Lima Kuntum Mawar

Seorang sahabat bercerita, suatu hari ia diminta untuk sharing mengenai topik komunikasi dalam keluarga.  Pada akhir sesi, panitia menyediakan bunga yang boleh diambil oleh para suami untuk diberikan pada istrinya yang juga hadir di acara tersebut.  Ternyata jumlah mawar yang disediakan oleh panitia lebih banyak dari jumlah suami yang hadir.  Sehingga setelah selesai acara, panitia juga memberikan mawar kepada sang sahabat.  Sesuatu yang tidak ia sangka.  Kala itu ia berencana untuk naik kendaraan umum dari tempat acara ke rumah, membawa bunga mawar menambah hal yang harus dipikirkannya di sepanjang perjalanan. 

“Secara bunga kebanyakan, tetiba pas pulang, gue pun dibekelin panitia bunga, 5 kuntum mawar warna peach.. kalo dipikirin, ribet bener naik kendaraan umum, bawa-bawa kembang..” demikian kira-kira yang ia sampaikan.  Tak menduga akan mendapat bunga. 

Lalu bagaimana nasib si kembang?

Suka memandang cantiknya, sang Sahabat menerima 5 bunga ros itu.  Yang menjadi pikirannya adalah bagaimana mengamankan kuntum-kuntum mawar tersebut selama di kendaraan.  Ia sudah membayangkan penumpang yang padat.  Ia takut bunga-bunga itu rusak tak sengaja tersenggol orang-orang yang berdesakan. 

“.. takut remek,” ia bercemas.

Apakah kekhawatirannya menjadi kenyataan? 

“Ternyataaaa, sepanjang jalan, gue jadi fokus ngeliatin itu bunga-bunga cantik. Seneng aja.. kayak ada temen pulang bareng.  Kayak bawa peliharaan, hahaha..  seneng juga pas semuanya sampai dengan utuh, selamat sampai rumah. Gue taruh di vas tinggi.”

Ma syaa Allah.  Ternyata pada saat dijalani, sang Sahabat tidak mengalami kesulitan seperti yang ia bayangkan.  Lima kembang cantik itu ia letakkan di dalam tote bag yang saat itu dibawanya.  Alih-alih merasa kesulitan, ia malah menikmati proses menjaga lima kuntum mawar itu dan merasa “berhasil” saat semuanya sampai di rumah dengan selamat.  Ada rasa bahagia yang muncul karena pencapaian ini.  Sesuatu yang sulit terjadi pada saat seseorang diliputi rasa cemas.

Terkadang, kita terlalu pelik memikirkan masa yang akan datang.  Kita cenderung membayangkan hal-hal yang mungkin terjadi berdasarkan pengalaman di masa lalu.  Padahal belum tentu apa yang kita pikirkan tersebut akan menjadi kenyataan.  Menjalani hari dengan ringan terkadang juga perlu dilakukan.  Tak usah berpikir terlalu berat.  Jalani saja.  Lakukan apa yang saat ini dapat dilakukan dan nikmati prosesnya.

Betul bahwa kita perlu mengantisipasi segala kemungkinan.  Betul bahwa kita perlu bersiap menghadapi risiko.  Namun menyibukkan diri dengan segala pikiran yang mengundang cemas juga tidak sehat dan bahkan dapat menghambat.  Dalam kasus yang ekstrem, beberapa klien mengaku tak bisa tidur karena overthinking, klien lain malah tidak bisa memulai sama sekali karena sangat khawatir akan hasil akhirnya.  Ia hanya sibuk berpikir dan tidak melakukan apa-apa.  Tidak ada progres nyata dari pekerjaan yang seharusnya ia lakukan.  Mungkin sesekali kita juga tidak perlu menetapkan target yang tinggi.  Bebaskan diri dari tuntutan kesempurnaan dan kekhawatiran yang belum tentu terjadi.   Fokuskan perhatian pada apa yang bisa dilakukan saat ini dan segera lakukan dengan sepenuh hati.   Arahkan pikiran pada hal yang menyenangkan.  Menikmati proses adalah salah satu kunci dalam mencipta bahagia dan kabar baiknya adalah kita selalu punya pilihan untuk melakukannya.

“Emang semua mah, gimana kita mikirinnya aja…,” ujar sang Sahabat menutup ceritanya.  Saya sepakat. 

Mutiara, 28 Februari 2023

Dian L Izwar


“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.  Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain),”
QS. Al-Insyirah: 5-7


 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *