Lihat Bahu, Bunda!

“Aku mau ikut Bunda shalat tarawih ke masjid.” 

Ma syaa Allah.  Tabarakallah.  Permintaan ini menghangatkan hati.  Gadis kecil saya rindu ke masjid.  Sejak pandemi Covid-19, baru Ramadan ini saya kembali tarawih ke masjid dan bidadari saya ingin turut serta.  Saya mengajaknya dengan hati gembira.  Sedari kecil ia memang suka ke masjid.  Semoga Allah tetap pautkan hatinya pada rumah tempat bersujud ini. 

Rasa bahagia mewarnai shalat tarawih bersamanya. Seusai salam, saya tersenyum ke arah bidadari cantik yang juga tengah menatap saya.

“Lihat bahu, Bunda.”

“Apa, Kak?”

“Kata Ustadz, kalau salam itu matanya lihat bahu,” ulangnya dengan serius.

“Oh, iya.  Betul.  Terima kasih, Sayang.”  Saya merespon dengan kesadaran penuh bahwa ia tengah mengoreksi gerakan salam saya.

Siswi yang baru mulai mengenakan seragam putih merah itu tersenyum.  Terkesan senang dapat berbagi pengetahuan baru yang didapatnya dari bapak guru.

Pada usia sekolah, anak mulai banyak berinteraksi dengan lingkungan di luar rumah.  Mereka juga akan belajar banyak dari interaksinya itu.  Relasi dengan guru-guru dan teman-teman di sekolah akan hadir sebagai bentuk belajar baru.  Baik dalam bentuk pelajaran yang diajarkan oleh guru secara formal atau pun kesimpulan-kesimpulan yang ia ambil dari hasil observasi dan pengalamannya dalam berhubungan dengan orang-orang di lingkungan sekolah. 

Layaknya seorang pelajar, informasi-informasi baru ini akan diterimanya sebagai sebuah kebenaran untuk kemudian disimpan sebagai modal dalam mengevaluasi peristiwa yang ditemuinya kelak.  Ia akan berespon terhadap “dunia” berdasarkan pengetahuan-pengetahuan yang disimpannya ini.  Oleh karena itu, sebagai orang tua kita perlu tahu hal-hal apa saja yang masuk ke dalam bank pengetahuan anak.  Ini penting karena data-data yang tersimpan akan berpengaruh pada pola pikir dan pola perilakunya di kemudian hari. 

Cara mudah untuk mengenali bank data anak adalah dengan mendengarkan pendapatnya.  Ia akan menyampaikan apa yang telah “disimpannya” dan dianggapnya penting.  Gadis kecil saya belajar bahwa pada saat salam di akhir salat, pandangan mata seharusnya mengarah pada bahu.  Ketika menemukan bahwa saya memandangnya dan bukan melihat ke arah bahu seusai salam, ia mengoreksi saya.  Inilah titik penting dalam berkomunikasi dengan anak usia sekolah.  Kita perlu secara terbuka menerima koreksi, umpan balik, komentar atau kritik yang disampaikannya.  Dengan demikian, kita tahu hal apa saja yang telah dipelajarinya yang berbeda dengan kebiasaan atau nilai-nilai di rumah. 

Memiliki respon yang tepat saat menghadapi kritik anak adalah seni yang perlu dimiliki oleh setiap orang tua.  Dalam kasus di atas, saya bisa saja berespon, “Tadi Bunda sudah lihat bahu, baru setelah itu Bunda lihat Kakak.”  Meski pun benar, respon ini akan terasa sebagai sebuah “penolakan” terhadap kritik yang disampaikannya.  Jika penolakan ini ditangkap oleh anak, maka ia akan berhenti mengkritik, tak lagi bicara, enggan berkomentar dan kita akan kehilangan salah satu cara mudah untuk mengetahui informasi apa saja yang telah disimpannya.  Lebih jauh lagi, saat ia enggan bercerita, kita tak tahu lagi apa yang telah dan sedang dialaminya.  Salah seorang klien saya menyimpan kejadian penting yang sangat mempengaruhi kesehatan mentalnya karena sikap orang tua yang tidak terbuka dalam berkomunikasi.  Sebuah luka yang dibawanya hingga dewasa. 

Tidak selalu mudah untuk berespon positif terhadap kritik anak.  Orang tua sering merasa lebih pintar dan lebih benar dari anak.  Meskipun kenyataan ini benar, menerima kritik anak dengan hati dan pikiran terbuka adalah sebuah poin penting dalam pengasuhan.  Di samping memahami apa yang dianggap penting bagi anak, sikap terbuka orang tua terhadap kritik juga akan menjadi teladan bagi anak dalam menerima kritik.  Ia akan menjadi pribadi yang mau mendengar masukan dari orang lain dan in syaa Allah akan memiliki relasi yang baik dalam mengembangkan kemampuan sosialnya.

“Gimana caranya, Mbak? Biar nggak bete dikritik anak?” tanya seorang sahabat.

“Positioning.  Posisikan diri kita sebagai pembelajar, bukan sebagai seseorang yang serba tahu dan serba bisa.  Sadari bahwa sebagai orang tua kita tidak sempurna dan kita juga bisa salah.  Terakhir, selalu ingat bahwa apa pun yang disampaikan anak adalah bentuk kasih sayangnya pada kita.  Mereka ingin kita menjadi lebih baik dalam kacamata kecilnya.” 

Bismillah.  Semoga Allah mudahkan kita untuk menjadi teladan sang buah hati dalam bersikap positif saat menerima kritik dan senantiasa berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.  Wallahu a’lam.

Mutiara, 29 Maret 2023

Dian L Izwar


Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.

QS. Al-Asr: 1-3


Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *