Tak Sempat
Tadi pagi saya mendapat kabar duka. Sahabat yang waktu itu saya ceritakan tentang Mer telah berpulang. Saya sedih, tentu saja. Sedih karena kehilangan seorang sahabat baik. Masih terbayang diskusi-diskusi yang seru dengannya. Ia sering melihat tulisan-tulisan saya dari sudut pandang yang tidak biasa. Ia kritis menelaah setiap kalimat. Saya kehilangan seorang kritikus handal. Terlepas dari semua itu, saya juga sedih karena tak lagi punya kesempatan untuk bercerita dengannya.
Beberapa hari yang lalu, saat mendengar bahwa ia masih dirawat di rumah sakit, saya telah berniat untuk kembali meneleponnya. Namun beberapa hal membuat saya menunda melaksanakan niat itu. Ini yang membuat saya sedih. Saya kini telah kehilangan kesempatan untuk berbicara dengannya. Tak mungkin lagi saya bercerita padanya tentang Mer. Merpati itu ternyata memang jantan dan saat ini tengah mengeram bergantian dengan Mur, dara putih yang menjadi jodohnya. Sang sahabat tak bisa lagi mendengar lanjutan kisah Mer.
Saya teringat pesan guru saya, jangan menunda jika ingin melakukan sesuatu yang baik karena kesempatan sering tidak datang dua kali. Saya mengalaminya. Penundaan membuat saya tak bisa melaksanakan apa yang sudah saya niatkan.
Waktu yang terus berlari tak pernah bisa ditarik mundur. Larut dalam sesal tentu juga tak perlu, cukup jadikan pengalaman sebagai guru. Semoga kelak saat ingin bicara pada seseorang, teringat untuk bersilaturahmi atau kangen ingin bertemu, saya tidak lagi mengulur waktu.
Di dunia yang fana ini, kita hanya menunggu masa. Waktu berpulang dapat tiba kapan saja. Selagi masih ada waktu, bicaralah, kunjungilah, temanilah. Karena esok mungkin tak kan lagi bisa bersua, entah mereka atau kita yang dipanggilNya.
Selamat beristirahat, Sahabat. Semoga sakitmu menjadi penghapus dosa. Semoga ridamu atas kehendakNya menjadi pembuka pintu surga. Aamiin.
Mutiara, 20 Februari 2023
Dian L Izwar
“…Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dia kerjakan besok. (Begitu pula,) tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”
QS. Lukman: 34
