Menuju Takwa

Kita telah berada di penghujung Ramadan.  Tidak terasa bulan mulia ini akan segera berlalu.  Usai menjalankan ibadah puasa, apakah kita akan menjadi hambaNya yang takwa seperti narasi di bagian akhir ayat yang mengandung perintah puasa? 

Dulu saya berpikir puasa akan membuat orang menjadi takwa.  Allah mengatakan bahwa kita diwajibkan berpuasa seperti orang-orang sebelum kita agar kita bertakwa.  Jadi seusai menjalankan puasa tentu kita akan menjadi orang yang takwa. 

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, takwa didefinisikan sebagai (1) terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya; (2) keinsafan diri yang diikuti dengan kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya; (3) kesalehan hidup. 

Merujuk pada definisi takwa di atas, maka mulai dari 1 Syawal setiap muslim yang menjalankan puasa Ramadan akan menjalani hidup dalam koridor kesalehan.  Namun pada kenyataannya, yang kita temukan pasca Ramadan tidaklah demikian.  Puasa ternyata tidak otomatis membuat seseorang menjadi takwa.  Kenapa?

Kuncinya ada pada kata لَعَلَّكُمْ. Kata la’alakum berarti agar kalian, semoga kalian.  Kata la’ala adalah kata penghubung yang mengandung harapan, bukan memastikan.  Berpuasalah, semoga dengan berpuasa itu kalian menjadi takwa.  Semoga, tidak pasti menjadi takwa.  Ada harapan untuk menjadi takwa tetapi bisa jadi juga tidak.  Bagaimana bisa begitu?

Manusia memang diilhamkan Allah dua jalan, yaitu fujur dan takwa.  Allah dengan jelas menyebutkan hal ini dalam surat As-Syams ayat 8.  Allah memberikan dua jalan dan kita bebas memilih akan menempuh jalan yang mana. 

Kaitannya dengan puasa, saum berarti menahan diri.  Selama Ramadan, kita berlatih untuk menahan diri.  Kita membiasakan diri untuk mengendalikan dorongan-dorongan yang ada.  Latihan mengendalikan dorongan inilah yang diharapkan dapat membawa kita kepada jalan takwa.  Dengan bekal pembiasaan selama Ramadan, maka kita diharapkan akan dapat menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang Allah dan dengan taat melaksanakan semua perintahNya.  Agar berhasil, latihan ini tentunya perlu dilakukan dan dimaknai dengan sungguh-sungguh.  Saya ingat cerita seorang sahabat mengenai “lapar mata”.

“Sore-sore kan belanja takjil tuh.  Kayaknya semuanya enak.  Jadi semua dibeli.  Eh, pas udah berbuka, makan gorengan sama minum es aja sudah kenyang.  Nggak kemakan deh yang lain.”

Sang sahabat berpuasa.  Ia menahan diri untuk tidak makan minum dari fajar hingga magrib, tapi ia belum mengendalikan dirinya untuk tidak membeli segala macam penganan kecil menjelang waktu berbuka puasa.  Ia belum dapat mengukur kebutuhannya dan masih tergoda oleh tampilan yang memikat.  Hasil akhirnya adalah ia tidak bisa memakan semua yang ia beli.  Sebagai orang dewasa tentunya ia belajar dari pengalaman ini dan tidak mengulanginya pada keesokan hari.  Ini adalah salah satu bentuk pembelajaran selama puasa. 

Hikmah dari “lapar mata” ini hendaknya menjadi pedoman dalam bersikap seusai Ramadan.  Bila suatu saat ia terdorong ingin melakukan sesuatu, ia akan berpikir terlebih dahulu untuk kemudian bertindak dengan hati-hati.  Berhati-hati adalah salah satu arti dari kata takwa dalam bahasa Arab.  Orang yang takwa akan berhati-hati dalam menjaga dirinya agar selalu berada dalam batas-batas yang diizinkan Allah.

Jadi, puasa tidak otomatis menjadikan seseorang bertakwa.  Pemahaman mengenai makna menahan diri dan upaya untuk terus mengendalikan diri setelah usai puasalah yang in syaa Allah akan memudahkan kita melangkah di jalan takwa.  Wallahu a’lam.

Selamat menyambut hari yang fitri, Sahabat.  Semoga Allah mengampuni seluruh dosa kita.  Semoga Allah berikan hidayahNya agar kita menjadi hambaNya yang takwa.  Taqabballahu minna wa minkum.

Mutiara, 20 April 2023/29 Ramadan 1444 H
Dian L Izwar


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
QS. Al-Baqarah: 183


Bahan Bacaan:
Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah, Tafsir Al-Azhar, Jilid 1, Pustaka Nasional PTE LTD, Singapura, halaman 416-426.
Mahmud Yunus, Tafsir Quran Karim, Cetakan ke-74, 2006, PT. Mahmud Yunus Wadzuryah, Jakarta, halaman 37 -38.
Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Alquran, Volume 1, Cetakan ke-11, 2007, Lentera Hati, Jakarta, halaman 400-415

Enkos Kosasih dkk., Mudah Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 1, Cetakan 1, 2016, Maghfirah Pustaka, halaman 330-354.
Ahmad Hatta, Tarsir Qur’an Per Kata, Cetakan ke2, Agustus 2009, Maghfirah Pustaka.
Edward William Lane, An Arabic-English Lexicon: http://lexicon.quranic-research.net/data/03_t/054_tqw.html
Kamus Besar Bahasa Indonesia versi daring: https://kbbi.web.id/takwa

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *