Gelang Bintang
Di hari Lebaran, keluarga berkumpul bersama. Keponakan saya datang dengan mata berbinar.
“Bunda..!” serunya seraya menghampiri. Kedua telapak tangannya bertangkup.
Saya menanti apa yang akan dilakukan gadis kecil itu. Sepertinya ia menyembunyikan sesuatu dibalik jari-jari mungilnya.
“Ini buat Bunda,” ujarnya riang sembari memperlihatkan benda yang ada di atas telapak tangannya.
“Wah.. gelang…” sambut saya tak kalah riang.
Gadis manis itu memasangkan untaian manik-manik bentuk bintang ke tangan saya.
“Kakak bikin sendiri?”
“Iya. Ini dari bintang-bintang tapi aku tambahin satu kupu-kupu,” ia menjelaskan hasil karyanya dengan antusias. Tertangkap rasa senang dan bangga dari suaranya.
“Bunda suka gelangnya. Terima kasih, Sayang.” Saya memberinya kecupan dan pelukan hangat.
Alhamdulillah. Rasa bahagia menghias hati saya. Bukan hanya karena gelang istimewa yang saya dapatkan dari sang keponakan tetapi karena keinginan memberi yang telah tertanam di hatinya sejak dini. Saling memberi di hari Raya memang sebuah tradisi. Berbagi kebahagiaan di hari yang fitri menambah semaraknya hari itu. Sang ibu telah berhasil menanamkan nilai-nilai tersebut pada buah hatinya.
“Kakak bikin berapa gelangnya?” tanya saya beberapa waktu kemudian.
“Aku bikin buat Mama, buat Bunda, buat Adek dan buat aku sendiri.”
Jawabannya mengindikasikan bahwa saat ia mempunyai sesuatu, ia berbagi dengan yang lain. Kegiatan merangkai gelang tersebut adalah pengembangan dari aktvitas belajarnya di sekolah. Awalnya ia belajar membuat kalung dari manik-manik. Setelah beberapa waktu berlalu, ia sering mendapat bintang dari ibu gurunya. Setiap kali berhasil melakukan sesuatu di sekolah, ia mendapatkan sebuah manik-manik berbentuk bintang. Hampir setiap hari ia pulang membawa bintang, kadang-kadang bahkan 2 atau 3. Lama-lama ia punya banyak manik-manik bintang. Pada bulan puasa kemarin murid taman kanak-kanak itu membuat gelang untuk ibunya dan saya. Ia membuat sesuatu untuk diberikan sebagai hadiah. Keinginan memberi dan berbagi inilah yang sangat saya syukuri.
Terkadang di hari Raya kita masih mendengar bisikan ke telinga anak-anak, “Minta THR sama Om dan Tante…”
Saya merasa sudah saatnya kita mengganti bisikan ini dengan, “Kita mau kasih apa ya, buat Om dan Tante?”
Memberi in syaa Allah akan menimbulkan rasa bahagia dan menyehatkan mental. Tentu saja kita juga boleh menerima dan bersyukur atas hadiah yang kita peroleh. Hanya jika bisa, tak usahlah meminta kecuali padaNya.
Mutiara, 5 Syawal 1443 H / 6 Mei 2022
Dian L Izwar
“Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.”
(HR. Bukhari Muslim)
