Gulai Putih

Percakapan ini terjadi dua hari yang lalu.
“Bunda pernah makan lontong sayur yang isinya buncis, wortel dan kentang?”
“Pernah. Ayah mau dibikinin buat sarapan besok?”
“Boleh.”
“Oke, in syaa Allah.”

Alhamdulillah, kemarin pagi lontong sayur sesuai permintaan terhidang di meja makan.  Kami pun makan bersama.
“Enak, Yah?”
“Enak.”
“Seperti yang Ayah bayangkan?”
“Nggak.”
Oo… Saya menahan napas menunggu lanjutan kalimatnya. Saya sudah memasak lontong sayur ini seperti yang diminta kemarin. Sayurnya terdiri dari tiga macam: wortel, buncis dan kentang. Kuahnya sengaja saya buat banyak dan agak encer sesuai selera sang pemesan menu.

“… ini kuahnya merah.  Dalam bayangan Ayah kuahnya putih, cabenya diiris aja.”

Hmm… informasi kuah putih ini yang tak sampai. Lontong sayur dalam bayangan saya menggunakan cabe merah yang digiling halus. Bila disebut masak tauco atau gulai putih barulah saya membayangkan kuahnya berwarna putih dengan cabe yang diiris.

Saya tersenyum, inilah seni dalam sebuah relasi. Meski telah puluhan tahun bersama, persepsi yang berbeda tetap ada. Saya memang tak mengklarifikasi sampai dengan warna kuah gulai. Suami saya juga tak menerangkan dengan rinci warna kuahnya. Kami berdua merasa telah membicarakan hal yang sama tanpa menyadari bahwa referensi yang kami gunakan berbeda.

Dalam konteks rumah tangga, perbedaan ini bisa terjadi dalam lingkup yang lebih luas. Tidak hanya sekedar soal menu di meja makan, cara pengasuhan anak, relasi dengan keluarga besar atau hal lainnya juga memiliki potensi untuk terjadinya perbedaan persepsi. Dua pribadi dengan latar belakang dan pengalaman hidup yang beragam sangat mungkin memiliki persepsi yang berbeda, bahkan terhadap hal yang sama.

Bagaimana kita menyikapi perbedaan persepsi akan mempengaruhi rasa dan kualitas dari relasi yang ada.  Dalam kasus lontong sayur di atas, saya bisa dengan santai berkata, “Oke, besok in syaa Allah kita bikin versi kuah putihnya.” Case closed.  Atau, saya juga bisa menanggapi kejadian ini dengan penuh drama; 3 pekan nggak mau masuk dapur.  Reaksi yang saya pilih akan mempengaruhi juga respon suami terhadap hal ini.

Sikap saling memahami serta tidak saling menyalahkan adalah pilihan terbaik. Kita perlu menyadari bahwa semua pihak sesungguhnya benar dengan persepsimya masing-masing. Perbedaan terjadi karena rujukan yang berbeda, bukan sesuatu yang disengaja. Pemahaman ini akan membuat kita lebih lapang dalam menerima konsekuensi yang muncul akibat perbedaan persepsi tanpa harus merasa bersalah atau menyalahkan pihak lain.  Hubungan pun makin harmonis, in syaa Allah.

Cempaka Putih, 18 Mei 2025
Dian L Izwar


“Permudahlah dan jangan mempersulit, dan jadikan suasana yang tenteram, jangan menakut-nakuti”
HR. Muslim


 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *