Setengah Jendela

Semalam seorang sahabat menghubungi saya.  Ia baru saja mendapat limpahan pekerjaan karena rekan satu timnya sakit.

“Ini sebenarnya kerja tim, tapi temen satu timku sakit semua,” ujarnya dengan nada sedih. 

Saya menarik napas, di era pandemi ini berita mengenai seseorang yang sakit memang lebih sering terdengar.

“Aku baru tahu kalau sekarang semua harus aku yang ngerjain dan ini buat presentasi besok siang.  Dari sore aku di depan laptop tapi aku nggak tahu harus mulai dari mana.  Buntu banget nih.  Aku lihat layar tapi nggak ngerjain apa-apa.  Buka tutup file aja dari tadi.  Stres banget ini.”  Ia bercerita panjang.

Hal positif dari sahabat ini adalah ia menyadari bahwa ia sedang stres.  Menyadari keadaan yang kita alami dan menerima bahwa kita memang berada di dalam keadaan tersebut merupakan langkah penting untuk menyelesaikan masalah.  Sadari dan terima apa yang sedang terjadi adalah dua kata kunci pembuka gerbang solusi.

Langkah kedua yang juga sangat baik dilakukan oleh sahabat ini adalah mencari bantuan.  Ia sadar bahwa ia tidak mampu menolong dirinya sendiri saat ini.  Ia butuh bantuan orang lain untuk mengatasi stres yang dialaminya.  Oleh karena itu ia menelepon saya.   

Kita perlu mengenali batas kemampuan diri.  Jika upaya yang kita lakukan untuk menyelesaikan masalah tidak seperti yang kita harapkan, kita perlu memikirkan kemungkinan bahwa kita membutuhkan bantuan.  Memiliki jejaring yang luas akan memudahkan kita memilih siapa yang memiliki kompetensi untuk dapat membantu.  Benarlah bahwa silaturahmi membawa rezeki.  Memiliki banyak teman baik dengan berbagai kompetensi adalah rezeki yang sangat berharga.

Setelah mendengarkan semua ceritanya mengenai tugas yang saat ini menjadi beban pikiran, saya meminta sang sahabat untuk sejenak escape dari situasi emosinya saat ini.  Saya ingin ia melupakan tugas besar yang mendadak harus dipikulnya sendiri.  Kami bercerita mengenai hal lain.  Hal yang ringan-ringan dan mengundang tawa.

Saya teringat pada seorang asisten rumah tangga yang dulu pernah bekerja di rumah.  Suatu pagi, saya memintanya untuk mengelap kaca jendela.

“Ya, Bu,” jawabnya kala itu.

Siang harinya saya melihat kaca jendela masih belum bersih seperti yang saya inginkan.  Saya menanyakan hal ini padanya.

“Jendelanya sudah jadi dilap?”

“Sudah, Bu.”

“Itu di bagian atas masih berdebu.”

“Oh, saya lap yang di bawah aja, Bu.  Yang di atas nggak nyampe.”  Ia berkata dengan santai, seolah telah menyelesaikan tugas yang diberikan padanya.

Pada saat itu saya berpikir bahwa ia tidak berusaha untuk menuntaskan pekerjaan.  Tidak punya keinginan untuk berbuat lebih, tidak mau going extra miles.  Tidak berupaya untuk memberikan yang terbaik dalam menyelesaikan tugas, hanya sekedar mengugurkan kewajiban tanpa memperhatikan kualitas.  Namun menilik situasi yang dialami oleh sahabat yang menghubungi saya ini, saya merasa bahwa perlu juga sesekali kita hanya “mengelap bagian bawah jendela saja”.  Mengerjakan apa yang saat ini berada dalam jangkauan dan dirasa mudah. 

Pada saat pandemi ini, banyak tatanan yang berubah.  Kita juga perlu menata persepsi dan menyesuaikan standar dengan kondisi yang ada.  Jika kita tetap membebani diri dengan standar yang sama pada situasi yang berbeda ini, kemungkinan untuk mengalami stres akan lebih besar.  Kemampuan beradaptasi terkadang diabaikan atau bahkan tidak dilatih pada sebagian masyarakat.  Kita cenderung terpaku pada standar-standar yang kaku. 

Saya menceritakan kisah setengah jendela yang bersih ini pada sang sahabat.  Ia tertawa mendengarnya.

“Ok.  Sip.  Setengah jendela.  Aku bikin yang aku bisa aja kalau gitu, ya?”

Saya mengangguk dan segera menjawab, “Yup. Betul!” saat menyadari bahwa kami sedang berbicara melalui voice call, bukan video call. 😊

Saya menutup telepon dengan perasaan senang.  Senang mendengar tawa lepas sang sahabat dan berterima kasih pada asisten rumah tangga saya.  Selalu ada hikmah dari setiap peristiwa, in syaa Allah.

***

Sore tadi saya menghubungi sang sahabat, penasaran mengenai jalannya presentasi yang diceritakannya semalam.

“Gimana presentasi tadi siang?”

“Banyak revisi.  Ini lagi diberesin untuk diserahkan jam 16.00 besok ke klien.”

“At least ada tambahan waktu ya, to clean the other half of the window 😉,” tulis saya.

Ia menjawabnya dengan tawa.

“Sekarang sudah dapat big picture dari apa yang harus ditulis, kan?” saya menanyakan hal penting yang semalam dikeluhkannya.

“Sudah.  Tinggal mikir dan menuangkannya aja, nih.”   

Saya merasakan “nada” optimis dalam kalimat ini, sesuatu yang mampu untuk dikerjakan.  Jauh berbeda dengan kalimatnya semalam.  Padahal ini adalah proyek yang sama. 

Pada saat ia memutuskan untuk melakukan apa yang ia bisa saja, stresnya menurun.  Bebannya berkurang.  Tubuhnya relaks, sang sahabat dapat berpikir jernih.  Ia jadi punya energi untuk menyelesaikan “bagian bawah dari jendelanya”.   

Setelah melakukan presentasi tadi siang, ia mendapatkan tambahan waktu untuk melakukan revisi hingga besok sore.  Proses presentasi memberinya kesempatan untuk mencerna apa yang sebenarnya diinginkan klien.  Ia mempunyai cukup sumber daya untuk menyelesaikan “bagian atas dari jendelanya”.  Alhamdulillah.

Mutiara, 29 Juli 2021

Dian L Izwar


“Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.  Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.”

QS.Al-Insyirah 5-8


 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *