Melupakan

Seorang sahabat bertanya bagaimana cara menghilangkan jejak ingatan.  Ia ingin sekali melupakan seseorang yang saat ini sudah tak lagi bersamanya. 

“Saya ingin lupa tapi nggak bisa, Bu,” ujarnya.   “Semakin saya coba untuk melupakan, semakin saya ingat semua hal tentang dia.  Saya cari-cari sisi buruknya agar saya bisa lebih mudah untuk melupakan tetapi saya tetap nggak bisa lupa.”  Lanjutnya setengah putus asa.  Ia sudah berusaha keras tapi ingatan tentang orang tersebut melekat semakin kuat. 

Apa yang terjadi dengan sang sahabat?  Mengapa ia tak dapat menghapus hal yang tak lagi ingin dikenangnya?

Secara sederhana, ruang ingatan kita laksana hutan yang ditumbuhi oleh pohon-pohon ingatan.  Banyak sekali pohon yang ada di sana.  Peristiwa yang berkesan (baik kesan positif atau negatif) dan sesuatu yang sering diulang akan menumbuhkan pohon-pohon yang besar.  Pada saat kita melihat hutan ingatan, otomatis pohon-pohon yang besar akan terlihat lebih jelas. 

Kembali pada sang sahabat, saat  berusaha melupakan ia malah semakin ingat.  Mengapa?  Karena pada saat ia dengan sengaja ingin melupakan seseorang, ia justru berulang-ulang melihat pohon ingatan mengenai orang tersebut.  Sewaktu ia mencari-cari sisi buruk dari orang yang ingin dilupakan, ia mengulang kembali kenangan bersamanya.  Dengan demikinan, pohon ingatan terhadap orang itu tumbuh makin besar dan rimbun.  Setiap kali ia memandang hutan ingatannya, pohon inilah yang akan pertama terlihat.  Alih-alih lupa, ia malah semakin ingat.

Lalu, bagaimana cara melupakan?  Lupa dapat terjadi jika sesuatu lama tidak diulang.  Pengabaian terhadap suatu hal dapat membuat kita lupa mengenai hal tersebut.  Kita akan mudah abai terhadap sesuatu apabila kita asyik dengan hal lain.  Dengan demikian, jika ingin melupakan seseorang atau suatu peristiwa maka kita perlu menciptakan sebuah hal baru yang membuat kita sibuk, sesuatu yang menarik perhatian dan menimbulkan rasa senang sehingga kita cenderung untuk mengulanginya.  Dalam hutan ingatan, upaya ini ibarat menanam sebuah benih baru yang dirawat dengan baik sehingga tumbuh subur dan besar.  Pada saat kita memandang hutan ingatan, maka pohon baru inilah yang akan menjadi fokus perhatian.  Pohon lain (termasuk pohon ingatan yang kita ingin lupakan) akan tertutupi oleh pohon baru yang rindang ini. 

Jadi saat Anda ingin melupakan seseorang, mulailah lembaran baru tanpa orang tersebut.  Ciptakan pengalaman-pengalaman yang belum pernah ada sebelumnya dan nikmatilah.  Hal ini berarti Anda sedang menyemai benih-benih mungil dalam hutan ingatan.  Rawatlah bibit itu dengan baik hingga ia tumbuh menjadi pohon ingatan yang menjulang tinggi.  In syaa Allah Anda akan mengingat hanya yang Anda inginkan, dan sebaik-baiknya pengisi pikiran adalah ingatan mengenai Yang Maha Kekal.

Cakranegara, 18 Mei 2022

Dian L Izwar


“Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”

QS. Al-Baqarah: 152


Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

2 thoughts on “Melupakan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *