Obat Rindu
“Marhaban ya, Ramadan… Marhaban ya, Ramadan…”
Senandung kecil terdengar dari balik kemudi saat kami sedang berkendara menuju rumah sehabis bersilaturahmi ke rumah kerabat dua hari yang lalu.
“Kangen, ya?” tanya saya.
Pria di balik kemudi itu tersenyum, “Iya.”
“Padahal baru 1 Syawal ya,” ujar ibu saya dari bangku belakang, “masih 11 bulan lagi Ramadan.”
“Iya. Baru lewat sehari aja, sudah kangen.”
Siang ini percakapan singkat di atas melintas di ingatan saya. Bila kita telah terbiasa dengan sesuatu, rasa kehilangan sering muncul ketika hal itu berakhir. Tampaknya demikian pula dengan Ramadan dalam penghayatan lelaki baik hati ini. Senandungnya mengisyaratkan ia rindu suasana bulan puasa yang baru saja berlalu.
Saya pun merasakan hal serupa. Kemarin, alarm saya masih berbunyi di waktu sahur dan saya bangun dengan segar. Ada dua pilihan saat saya terjaga dini hari kemarin, melanjutkan tidur karena tidak ada aktivitas sahur lagi seperti hari-hari sebelumnya atau tetap bangun dan beraktivitas seperti 30 hari terakhir meski tanpa harus makan sahur karena Ramadan telah berlalu.
Hidup pada hakikatnya adalah pilihan, apa yang kita pilih hari ini mempengaruhi apa yang akan kita alami esok hari. Demikian pula dengan kebiasaan bangun sahur. Bila kebiasaan ini kita pertahankan, maka in syaa Allah kita akan tetap mudah terjaga di sepertiga akhir malam. Namun apabila kita memilih untuk mengembangkan kebiasaan baru – tetap tidur hingga Subuh, misalnya – maka kebiasaan baru inilah yang akan menguat dan kemampuan untuk bangun di waktu sahur perlahan juga akan menghilang. Kita tahu bahwa kebiasaan terbentuk dari pengulangan. Sebuah perilaku akan menguat apabila dipertahankan dan sebaliknya akan menjadi semakin sulit untuk dilakukan apabila diabaikan.
Saya teringat anjuran berpuasa sunah 6 hari di bulan Syawal. Betapa sempurnanya ajaran nabi kita, disediakan sebuah sarana untuk tetap mempertahankan kebiasaan yang telah terbentuk selama Ramadan. Puasa 6 hari setelah Idul Fitri ini seakan obat rindu. Laku yang biasa di Ramadan mempunyai peluang untuk kembali terulang saat menjalankan puasa sunah ini. Ma syaa Allah. Semoga Allah mudahkan kita untuk mengamalkan puasa Syawal. Semoga Allah tetapkan hati kita di jalan takwa. Aamiin.
Mutiara, 24 April 2023/3 Syawal 1444 H
Dian L Izwar
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadan, kemudian ia ikuti dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, ia akan mendapat pahala seperti puasa setahun penuh.”
HR. Muslim
