekar sempurna. Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan keindahan sedemikan rupa. Kuntum-kuntum mungil itu mulai membuka kelopaknya satu per satu. Bunga-bunga putih menyapa mata.
Beberapa hari setelah dendrobium yang saya rawat dari anakan itu mekar, ada sesuatu yang jatuh menimpanya. Tangkai bunga itu patah. Saya sedih. Mungkin Allah ingin saya menikmati keindahan bunga ini di dalam vas, pikir saya mencari hikmah. Jarang sekali saya memetik bunga anggrek. Saya senang menikmati sang bunga mekar di rumpunnya. Mungkin ini saatnya berganti suasana.
Kala mendekati tangkai yang patah itu saya melihat ada bagian kecil yang masih tersambung ke batang, bagian itulah yang menahan rangkaian bunga tersebut sehingga tidak jatuh ke tanah. Tangan saya yang terulur bergerak mundur. Saya urungkan niat untuk menaruh kumpulan bunga putih itu di dalam vas. Jika masih ada “gantungan” yang saat ini dapat menahan bunga itu tetap melekat di batangnya, semoga ia juga bisa bertahan hingga semua kuntumnya mekar sempurna. Saya putuskan untuk mengamati saja apa yang akan terjadi selanjutnya pada malai yang patah itu. Saya ingin tahu bagaimana sang anggrek mengelola kuntum-kuntum bunganya yang sebagian telah mekar dan sebagian masih kuncup.
Setelah beberapa hari, saya dapati bunga tersebut terus mekar, sama seperti malai lainnya yang tidak patah. Yang menarik perhatian saya adalah setiap kuntum yang baru mekar mengarah ke atas, padahal pada saat masih kuncup semuanya mengarah ke bawah mengikuti arah tangkainya yang patah. Ma syaa Allah. Anggrek ini seakan menunjukkan bahwa arah tumbuh adalah ke atas. Meskipun ada hal yang membuat tangkainya jadi mengarah ke bawah, ia tetap pada fitrahnya untuk bergerak ke atas. Daya dalam dirinya tak ikut terjun saat tangkainya patah. Ia tetap berusaha untuk memandang dunia. Kuntum yang mekar setelah tangkai yang patah itu tidak sebesar kuntum yang mekar sebelumnya tapi semua kuntum itu tetap mekar dan tetap tumbuh menuju arah semula. Bagaimana pun posisinya, mereka semua mekar mengarah ke atas.
Saya merenung, ada masa saat kehidupan memaksa kita berada di bawah tapi Allah telah menjanjikan bahwa di setiap kesulitan ada kemudahan. Dengan keyakinan akan pertolonganNya, in syaa Allah kita akan dapat bangkit kembali. Anggrek yang patah ini mengingatkan saya bahwa yang perlu kita lakukan di setiap situasi adalah berjuang, terus berusaha untuk bangkit seraya memohon pertolonganNya. Wallahu a’lam.
Mutiara, 31 Januari 2022
Dian L Izwar
Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.
Q.S. Al-Baqarah: 214
