Elan
Namanya Elan. Saat pertama bertemu, saya langsung suka padanya. Elan sangat bersahabat. Ia biarkan saya mengusap kepalanya. Ia berikan pipinya untuk dibelai.
“Kalau begini kita jadi sayang ya,” ujar ibu saat memandang interaksi saya dengan Elan.
“Rasanya pengen dipelihara, kasihan melihat dia disembelih,” lanjut beliau.
Saya mengangguk. Rasa sayang hadir begitu saja. Domba jantan berkalung nomor 69 itu telah merebut hati saya.
Rasa ingin memiliki menyelinap ke dalam hati. Ada harap ia terus ada. Ingin saya berlama-lama memandangnya, membelainya, menyuapinya dengan dedaunan muda. Bahagia rasanya melihat domba putih dengan “eye shadow” hitam itu memamah pakan yang saya berikan. Terbetik keinginan untuk terus menikmati momen ini hingga besok, besoknya, dan besok lagi. Haruskah dia “pergi”?
Sambil memandang Elan minum dari ember oranye yang disediakan untuknya, saya menarik napas panjang. Bukankah memang ini esensi berkurban? Melawan rasa ingin memiliki, meninggalkan kesenangan diri, merelakan hal yang berharga pergi. Ikhlas. Rela. Berkurban adalah melepaskan sesuatu yang berharga semata demi mendekatkan diri pada Allah subhanahu wata’ala.
Setiap 10 Zulhijah kita sangat dianjurkan untuk berkurban, melanjutkan risalah Nabi Ibrahim yang Allah perintahkan untuk menyembelih Nabi Ismail. Menyembelih ananda yang telah ditunggu lama, memberikan hal yang sangat berharga dilakukan Nabi Ibrahim dengan hati rela. Bukankah cinta tertinggi hanya untuk Allah?
Sunah yang kuat untuk menyembelih hewan kurban adalah isyarat agar kita selalu ingat. Sudahkah kita melepaskan sesuatu yang berharga untuk lebih mendekat pada Yang Maha Memelihara?
Menjelang ritual bernilai sosial di hari mulia ini saya merenungkan apa-apa yang selama ini saya peluk erat. Adakah yang bisa saya relakan agar saya dapat lebih mendekat pada Yang Maha Penyayang?
Dari segala kesibukan saya melalui hari, bagian mana yang bisa saya reorientasi?
- Memangkas jam tidur guna menambah lama sujud?
- Mempersingkat netflix’s time agar khataman lebih cepat?
- Mengurangi jajan supaya bisa berinfak lebih banyak?
- Skip beberapa jadwal ngafe sehingga bisa makin sering jalan bareng Ibu?
- Apa yang secara rela dapat saya lepaskan untuk meraih ridaNya?
Bismillah. Apa pun itu, semoga Allah mampukan saya. Semoga Allah mampukan kita. Semoga Allah menerima kurban yang kita sembelih esok hari dan semua yang kita kurbankan di hari-hari berikutnya.
Selamat menyambut Idul Adha, Sahabat. Rabbana taqabbal minna.
Mutiara, 9 Zulhijah 1446 H/5 Juni 2025
Dian L Izwar
“Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).”
QS. Al-Kausar: 1-2
