Introvert
Tadi pagi saya berbincang melalui pesan tertulis dengan seorang sahabat. Seharusnya kemarin kami belajar di kelas yang sama tetapi ia tak hadir. Ternyata ia sedang memiliki kegiatan di kota lain. Ia bercerita mengenai perjalanan pulang yang ia nikmati setelah “lelah” beraktivitas.
Ia menulis bahwa pekerjaannya cukup membuat lelah. Yang saya kagumi adalah alih-alih mengeluh karena harus berjalan kaki ke stasiun kereta untuk kembali ke rumah, ia malah menikmatinya. Ia memanfaatkan jalan kaki sendirian sebagai sarana charging, mengisi lagi baterai energinya yang tadi banyak terpakai.
“Apalagi buat introvert macam gue. Jalan santai menuju stasiun, gue nikmati banget,” tulisnya.
Ia seorang introvert, yaitu orang-orang yang sumber energinya berasal dari dirinya sendiri. Tipe introvert cenderung merasa lebih terkuras energinya saat berada bersama dengan orang lain. Mereka butuh waktu untuk menyendiri agar energinya kembali optimal. Hal ini sangat berbeda dengan tipe ekstrovert yang mendapatkan energi justru dari interaksinya dengan orang lain. Mereka tidak betah jika harus menghabiskan waktu seorang diri.
Bicara tentang introvert, saya teringat kisah seorang sahabat yang lain. Ia bercerita mengenai anak remajanya yang mengikuti tes psikologi online di internet kemudian memberi label dirinya berdasarkan hasil tes tersebut. Lalu, si anak bersikap sesuai dengan apa yang digambarkan oleh hasil tes. Aku introvert. Orang introvert lebih suka sendiri. Aku nggak mau ketemu banyak orang.
Dua pribadi dalam cerita di atas tergolong introvert. Mereka sama-sama tahu bahwa mereka lebih menikmati situasi di saat mereka sendirian. Namun kita dapat melihat terdapat perbedaan pada mereka berdua dalam menyikapi penerimaan dirinya sebagai introvert.
Si remaja menerimanya sebagai sebuah “harga mati”, seakan tak bisa berubah. Pemahaman mengenai diri menjadi penghalang baginya untuk beraktivitas. Ia membatasi diri untuk bertemu dengan banyak orang.
Sementara sang sahabat tahu bahwa sebagai introvert, ia butuh waktu untuk memulihkan energi setelah bertemu dengan banyak orang. Ia tidak menghidari situasi yang menguras energi tetapi mencari cara untuk kembali mengisi cadangan energinya. Ia tahu batasan dirinya dan paham bagaimana untuk dapat kembali pada keadaan mental yang seimbang.
Di samping itu, saya juga mengenal seorang introvert yang kemudian dapat dengan nyaman melakukan berbagai aktivitas ekstravert. Ia dengan sengaja melatih dirinya untuk mulai membuka percakapan dan berbincang lama dengan seseorang. Secara perlahan energinya tak lagi terkuras saat harus berada bersama banyak orang hingga akhirnya ia bisa menikmati pesta dan tidak merasa ada masalah saat menjadi pusat perhatian. Di sini kita lihat bahwa aspek kepribadian dalam diri seseorang seringkali tidak bersifat dikotomi melainkan sebuah kontinum. Dalam kaitannya dengan introvert dan ekstrovert, kita dapat membayangkan sebuah garis dengan introvert berada di satu ujung dan ekstrovert berada di ujung yang lain. Setiap orang dapat bergerak di sepanjang garis tersebut. Manusia adalah makhluk dinamis. In syaa Allah, setiap orang dapat berubah jika ia mau.
Oleh karena itu, kita perlu menghindari pemberian label yang dapat membatasi ruang gerak. Setelah mengenal diri dengan baik, kita perlu menerima diri apa adanya untuk kemudian terus mengembangkan diri. Mengenal, menerima dan mengembangkan diri adalah tiga unsur penting dalam upaya menjadi pribadi yang sehat mental. Terima apa pun keadaan kita saat ini dan teruslah berupaya untuk menjadi pribadi yang lebih baik, karena Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Wallahu a’lam.
Mutiara, 26 Februari 2023
Dian L Izwar
“Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
QS. At-Tin: 4
