Mangga Hainan
Kala itu saya sedang berada di Hainan. Salah satu kebiasaan saya saat mengunjungi sebuah kota adalah menikmati buah khas yang ada di sana. Di antara berbagai jenis buah yang dijajakan, sebuah mangga besar bulat tampil menarik perhatian.
“Bisa langsung dikupas?” tanya saya dalam bahasa Inggris.
Sang penjual mengangguk dan dengan cekatan mempersiapkan pesanan kami. Sebuah mangga ranum dikupas dan dipotong-potong. Saya memperhatikan bagaimana ia mengiris daging mangga dengan sangat efisien hingga menyisakan biji yang hampir tak berdaging. Ia memperlihatkan biji mangga itu pada saya lalu membuangnya. Saya tersenyum seraya menerima potongan mangga dalam wadah plastik bening dilengkapi tusukan kecil untuk mengambilnya. Sang penjual sepertinya paham bahwa mangga ini akan dikonsumsi selama perjalanan.
Saya dan suami menikmati buah oranye itu di dalam bus wisata yang mengantar kami berkeliling kota. Alhamdulillah, kesegarannya menambah rasa syukur sekaligus menimbulkan keinginan untuk menikmatinya lagi. Rekan seperjalanan yang ikut mencicipi juga menyukai buah mangga di negeri Tirai Bambu ini. Enaknya bikin pengen nambah.
Pada kesempatan berikut, saya kembali membeli mangga. Sama seperti sebelumnya, saya juga meminta agar buahnya langsung dikupas. Berbeda dengan penjual pertama, kali ini saya perhatikan sang penjual tidak mengiris semua daging buah ranum itu sehingga masih banyak daging yang menempel di biji. Saya dan suami berpandangan. Merasa sayang daging mangga setebal itu akan terbuang. Namun ternyata sang penjual menempatkan biji mangga tersebut dalam sebuah kantong plastik dan memberikannya bersama potongan daging buahnya. Saya dan suami tersenyum.
“Mesti sabar sampai prosesnya selesai,” ujar suami memahami kekhawatiran saya akan biji mangga yang mungkin akan terbuang tadi.
Saya tersipu.
Kami pun berjalan ke arah bus yang sudah menanti.
“Bunda ke toilet dulu, ya.” Pamit saya sambil menyerahkan bungkusan mangga pada suami saat melihat papan penunjuk arah menuju kamar kecil.
Seperti biasa, toilet umum di tempat wisata cukup ramai. Saya agak lama berada di sana.
Saat berjalan menuju bis, saya melihat suami berbincang dengan teman-teman seperjalanan kami di sekitar bus. Sepertinya mereka menunggu saya. Beberapa anak menyapa ramah sebelum saya menaiki bus. Saya pun ikut naik.
Setelah duduk dengan nyaman, saya siap menikmati mangga ranum tadi. Suami menyodorkan kantong plastik berisi biji mangga. Saya membalas dengan tatapan penuh tanya.
“Rezeki, Bunda,” jawabnya sambil tersenyum.
Rupanya saat saya ke toilet, beberapa anak yang belum naik ke bus melihat bungkusan mangga yang kami beli. Pandangan harap dari mata anak-anak itu membuat suami saya menawari mereka. Dengan bahagia, anak-anak tersebut melahap potongan mangga yang ada hingga tersisa hanya bijinya saja.
Ma syaa Allah. Saya tersenyum mendengar cerita habisnya potongan mangga itu. Rupanya rezeki saya dari mangga tersebut adalah daging yang masih menempel di biji. Dagingnya memang seperti sengaja disisakan untuk dinikmati langsung dari bijinya. Sensasi mengigit dan mengisap daging mangga yang menempel di biji tersebut memberi kenikmatan tersendiri. Alhamdulillah.
Saya kembali teringat kejadian di Hainan ini saat beberapa hari yang lalu tukang kebun memberikan sebuah mangga apel yang ranum. Mangga itu matang di pohon. Buahnya berwarna orange, manis, segar dan sangat wangi. Ma syaa Allah, nikmat sekali. Saya tidak melihat buah mangga itu selama ini, mungkin tertutup dedaunan. Sebaliknya ada satu buah yang hampir setiap hari saya lihat dan saya tunggu-tunggu ranum justru saya temukan telah dimakan kelelawar saat saya pulang. Hanya sehari tak ditengok, paginya sudah dimakan kelelawar. Dia matang pas pada saat saya sedang tidak ada di rumah.
Kejadian-kejadian ini membuat saya makin menyadari bahwa rezeki kita telah diatur. Apa yang dapat kita nikmati telah ditentukan. Kita perlu berupaya untuk menjemput rezeki yang telah Allah tetapkan. Namun tidak perlu terlalu sedih atau kecewa bila apa yang kita inginkan luput dari kita. In syaa Allah akan ada gantinya. Apa yang memang menjadi milik kita akan datang pada kita, in syaa Allah.
Mutiara, 30 November 2024
Dian L Izwar
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya.” Suatu apa pun yang kamu infakkan pasti Dia akan menggantinya. Dialah sebaik-baik pemberi rezeki..”
QS. Saba’: 39
