Donat Ubi dan Lapis Daging

“Lagi apa?” sebuah pesan muncul di ponsel saya sore ini.

“Lagi makan ikan..” saya menjawab apa adanya.

“Ada di rumah, kan?”  lanjutnya.

“Yup” tulis saya.

Kemudian sebuah foto tampil di layar ponsel. 

“Mau kirim donat ubi,” demikian pesan yang ada di bawah foto barisan donat yang tampaknya baru matang.  Tampilannya menggiurkan.

“Wah, lagi senang masak ya?” tanya saya.

“Sudah niat mau kirim sejak dua minggu yang lalu.. yang pertama gagal, yang kedua keburu habis.  Kali ini dipisahin dulu biar bisa dikirim,” demikian jawaban yang saya terima.  Penjelasan panjang yang membawa kehangatan di hati.  Bukan soal donatnya tapi perhatiannya.

Beberapa saat kemudian bel di rumah berbunyi.  Seorang pengemudi ojek online berdiri di depan pagar.  Sekotak donat ubi muncul di rumah saya, lengkap dengan gula halusnya.   Donat dengan taburan tipis gula halus adalah favorit saya. 

Saya menghangatkan donat itu dan menikmatinya bersama suami, tak lupa mengirimkan foto saat kami sedang makan disertai ucapan terima kasih kepada sang pengirim.

“Yummy…” tulis saya di bawah foto donat yang terkirim.  Donat itu menang enak.  Teksturnya lembut dan manisnya pas di lidah. 

“Duh, kangen banget…” demikian pesan yang dikirimkan pada saya menjawab foto tersebut.  Dilanjutkan dengan berbalas komentar yang mengundang tawa.  Percakapan singkat via media sosial yang membawa kehangatan panjang di hati. 

Di masa pandemi ini, saat otoritas Jakarta kembali memberlakukan pembatasan sosial berskala besar secara total, saling mengunjungi bukanlah pilihan namun selalu ada acara untuk menyambung silaturahmi.  Selalu ada cara untuk menunjukkan perhatian.  Selalu ada cara untuk menciptakan kehangatan dalam sebuah relasi.  Mengirimkan makanan adalah salah satunya.

Ingatan saya melayang pada sekitar 3 atau 4 pekan yang lalu.  Saya mendapatkan kiriman nastar.  Kue kering yang biasa hadir saat lebaran itu adalah favorit saya.  Seorang kerabat mengirimi saya kue itu.  Saya sangat suka nastar buatannya, rasanya mirip dengan nastar yang pernah saya makan di zaman SMP dulu – yang membuat saya menobatkan nastar menjadi kue kering favorit.  Saya bercerita tentang ini saat pertama mencicipi nastarnya.  Bukan bermaksud memuji namun memang begitulah adanya.  Nastarnya sesuai dengan selera saya.  Komposisi manis asam selainya pas, demikian pula konsistensi selai dan perbandingan jumlah selai dengan adonan luarnya.  Selanjutnya hampir setiap lebaran saya mendapat kiriman nastar.  Tapi kan Lebaran telah lama lewat, dalam rangka apa saya mendapat kiriman nastar?

“Lagi nemu nenas yang bagus buat bikin selai,” alasannya sederhana saja.  Alasan sederhana yang mengandung perhatian yang dalam.  Ia mengingat saya, dan… surprise! Dua toples nastar hadir di meja saya.  Hmm.. jangan ditanya sekarang tinggal berapa yaa… 😊

Mengetahui kesukaan orang-orang yang dekat dengan kita, kemudian menghadirkannya untuk mereka adalah hal yang bisa dilakukan oleh siapa saja.  Usaha kecil yang membawa arti besar bagi ikatan cinta.  Memberikan kesan dekat saat berjauhan.  Mengobati rindu saat lama tak bertemu.  Membuka alasan berbincang setelah jeda yang panjang.  Menciptakan pengalaman untuk dikenang.

Waktu kecil, apabila berada di rumah Nenek, saya akan mendapati lapis daging di lemari makan.  Nenek tahu saya sangat suka lapis daging buatan Nenek dan setiap ada kesempatan, Nenek akan membuatkannya khusus untuk saya.  Saya merasa menjadi cucu yang istimewa.  Sebuah rasa yang tidak bisa digantikan oleh apa pun. 

Nenek tidak hanya membuat saya yang merasa istimewa.  Nenek juga tahu bahwa adik saya sangat menyukai gulai usus.  Nenek pun membuatkan khusus untuknya.  Ia pun merasa istimewa.  Nenek tahu kesukaan kami.  Nenek menggunakan kemahirannya di dapur untuk menyenangkan cucu-cucunya.  Menghadirkan kegembiraan di hati kami.  Melihat kami makan dengan lahap, Nenek tampak bahagia.  Kebahagiaan yang belakangan ini juga saya rasakan saat menghadirkan makanan istimewa bagi orang-orang yang saya sayangi. 

“Ini lemang paling enak yang pernah Mama makan. Lembut dan santannya terasa,” ucap Ibu saat menikmati lemang buatan saya. 

Rasa bahagia saya saat mendengarkan kalimat itu tak dapat saya gambarkan.  Saya tahu Ibu suka sekali masakan yang terbuat dari ketan, apalagi jika ditambahkan santan.  Saat mendapatkan kiriman video di media sosial yang berisi tips membuat lemang dengan menggunakan cangkir, saya ingat sudah lama sekali Ibu tidak makan lemang.  Saya buatkan lemang dengan ekstra santan untuk beliau, berharap dapat mengobati kerinduan akan penganan khas ini.  Saya belajar dari Nenek, menghadirkan kebahagiaan melalui makanan.  Semoga pahala kebaikan senantiasa mengalir bagi Nenek. 

Saya gembira saat menerima makanan yang dipersiapkan khusus untuk saya.  Saya merasakan perhatian dan kasih sayang mengalir melalui makanan itu. 

Saya juga merasa senang saat membuatkan makanan favorit bagi orang-orang yang saya sayangi.  Binar di mata mereka menghadirkan kehangatan di hati.    

Bagaimana dengan Anda?

Mutiara, 3 Oktober 2020

Dian L Izwar


Sesungguhnya amal yang paling disukai Allah SWT setelah melaksanakan berbagai hal yang wajib adalah menggembirakan muslim yang lain.

HR. Ibnu Abbas


Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *