Sehat Mental
Beberapa waktu yang lalu seorang klien menghubungi saya. Ia bertanya apakah saya bisa menjadi pembicara dalam acara sharing mengenai kesehatan mental di masa pandemi yang akan diadakan bagi karyawan di kantornya. Saya menjawab, “In syaa Allah, bisa.” Saya selalu senang jika mendapat kesempatan untuk berbagi, apalagi mengenai kesehatan mental, sesuatu yang menurut saya perlu diketahui oleh setiap orang namun sering terabaikan. Saya pikir ada baiknya juga apabila saya menulis mengenai hal ini, apalagi besok adalah tanggal 10 Oktober yang diperingati sebagai hari kesehatan mental sedunia. Semoga tulisan kecil ini dapat menjadi pengingat bagi kita semua untuk senantiasa memelihara kesehatan mental kita.
WHO mendefinisikan kesehatan mental sebagai a state of well-being in which the individual realizes his or her own abilities, can cope with the normal stresses of life, can work productively and fruitfully, and is able to make a contribution to his or her community. Berdasarkan definisi ini seseorang dapat dikatakan sehat secara mental apabila ia memenuhi 4 kriteria sehat mental, yaitu menyadari kemampuan dirinya, mampu mengelola stres dalam kehidupan sehari-hari, mampu bekerja secara produktif dan dapat berkontribusi bagi komunitasnya.
Lebih jauh, Galderisi dkk. (2017) menyatakan bahwa kesehatan mental adalah a dynamic state of internal equilibrium which enables individuals to use their abilities in harmony with universal values of society. Kesehatan mental adalah keadaan dinamis dari ekuilibrium internal seseorang yang memungkinkan ia untuk menggunakan kemampuan-kemampuannya secara harmonis dengan nilai-nilai yang berlaku umum dalam budayanya. Ekuilibirium dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti keadaan mantap karena kekuatan-kekuatan yang berlawanan, setimbang atau sepadan. Ekuilibrium internal adalah keadaan setimbang, stabil dan tenang secara psikologis dalam diri seseorang.
Dalam konsep kesehatan mental, Galderisi mengatakan bahwa keadaan ekuilibrium dalam diri seseorang bersifat dinamis. Hal ini berarti bahwa keadaan yang stabil dan tenang tersebut dapat berubah dari kesetimbangan awal menjadi kesetimbangan baru sesuai dengan tantangan yang dihadapi atau tahap kehidupan yang sedang dijalaninya. Inti dari kesehatan mental adalah terciptanya ekuilibirium dalam diri seseorang pada saat ia menghadapi tantangan apa pun dalam hidupnya sehingga ia tetap dapat mengaktualisasikan potensi yang ada dalam dirinya.
Galderisi mengemukakan ada 4 komponen utama yang mempengaruhi ekuilibirium internal seseorang, yaitu: keterampilan kognitif dan sosial dasar; kemampuan untuk menyadari, mengekspresikan dan mengelola emosi diri dan berempati pada emosi orang lain; fleksibilitas dan kemampuan untuk mengatasi hal-hal yang tidak diinginkan dalam kehidupan dan peran sosial; hubungan yang harmonis antara tubuh dan pikiran. Penguasaan yang baik pada keempat komponen ini memudahkan kita dalam menciptakan ekuilibrium internal.
Sehat Mentalkah Saya?
Saya ingin menggunakan empat komponen dari Galderisi untuk mengevaluasi apakah kita memiliki ekuilibrium internal yang baik. Ekuilibrium internal merupakan syarat agar kita dapat menggunakan kemampuan yang kita miliki secara optimal dan dapat dikatakan sehat mental. Evaluasi ini sekaligus dapat kita jadikan acuan untuk lebih mengembangkan komponen yang belum optimal sehingga in syaa Allah kita akan menjadi pribadi yang senantiasa memelihara kesehatan mental kita.
- Keterampilan kognitif & sosial dasar
Hal ini mencakup kemampuan untuk memperhatikan, mengingat dan mengelola informasi, menyelesaikan masalah, membuat keputusan serta mengunakan kemampuan verbal dan nonverbal yang dimiliki untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain.
Kemampuan komunikasi yang efektif secara verbal dan nonverbal merupakan hal yang penting untuk dikembangkan guna mencapai ekuilibrium internal pada kita saat berhubungan dengan orang lain.
- Kemampuan untuk menyadari, mengekspresikan dan mengelola emosi diri dan berempati pada emosi orang lain.
Kemampuan mengenali dan mengelola emosi merupakan langkah pertama dalam mengelola stres. Kegagalan seseorang dalam mengenali dan mengelola emosi dapat meningkatkan risiko timbulnya gangguan mental dan fisik. Untuk mencapai ekuilibrium internal, kita perlu menyadari setiap emosi yang kita rasakan, menerima emosi tersebut dan mengekspresikannya dengan cara yang dapat diterima oleh budaya setempat.
Empati adalah kemampuan untuk memahami apa yang dirasakan oleh orang lain. Dengan berempati kita dapat mengendalikan diri dan belajar melihat sudut pandang lain. Kemampuan empati yang buruk meningkatkan peluang terjadinya kekerasan dan interaksi sosial yang tidak sehat.
- Fleksibilitas dan kemampuan untuk mengatasi hal-hal yang tidak diinginkan dalam kehidupan dan peran sosial.
Fleksibilitas adalah kemampuan seseorang untuk mengubah perilaku atau pikirannya pada saat mengalami hal yang tidak terduga atau menemukan bukti baru mengenai sesuatu. Fleksibilitas yang buruk akan menimbulkan stres yang berat pada orang-orang yang mengalami perubahan bermakna dan atau mendadak dalam hidupnya.
Kemampuan untuk melakukan peran-peran sosial dan terlibat dalam interaksi sosial yang bermakna dapat meningkatkan daya lenting seseorang dalam menghadapi stres dan membantu terciptanya ekuilibrium internal.
- Hubungan yang harmonis antara tubuh dan pikiran
Pikiran seseorang sangat berkaitan dengan otak, tubuh dan lingkungannya. Apa yang dipikirkan akan berpengaruh pada tubuh seseorang. Pikiran yang positif akan memiliki dampak yang positif pula pada tubuh. Demikian pula tubuh yang sehat akan memberikan pengaruh positif pada pencapaian ekuilibrium internal.
Semoga kita dapat semakin mengembangkan diri dalam empat komponen di atas. Semakin baik penguasaan kita dalam keempat komponen tersebut, semakin mudah pula ekuilibrium internal tercipta dalam diri kita, in syaa Allah. Semoga kita senantiasa menjadi pribadi yang stabil secara psikologis. Salam Sehat Mental.
Mutiara, 9 Oktober 2020
Dian L Izwar
Siapa yang menyongsong pagi hari dengan perasaan aman terhadap lingkungan sekitar, kondisi tubuh yang sehat, serta adanya persediaan makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dia telah memperoleh seluruh kenikmatan dunia.
H.R. Tirmidzi
Bahan bacaan:
Galderisi, S., Heinz, A., Kastrup, M., Beezold, J., & Sartorius, N. (2017). A proposed new definition of mental health. Psychiatria Polska, 51(3), 407-411.

Bagus banget, sangat bermanfaat
Terimakasih mbak Dian….
Alhamdulillah. Terima kasih, Mbak Centa..