Oksigen untuk Dunia
Sejak muda, Ayah suka berkebun. Beliau senang menanam pohon dan sangat serius menekuni hobi tersebut. Meski hanya hobi, Ayah mempelajari teknik bercocok tanam dengan sungguh-sungguh. Beliau mempunyai banyak buku mengenai cara bertani, dari yang tipis sampai yang tebal, dari yang kecil sampai yang besar, dari cabai hingga durian.
“Yang pertama harus disiapkan itu tanahnya,” ujar Ayah suatu hari.
Tanah merupakan tempat tumbuh tanaman, jika tanah cukup memiliki unsur hara yang dibutuhkan maka apa yang ditanam di sana akan tumbuh dengan baik. Setiap tanaman menyukai tanah berhumus banyak.
“Lalu perhatikan airnya,” lanjut beliau dengan mata berbinar. Ayah selalu tampak senang saat membicarakan tanaman. Beliau telaten menyirami bibit kecil hingga akarnya cukup panjang untuk mencari sumber air sendiri.
“Sinar matahari juga penting. Pastikan setiap tanaman mendapat sinar matahari yang cukup. Atur jarak tanam dan pangkas dahan-dahan yang terlalu berdekatan.”
Banyak sekali yang diajarkan Ayah pada saya mengenai tanaman. Termasuk juga bagaimana menata cabang agar tampak indah dan memudahkan pada saat panen.
“Mengapa Ayah suka menanam pohon?” Tanya saya saat kami menikmati suasana kebun di desa.
Kala itu Ayah sedang bercerita bahwa beliau telah menanam pohon sejak masih berstatus pelajar. Bahkan semasa kuliah di fakultas kedokteran pun, pada saat libur kuliah beliau menyempatkan diri untuk pulang ke desa dan menanam beberapa pohon di kebun kami. Hasilnya adalah ada pohon durian Ayah yang usianya lebih tua dari saya. 🙂
“Pohon kan menghasilkan oksigen. Oksigen yang mereka hasilkan ini in syaa Allah bermanfaat untuk makhluk hidup di sekitarnya dan mungkin ada juga yang terbang jauh sampai ke Jakarta atau Eropa… hehehe…” demikian kurang lebih jawaban Ayah disertai tawa kecil.
Ini adalah cara Ayah membantu bumi. Prinsip Ayah, setiap orang perlu melakukan apa yang dia bisa. Banyak cara untuk melakukan kebaikan, salah satunya adalah dengan menanam pohon. Itulah sebabnya Ayah menanam pohon mulai dari kebun kami di desa, di halaman rumah kami di Jakarta sampai di lantai dua bangunan yang beliau gunakan sebagai tempat praktik. Ayah mempunyai tanaman buah dalam pot di atas tempat praktik beliau. Saya rasa, Ayah adalah dokter yang berjiwa petani. 🙂 Beliau menikmati proses merawat tanaman-tanaman itu, tampak bahagia menyambut tunas muda yang tumbuh dan memandang hijaunya daun yang menyegarkan.
Yang juga saya kagumi adalah meski sangat menyayangi tanaman, beliau tidak bersedih bila ada pohon yang mati.
“Kita ganti dengan pohon baru,“ ujar Ayah.
Kecintaan beliau pada tumbuhan senantiasa menimbulkan semangat. Selalu ada harapan yang muncul dari benih yang ditanam. Kesabaran beliau merawat tanaman dari kecil hingga tumbuh rindang dan berbuah adalah bukti cinta yang nyata.
Saya teringat saat beliau sakit, ketika sudah mulai merasa segar beliau langsung berjalan keliling kebun. Ayah seakan mendapatkan energi dari tanaman yang tumbuh di sana. Barangkali oksigen yang lebih kaya di sekitar tanaman memberikan kesegaran tertentu, seperti sejuknya udara yang kita rasakan di bawah pokok yang rindang.
Memandang pohon mangga di halaman, ingatan saya tentang Ayah menguat. Kenangan berkebun bersama dan hikmah yang dalam dari cerita-cerita santai saat kami bertani adalah pelipur rindu. Semoga pohon-pohon yang Ayah tanam terus tumbuh subur dan menghasilkan oksigen serta buah yang bermanfaat. Semoga semua itu akan mengalirkan kebaikan abadi untuk sang petani yang kemarin telah kembali pada Rabbnya.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu’anhu.
Mutiara, 3 Maret 2023
Dian L Izwar
“Tidaklah seorang muslim yang bercocok tanam atau menanam satu tanaman lalu tanaman itu dimakan oleh burung atau manusia atau hewan melainkan itu menjadi shadaqah baginya”.
HR. Bukhari
