Lapisan Jiwa
Tadi pagi saya mendengarkan kuliah dari Ascct Prof. Dr. Bagus Riyono, MPsi, Psikolog secara daring. Ini adalah materi ke-7 yang beliau sampaikan dalam seri kuliah mengenal manusia dari perspektif psikologi Islam yang saya ikuti. Saya ingin berbagi catatan saya pada sahabat dapurhati, pemahaman saya mengenai materi yang beliau sampaikan. Semoga kita dapat lebih memahami dinamika yang terjadi di dalam diri kita. Mengolah rasa, membangun jiwa.
Dalam presentasinya mengenai jiwa atau nafs, pakar psikologi Islam ini menyampaikan bahwa jiwa manusia terdiri dari 4 lapisan. Pembagian lapisan jiwa ini merupakan hasil perenungan beliau mengenai konsep dasar dari relasi yang ada antara manusia dengan Allah, alam, diri sendiri, sesama manusia dan benda buatan manusia. Keempat lapisan itu adalah sensing, reasoning, emphaty dan spiritual.
Lapisan terluar adalah sensing. Pada lapisan ini kita menggunakan indera yang kita miliki untuk melakukan koneksi dengan alam, orang lain dan benda-benda buatan manusia. Melalui indera kita dapat merasakan lingkungan secara lahiriah. Dalam tahap sensing, fokus kita adalah here and now. Kita menyadari keberadaan kita saat ini dan bagaimana relasi kita dengan lingkungan yang ada di sekitar kita pada saat itu. Apabila kita makan semangkuk soto, dalam tahap sensing kita akan merasakan kuahnya yang hangat, sambalnya yang pedas, kerupuknya yang renyah dan hal-hal lain yang bisa kita inderai. Pada tahap ini juga dapat muncul efek psikologis akibat penginderaan yang kita lakukan. Misalnya kita dapat menikmati soto yang kita makan lalu merasa senang dan puas karenanya. Kita juga bisa merasa nyaman pada saat kita berada di ruangan yang berpenyejuk udara. Contoh lain adalah kita bisa terpikat pada sebuah drama Korea dan ingin terus menontonnya.
Lapisan kedua adalah reasoning. Ini adalah lapisan tempat kita memproses hal-hal yang telah kita inderai di lapisan sensing. Pada tahap ini kita memikirkan, merenungkan dan memaknai apa yang kita alami. Memikirkan alasan, tujuan dan dampak dari apa yang kita lakukan. Kita mencari penjelasan yang lebih dalam mengenai apa yang telah kita amati melalui indera. Ini merupakan koneksi jiwa kita dengan tanda-tanda alam yang dapat kita jadikan pelajaran. Ilmu pengetahuan muncul dari lapisan ini. Pada saat kita makan semangkuk soto dan merasakan sambalnya yang pedas, kita mulai berpikir apa dampaknya jika saya makan sambal banyak-banyak. Lebih jauh kita dapat merenungkan apa yang menimbulkan rasa pedas pada sebuah cabai, bagaimana pengaruh rasa pedas terhadap nafsu makan, bagaimana cara membuat sambal yang enak dari cabai yang pedas, bagaimana bentuk pohon cabai, apa saja yang berpengaruh terhadap rasa pedas dari sebuah cabai dan seterusnya. Proses reasoning dapat berkembang ke arah yang luas dan tak terbatas. Ini adalah tahap kita memaknai pengalaman-pengalaman inderawi. Menjelaskan hubungan sebab akibat dan mengambil pelajaran dari pengalaman-pengalaman yang ada.
Lapisan berikutnya adalah emphaty. Ini adalah lapisan dimana jiwa kita terkoneksi dengan jiwa yang lain. Koneksi antar jiwa ini tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Kita tidak memerlukan kehadiran seeorang secara fisik untuk dapat terkoneksi dengan jiwanya. Kita juga tidak perlu mendengar ucapan verbal untuk dapat terkoneksi dengan jiwa yang lain. Seorang ibu tahu apa yang terjadi pada putrinya sebelum putrinya bicara. Bahkan saat sang putri tak ada di dekatnya, ibu bisa tahu buah hatinya sedang gelisah. Ini adalah koneksi antar jiwa. Rindu adalah contoh lain dari koneksi antar jiwa. Saat kita merindukan seseorang, ia tidak hadir secara fisik tetapi kita teringat padanya.
Hal yang paling menarik bagi saya dalam bahasan lapisan jiwa ini adalah koneksi antar jiwa dapat disambungkan melalui doa. Melalui doa kita dapat langsung tersambung dengan jiwa seseorang tanpa harus melalui lapisan sensing dan reasoning. Pak Bagus mengatakan bahwa pada saat seseorang sangat aktif di level sensing sehingga lapisan lain tertutupi, doa dapat dilakukan sebagai pilihan cara komunikasi. Saya pernah punya pengalaman mengenai hal ini. Suatu ketika, saat semua argumentasi saya tidak diterima oleh seseorang, saya berdoa agar Allah melembutkan hatinya. Alhamdulillah beberapa waktu kemudian dia berubah dan belakangan saya menyadari bahwa saya pun berubah. Saat saya berdoa agar Allah melembutkan hatinya, hati saya juga melembut. Pada saat mendengarkan kuliah tadi pagi saya merasa bahwa jiwa kami terkoneksi melalui doa. Doa mendekatkan jiwa. Saat dua jiwa telah dekat maka komunikasi antar keduanya menjadi lebih mudah. Benarlah doa merupakan senjata bagi kaum yang beriman.
Lapisan terdalam adalah spiritual (tawakal), yaitu koneksi kita dengan Allah. Secara psikologis apabila jiwa kita sudah tergetar pada saat kita mendengar nama Allah, maka kita telah merasakan relasi kita dengan Allah. Relasi ini adalah tali yang paling kuat yang membuat kita menjadi tenang. Apabila kita memiliki keyakinan akan adanya akhirat maka apa yang terjadi di dunia akan terasa “lebih ringan” karena kita sadar ini hanyalah perjalanan sementara. Ini ada sebuah perjalanan yang akan segera berakhir. Keyakinan ini akan menimbulkan rasa tenang. Inilah pentingnya iman kepada Allah.
Dalam konsep 4 lapisan jiwa yang disampaikan di atas, jiwa dikatakan sehat apabila keempat lapisan ini bisa aktif secara seimbang. Lapisan sensing, reasoning, emphaty dan spiritual perlu saling mendukung dan saling mengisi untuk perkembangan jiwa yang sehat. Tips untuk mencapai keseimbangan ini adalah dengan bertazkiah. Semoga saya dapat menuliskan mengenai konsep tazkiah ini pada catatan yang lain. In syaa Allah.
Mutiara, 28 November 2020
Dian L Izwar
“Doa seorang Muslim untuk saudaranya dengan tanpa sepengetahuan saudaranya itu mustajab. Di atas kepala orang itu ada malaikat yang mencatatnya (malakun muwakkal). Setiap kali orang itu mendoakan kebaikan bagi saudaranya, maka malaikat tersebut mengucapkan amin (semoga Allah mengabulkan) dan untukmu juga seperti itu.”
(HR Muslim)
