Rezeki Cedera
“Nggak ikut PsikoRun?” tanya saya pada seorang sahabat.
Saya mengenalnya sebagai seorang yang gemar berjalan kaki dan senang bersepeda. Kedua aktivitas tersebut tengah diperlombakan dalam rangkaian acara Dies Natalis Fakultas Psikologi UI. Tak melihat namanya di daftar peserta mengusik rasa ingin tahu. Pasti ada alasan kuat yang membuatnya tak muncul diajang lomba dalam rangka mengumpulkan donasi beasiswa bagi mahasiswa kurang mampu ini.
“Nggak bisa untuk sementara. Lagi cedera. Jadi belum bisa jogging atau banyak naik sepeda. Bisa sih, tapi setelahnya sakit banget, mesti rest panjang. Jadi gak mungkin lah.” Jelasnya menjawab rasa penasaran.
Informasi ini membuat saya turut prihatin dan berdoa bagi kesembuhannya.
“Terima kasih. Seringkali cedera itu pun bentuk rezeki ya. Alhamdulillah,” jawabnya.
Cedera adalah bentuk rezeki? Bagaimana maksudnya?
Sang sahabat bercerita bahwa ini bukan pertama kali ia terluka. Dulu pun pernah. Keadaan itu ia syukuri. Cedera memaksanya untuk rehat, suatu hal yang sesungguhnya sangat ia butuhkan tetapi tidak ia sadari. Bergeming memberinya kesempatan untuk berpikir lebih jernih dan tenang, memberi jarak pada kebiasaannya yang kerap berpacu dengan waktu.
“Cedera buat gue jadi momen kontemplasi. Buat take time, take care of yourself, dan enjoy the little things. Menikmati aja apa yang ada.”
Ma syaa Allah. Ini adalah sudut pandang yang luar biasa. Pada saat kita mampu melihat sebuah peristiwa dari sisi ini, hidup akan selalu terasa indah.
“Sejauh ini, yang dilihat orang sebagai ‘musibah’, kadangkala bahkan seringkali, sebenarnya rezeki,” lanjutnya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, rezeki diartikan sebagai segala sesuatu yang dipakai untuk memelihara kehidupan (yang diberikan oleh Tuhan); makanan; nafkah; pendapatan; keuntungan. Seringkali fokus kita hanya pada bagian akhir dari definisi rezeki ini. Kita membatasi makna rezeki pada hal-hal yang kongkret dan menyenangkan.
Dalam makna yang lebih luas, segala sesuatu yang diberikan Allah untuk memelihara kehidupan adalah rezeki. Dalam kasus sang sahabat, cedera membuatnya lebih banyak diam. Ia tak bisa bergerak seleluasa biasa. Keadaan ini memberinya kesempatan untuk merenung dan mengambil keputusan yang lebih baik dalam hidupnya. Ia seperti dipaksa untuk berhenti dari segala ketergesaan. Cedera adalah sesuatu yang diberikan Allah untuk memelihara kehidupannya. Mencegahnya dari stres dan kelelahan panjang. Maka benarlah pemahamannya bahwa cedera merupakan rezeki. Cedera membuatnya lebih menghargai hal-hal kecil yang ia miliki, sesuatu yang dulu dianggap biasa saja.
Cerita sang sahabat ini mengingatkan saya pada ucapan Alhamdulillah ‘ala kulli haal. Segala puji bagi Allah atas setiap keadaan. Sejatinya, apa pun yang Allah berikan adalah baik. Kita hanya perlu meyakini hal ini, memandangnya sebagai rezeki. Keyakinan ini akan membuat kita lebih tenang dan ringan dalam menjalani hidup, seperti sang sahabat yang bersyukur atas cedera yang sedang menimpanya. Ma syaa Allah. Tabarakallah.
Mutiara, 31 Agustus 2023
Dian L Izwar
”Seorang mukmin itu bila mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur, karena bersyukur itu lebih baik baginya; dan bila ditimpa sesuatu kesulitan, maka ia bersabar, karena sabar itu lebih baik baginya.”
(HR. Muslim)
