Stress Outlet

Saat berbagi mengenai Tips Mengelola Kesehatan Mental di Tempat Kerja pada teman-teman di Komisi Pemilihan Umum kemarin malam, ada satu peserta yang bertanya,

“Bu, kalau saya sedang stres, saya suka menghindari hal yang membuat stres.  Saya tinggal dulu.  Biasanya saya pergi makan.  Tapi jadinya badan saya makin besar karena sering makan.  Jadi bagaimana yang sebaiknya, Bu?  Soalnya stresnya sering…” ujarnya disambut tawa rekan-rekan sesama peserta.

Saya tersenyum.  Siap memasuki dunia kerja berarti juga siap menghadapi stres di tempat kerja.  Rasanya agak sulit kita menemukan pekerjaan yang sama sekali tidak pernah menimbulkan stres.  Stres di tempat kerja adalah hal yang wajar. 

Kalau diperhatikan, apa yang dilakukan sahabat ini sudah benar secara konsep pengelolaan stres.  Apabila kita mengalami tekanan, prinsip pertamanya adalah menghindari sumber tekanan itu.  Namun sayangnya tidak semua sumber stres di tempat kerja bisa kita hindari.  Terkadang pekerjaan itu sendiri yang memicu stres. 

Nah, langkah relaksasi yang dilakukan sang sahabat pun sebenarnya tepat.  Pada saat berada dalam tekanan, tubuh kita menegang, pernapasan menjadi lebih cepat, denyut jantung meningkat dan kita tak dapat berpikir jernih.  Kita perlu membuat tubuh yang sedang tegang ini menjadi relaks dengan melakukan kegiatan yang kita senangi.  Dalam konsep pengelolaan stres hal ini dikenal dengan istilah stress outlet, yaitu sebuah kegiatan yang bisa kita nikmati prosesnya. 

Pada saat melakukan stress outlet, perhatian kita akan tertuju pada hal yang sedang kita kerjakan sehingga sumber stres pun “terlupakan”.  Hal ini membuat tubuh kembali pada keadaan yang relaks seperti sebelum mengalami stres.  Makin baik kita menikmati proses dalam aktivitas stress outlet, makin relaks pula tubuh kita. 

Dalam keadaan relaks, biasanya kita dapat berpikir jernih sehingga sesuatu yang awalnya dianggap sebagai hal yang berat dapat diselesaikan dengan lebih mudah.  Ide-ide penyelesaian masalah terkadang muncul begitu saja saat kita tidak sedang memikirkan masalah tersebut.  Inilah salah satu fungsi stress outlet.

Di samping itu, stress outlet juga berfungsi sebagai masa istirahat bagi tubuh agar tidak selalu berada dalam keadaan siaga.  Hal ini mencegah tubuh menjadi kelelahan atau yang dalam dunia kerja dikenal dengan istilah burnout, sebuah keadaan dimana seseorang mengalami stres yang berkepanjangan.

Nah, agar stress outlet tidak menimbulkan akibat sampingan – misalnya penambahan berat badan seperti yang disampaikan oleh sahabat di atas – kita perlu memilih kegiatan yang sifatnya lebih melepaskan dibandingkan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh.  Sebuah aktivitas yang membuat kita bergerak dan menyediakan peluang untuk berekspresi.

Aktivitas yang bisa kita lakukan di tempat kerja misalnya:

  • berjalan ke ruang terbuka sehingga bisa menikmati pemandangan
  • merapikan meja kerja
  • menyusun berkas-berkas kerja
  • menandai bagian penting dari buku atau catatan dengan penanda yang Anda suka
  • membersihkan data-data digital yang tidak lagi diperlukan
  • merencanakan kegiatan usai jam kerja bersama teman-teman
  • menghias meja kerja
  • menulis daftar “things to do” dengan menyelipkan aktivitas yang menyenangkan di antaranya
  • membuat video konten yang akan diunggah di media sosial
  • mengedit foto-foto di galeri
  • mengerjakan puzzle atau nano block
  • membuat origami
  • mewarnai
  • stretching atau olah raga ringan di meja kerja
  • menyapa dan menanyakan kabar anak, orang tua, pasangan atau orang yang kita sayangi
  • shalat dhuha bagi umat muslim adalah salah satu bentuk stress outlet yang baik. Bahkan proses relaksasinya dapat dimulai dari menyempurnakan wudhu. Saat kita menghayati makna dari setiap gerakan wudhu, pikiran kita akan fokus pada hal itu dan hal-hal yang menimbulkan stres in syaa Allah akan terlupakan.  Demikian pula semakin lama kita berzikir seusai shalat, semakin relaks pula tubuh kita.

Di samping itu, kita juga dapat membuat jadwal rehat berkala. Misalnya setiap 90 menit wajib berdiri dari kursi dan berjalan minimal selama 10 menit.  Hal ini akan membuat kita secara teratur memberikan jeda pada tubuh untuk beristirahat sehingga ia dapat memulihkan energi sebelum melakukan tugas yang berikutnya.  Pasanglah alarm untuk mengingatkan kita akan jadwal rehat ini.

Intinya, carilah aktivitas stress outlet yang bisa membuat kita asyik dan dapat mengekspresikan diri.  Menggambar atau menulis jurnal juga dapat kita lakukan sejenak di kantor.  Sahabat punya ide lain?  Mari berbagi di kolom komentar untuk makin memperkaya pilihan aktivitas stress outlet kita.

Hayamwuruk, 29 Agustus 2024
Dian L Izwar


“Barangsiapa yang berusaha menjaga diri, maka Allah menjaganya, barangsiapa yang berusaha merasa cukup, maka Allah mencukupinya. Barangsiapa yang berusaha bersabar, maka Allah akan menjadikannya bisa bersabar dan tidak ada seorang pun yang dianugerahi sesuatu yang melebihi kesabaran.”
HR. Bukhari


 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *