Sendiri
“Saya selalu sendiri, Bu.”
Mata perempuan itu berkaca-kaca. Pilu tergambar di wajahnya. Kekecewaan mengalir dalam untaian cerita yang saya dengarkan dengan seksama.
Saat berada pada titik terendah, sosok yang diharapkan menjadi tempat bersandar tak menunjukkan perhatian. Perempuan muda ini marah. Namun juga sedih, hatinya terluka. Meski peristiwanya telah lama, lukanya masih sangat terasa.
“Saya sakit, Bu. Dirawat di rumah sakit… dan dia tidak peduli!” Tangisnya pecah.
Air mata membanjiri raut cantik di hadapan saya. Seperti biasa, saya biarkan air matanya turun. Biarlah sungai jernih itu membasuh lara yang ada.
“Saya benar-benar sendiri, Bu.” Ujarnya di sela isak.
“Lalu bagaimana Mbak bisa melewati masa-masa itu?” tanya saya saat tangisnya mereda.
“Ada orang-orang baik yang membantu. Orang lain. Mereka yang membantu saya.”
“Siapa yang menggerakkan orang-orang itu untuk membantu?”
Sejenak perempuan muda itu menatap saya. Seolah ingin mendengar lanjutan dari pertanyaan yang saja ajukan.
Saya menunggu.
Kemudian dia berkata pelan, “Allah?”
Saya tersenyum. “Ya. Allah.”
Perempuan itu menunduk, mengalihkan pandangan pada jemari tangannya.
“Kita tidak pernah benar-benar sendiri. Allah selalu bersama kita.”
Ia kembali menatap saya, kemudian mengangguk. “Iya, Bu. Bener. Ada Allah.”
Lalu kami berbincang mengenai bagaimana orang-orang baik telah menolongnya melalui masa-masa sulit, bagaimana bantuan datang dan membuat ia bertahan. Kami berbincang mengenai berbagai kejadian yang sebenarnya adalah anugerah, mengenai banyak hal yang sejatinya perlu disambut dengan alhamdulillah. Kami berbincang mengenai kebaikan-kebaikan yang selama ini hadir, namun luput dari perhatiannya.
=====
Dalam menjalani hari, terkadang kita terlalu berharap pada seseorang. Seakan seluruh hidup kita bergantung padanya. Saat ia tidak memberikan perhatian atau perlakuan seperti yang diharapkan, kita menjadi sedih dan kecewa. Kita merasa sendiri, tidak berharga, tidak berdaya, tidak dicintai.
Padahal kita tak pernah sendiri. Ada Allah yang selalu melindungi, Rabb yang menguasai seluruh alam. Allah yang Maha Teliti tidak pernah lengah. Ia yang Maha Penyayang amat mengasihi hambaNya. Meyakini hal ini akan membawa kita pada harapan dan semangat. In syaa Allah semua kesulitan ada jalan keluarnya.
Menyandarkan harapan pada yang Maha Kuasa adalah kunci utama untuk dapat terus melangkah dengan kepala tegak, terlepas dari apa pun yang sedang kita alami. Menyadari kehadiran Allah dalam hidup ini akan membuat kita memilki sandaran. Kita tak akan merasa sendirian.
Allah terkadang memberi pertolongan dari arah yang tak kita sangka. Mungkin bukan dari orang yang kita harapkan, tetapi pertolongan itu tetaplah datang. Di sinilah pentingnya untuk senantiasa membuka mata, memaknai lingkungan dan pengalaman kita dalam bingkai kasih sayang Allah. Bila sudut pandang ini telah menjadi worldview, bisa jadi kita bahkan akan berucap terima kasih pada orang yang pernah menorehkan luka. Bersyukur karena perlakuannya telah membuat kita lebih peka dalam merasakan kasih sayang Allah. Wallahu a’lam.
Mutiara, 17 Mei 2025
Dian L Izwar
“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
QS. Al-Baqarah: 186
