Mentega Rasa Kacang
Pagi itu seorang sahabat sedang sarapan. Foto yang diunggahnya berjudul ‘Roti bakar dan selai kacang’.
Saat berbincang mengenai roti tersebut, ia berkata, “Jangan bayangkan (ia menyebut sebuah merek selai kacang) yaaa…. Ini lebih seperti mentega rasa kacang.”
“Wah, jarang itu… ada mentega rasa kacang.”
Ia tertawa. “Iya. Alhamdulillah.”
Sahabat yang satu ini penggemar olesan roti dari kacang. Ia sudah punya standar tertentu terhadap selai kacang. Ia mengharapkan mendapatkan olesan roti seperti yang ia bayangkan. Namun hotel tempatnya menginap menyediakan selai kacang yang berbeda. Saat mengharapkan selai dengan kualitas dan rasa tertentu dan tidak mendapatkannya, yang hadir adalah rasa kecewa. Akan tetapi ketika ia mengubah harapannya, “mentega rasa kacang” menjadi sebuah pengalaman baru. Situasinya tidak berubah, tetap roti bakar dengan selai kacang yang berbeda dari yang biasa ia nikmati. Yang berubah adalah persepsinya. Yang berubah adalah harapannya. Ia tidak lagi menetapkan standar tertentu sehingga dapat menikmati sarapannya pagi itu.
Terkadang kita menjadikan harapan sebagai sebuah keharusan. Kita telah menetapkan akhir bahkan sebelum memulai. Kita menentukan hasil yang harus didapat. Kata ‘harus’ ini sering berkawan dengan rasa kecewa. Kenapa? Karena sebagai hamba, kita tidak memiliki otoritas untuk menetapkan hasil. Semua akhir adalah ketentuan Yang Maha Kuasa.
Tugas manusia berusaha, hasil berpulang pada kehendak Allah. Kita sudah belajar sebaik mungkin, lupa makan bahkan sampai tidak tidur. Apakah itu menjamin kita akan lulus ujian? Tidak. Orang yang belajar memang memiliki peluang lebih besar untuk lulus dibandingkan dengan yang tidak belajar, tapi belum pasti lulus. Tetap ada kemungkinan tidak lulus. Berhasil atau tidak, bukan manusia yang menentukan. Itu adalah hak Allah. So, don’t expect. Jangan berharap dengan memastikan akan mendapatkan. Memiliki harapan tentu boleh, tetapi tetap dengan satu syarat: jika Allah mengizinkan.
Izin Allah baru akan kita ketahui di akhir. Jadi pada saat tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, kita tahu bahwa Allah tidak mengizinkan kita untuk mendapatkannya. Meski pun telah berusaha maksimal, kita tidak akan terlalu kecewa karena sejak awal kita sadar bahwa kemungkinan ini ada. Sebaliknya jika sangat yakin bahwa apa yang diinginkan akan didapat, maka kita akan menjadi sangat kecewa saat hal itu tidak terjadi. Kepastian bukanlah kompetensi kita. Manusia tidak dapat memastikan hal apa pun, meskipun itu terkait dengan dirinya sendiri. Selalu ada peluang bahwa sesuatu tidak terjadi seperti yang diharapkan. Kita perlu menyadari hal ini agar dapat mengelola rasa kecewa.
Berharap yang terbaik sangat dianjurkan dan berusaha maksimal untuk mencapainya perlu dilakukan. Selanjutnya, tunduk pada ketentuan Yang Maha Berkehendak akan membuat kita lebih tenang dalam menerima hasil apa pun. Bila tak sesuai harapan, kita tidak terlalu sedih karena yakin apa yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui adalah yang terbaik. Itulah sebabnya kita diingatkan untuk selalu mengucapkan in syaa Allah bagi setiap hal yang berhubungan dengan masa yang akan datang. Sang Maha Penyayang telah menyediakan pengingat agar kita selalu siap dengan hasil apa pun. Wallahu a’lam.
Mutiara, 7 Desember 2022
Dian L Izwar
Jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan hal itu besok,” kecuali (dengan mengatakan), “Insyaallah.”
Ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.”
QS. Al-Kahfi: 23-24
