Lapar Mata

“Ternyata aku lap-mat, Bunda,” ujar gadis kecil kami pada suatu ketika selepas magrib.  “Susunya buat besok aja,” lanjutnya seraya mengangsurkan susu coklat dalam kemasan ke arah saya.

Saya memang membebaskan si Cantik memilih sendiri menu berbuka puasa.  Hari itu ia membuat secangkir teh manis dan juga ingin menikmati susu coklat.  Ia menata kedua minuman tersebut di meja bersama dengan air putih yang telah tersedia. 

Setelah menikmati kurma dan kudapan ringan, ia merasa kenyang.  Siswi kelas 2 SD ini menyadari bahwa ternyata tadi ia hanya lapar mata.  Lap-mat, begitu kami menyingkatnya.  Kebutuhan akan minuman ternyata tidak sebanyak yang ia perkirakan sebelum berbuka.  Kesadaran ini tidak membuatnya memaksakan diri menghabiskan semua yang tersaji di atas meja.  Ia memilih minuman yang masih bisa disimpan untuk diminum kemudian.  Jadilah si susu kembali ke posisinya di lemari persediaan.

Alhamdulillah, kejadian hari itu membuat gadis kecil kami belajar mengenai kapasitasnya dalam mengonsumsi makanan pada saat berbuka puasa.  Pada hari-hari berikutnya ia hanya menyiapkan satu minuman pendamping air putih, hanya satu saja.  Saya tidak tahu pasti, tetapi sepertinya ia menjadwalkan sendiri kapan ia akan berbuka dengan susu, teh atau yogurt kesukaannya.  Ia tidak lap-mat lagi.  Alhamdulillah.

Fenomena lapar mata ini tidak hanya terjadi pada anak kecil.  Kita yang dewasa pun sering lapar mata.  Siapa yang pernah membeli berbagai takjil menjelang berbuka tapi hanya mampu menghabiskan sebagian saja? 🙂  Terkadang kita mengulangi pola yang sama.  Tanpa sadar kita memelihara si lapar mata.  Kita dengan sengaja tidak belajar dari pengalaman.  Kita abai akan kebutuhan riil tubuh serta kemampuan untuk menghabiskan makanan dalam satu waktu makan.  Kita cenderung memuaskan diri dengan jajan beragam camilan.  Dalam beberapa kasus bahkan menjejali tubuh dengan makanan yang sebenarnya tidak kita butuhkan.  Mengapa hal ini bisa terjadi?

Dalam teori lapisan jiwa dari DR. Bagus Riyono, fenomena lapar mata termasuk ke dalam sensing mentality, sebuah keadaan yang kurang optimal dari sisi kesehatan mental.  Individu dengan sensing mentality cenderung mengambil keputusan hanya berdasarkan data yang ada pada lapisan sensing saja. 

Sensing merupakan lapisan terluar dari jiwa, ia menghubungkan jiwa kita dengan dunia luar melalui indera.  Lapisan sensing memang berisi sensasi, termasuk di dalamnya rasa puas saat membeli beragam takjil atau bayangan nikmatnya menyuap bubur sumsum yang lumer di mulut.  Inilah yang membuat kita rasanya ingin membeli aneka takjil yang berjejer rapi di meja penjual.  Semuanya tampak menarik dengan sensasinya masing-masing.

Sejatinya, semua data penuh sensasi yang didapatkan oleh lapisan sensing ini akan diteruskan ke lapisan reasoning untuk diolah secara logis.  Pada individu dengan sensing mentality, hal ini tidak terjadi.  Informasi dari lapisan sensing langsung dijadikan data untuk mengambil keputusan karena lapisan reasoning tidak bekerja dengan baik.  Semua kudapan tampak menarik, maka semuanya dibeli.  Tidak ada evaluasi lebih lanjut terhadap semua hal menarik tersebut.

Lapisan reasoning seharusnya menganalisis apa yang sedang terjadi.  Mengapa saya harus membeli kolak pisang, risol, sop buah, cendol dan bakwan?  Untuk apa saya membeli kudapan sebanyak ini?  Apa tujuan saya makan?  Apakah semua kudapan ini memenuhi tujuan tersebut?  Reasoning perlu mendeteksi apakah tujuan makan akan terpenuhi dengan membeli sejumlah besar takjil atau cukup 1 atau 2 jenis saja. 

Terkadang tujuan makan demi menjaga kesehatan disamarkan oleh keinginan memenuhi sensasi untuk menikmati.  Alih-alih sehat, asupan yang diberikan pada tubuh terkadang malah berdampak buruk.  Tubuh menjadi kelebihan zat-zat tertentu bersamaan dengan kekurangan zat lain yang dibutuhkan.  Ini terjadi karena tujuan makan untuk menunjang kesehatan (rasional) telah beralih menjadi pemuasan selera (sensasional).  Reasoning-lah yang bertanggung jawab untuk mengingatkan kita akan hal ini. 

Lapisan reasoning yang berfungsi baik akan mencegah sikap impulsif dalam pengambilan keputusan.  Pada saat lapar mata, kita kerap membeli segala macam jajanan.  Sesampainya di rumah, kita baru menyadari telah membeli terlalu banyak makanan.  Individu dengan lapisan reasoning yang optimal jarang mengalami hal ini.  Ia akan berbelanja sesuai kebutuhan.  Reasoning yang baik membantunya mengambil keputusan dengan lebih rasional.

Salah satu cara untuk mengaktifkan lapisan reasoning adalah dengan mengajukan 3 pertanyaan logis sebelum memutuskan sesuatu.  Mengapa saya melakukan ini?  Untuk apa saya melakukan ini?  Apakah hal ini bermanfaat bagi saya dan atau lingkungan saya?  Jawablah ketiga pertanyaan ini dengan jujur, lalu tetapkan apakah Anda akan melaksanakan atau mengubah apa yang tadi telah Anda putuskan. 

Pada tahap awal kita perlu melatih kemampuan reasoning ini secara sadar.  Mengapa, untuk apa dan apa manfaatnya?  Selalu tanyakan 3 hal ini sebelum melakukan sesuatu.  Bila perlu buatlah catatan sebagai pengingat.  Jika sudah biasa, penalaran ini akan terjadi secara otomatis di lapisan reasoning.  Dengan demikian, keputusan diambil berdasarkan data sensing yang telah melewati pengolahan reasoning. 

Bismillah.  Semoga Allah mudahkan kita menjadi pribadi-pribadi yang bijak dalam mengambil keputusan.  Semoga Ramadan dengan segala dinamikanya membawa kita menjadi hambaNya yang lebih takwa.

Mutiara, 4 April 2024/ 24 Ramadan 1445 H
Dian L Izwar


Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tidaklah sama yang buruk dengan yang baik meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu. Maka, bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang berakal sehat agar kamu beruntung.”
QS. Al-Ma’idah: 100


Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *