Reflection on 7th IAMP Conference

Beberapa hari kemarin saya mengikuti konferensi Psikologi Islam yang diadakan oleh International Association of Muslim Psychologist.  Konferensi yang diselenggarakan pada tanggal 5 hingga 8 Februari 2022 ini bertajuk Continuing Legacy of Malik Badri, the founding father of modern Islamic Psychology.  Tema ini merupakan bentuk penghargaan bagi Prof. Malik Badri sebagai pendiri sekaligus presiden pertama International Association of Muslim Psychologist.

Prof. Malik Badri adalah seorang psikolog klinis yang lahir di Rufaa, Sudan pada 16 Februari 1932 dan wafat pada tanggal 8 Februari 2021 di Kualalumpur, Malaysia.  Di samping pakar di bidang psikologi klinis, beliau juga mempelajari Islam secara mendalam.  Pemahaman mengenai kedua hal ini disertai latar belakang akademis yang kuat melahirkan buku The Dilemma of Muslim Psychologists pada tahun 1979, sebuah buku yang mengajak para psikolog muslim untuk memikirkan kembali dasar dan sumber ilmu psikologi yang selama ini mereka pelajari. 

Konferensi selama 4 hari kemarin berisi pembahasan mengenai konsep Psikologi Islam menurut Prof. Malik Badri, tinjauan terhadap buku-buku karya beliau dan presentasi penelitian-penelitian yang dilakukan di bawah supervisi sang  guru.  Banyak hal memenuhi ruang pikir saya selama mengikuti konferensi ini.  Gagasan bahwa seorang muslim harus mendasari setiap keputusannya pada Alquran menggema dengan kuat. 

Ilmu psikologi yang saya terapkan dalam praktik sehari-hari seharusnya selaras dengan keyakinan saya sebagai seorang muslimah.  Prof. Malik Badri membuka mata saya menuju ke keselarasan ini.  Kembali kepada Alquran sebagai sumber rujukan utama adalah kebutuhan.  Dalam pemahaman saya, Psikologi Islam tidak sekedar menempelkan atribut Islam pada konsep-konsep psikologi yang berasal dari pemikiran tokoh-tokoh psikologi konvensional tetapi mencari bagaimana Islam menjelaskan sebuah fenomena.  Sebuah teori, konsep atau terapi hendaknya bersandar pada Alquran sebagai sumber kebenaran hakiki.  Pendekatan Maqasid sebagai sarana pengembangan ilmu yang didiskusikan pada konferensi ini mengingatkan saya bahwa pada saat membuat skripsi dan tesis, saya telah melupakan hal ini.  Pendekatan psikologi konvensional yang saya pelajari memang tidak mensyaratkan Alquran sebagai sumber rujukan dalam pelaksanaan penelitian.  Saat ini saya merasa bahwa ini adalah sesuatu yang harusnya ditambahkan dalam setiap riset.  Agama tidak dapat dipisahkan dari ilmu. 

Demikian pula dalam pengamalan ilmu sebagai psikolog klinis, Psikologi Islam mengingatkan saya untuk menghadirkan Allah dalam setiap sesi di ruang praktik.  Allah is the healer.  Bukan terapi atau psikolog tertentu yang menyembuhkan klien tetapi proses penyembuhan itu terjadi karena pertolongan Allah.  Allah yang Maha Pengasih telah memberikan kemudahan bagi para psikolog untuk mempelajari sebagian kecil dari ilmuNya dan memberikan kesempatan untuk membantu klien.  Sejalan dengan itu, dalam setiap proses konseling atau terapi seorang psikolog tidak dapat memastikan hasil akhir atau “kesembuhan” klien.  Tugas psikolog adalah membantu klien dengan cara terbaik yang diilhamkan Allah padanya.  Allah has chose you to help the client, you should honor it by giving the best that you can.  Sementara hasil akhir sepenuhnya merupakan ketentuanNya.

Menghadiri konferensi ini makin menguatkan niat saya untuk meningkatkan kemampuan dalam memahami Alquran.  Ta’allama, menjadikan Alquran sebagai dasar dari semua pemikiran.  Memahami bagaimana Alquran menjelaskan manusia.  We must have a strong grounded in Islam, then see the world through the Islamic worldview.  Dengan bekal ini, in syaa Allah kita dapat mengevaluasi konsep-konsep psikologi yang telah kita pelajari selama ini.  Prof. Malik Badri tidak menganjurkan kita “membuang” konsep-konsep psikologi konvensional tetapi jangan sampai kita terpesona oleh konsep-konsep tersebut dan menerimanya mentah-mentah tanpa melakukan telaah berdasarkan sudut pandang Islam.  Sebagai seorang muslim kita perlu senantiasa melakukan kontemplasi, merenung dan berpikir dengan sepenuh perhatian.  Kita perlu bertafakur, memikirkan dengan sungguh-sungguh dan menyeluruh.  Semoga pemahaman mengenai manusia yang merupakan subyek ilmu psikologi mengantar kita untuk lebih memahami tanda-tanda kebesaran Sang Pencipta, mengantar kita untuk makin dekat padaNya.  Wallahu a’lam.

Mutiara, 10 Februari 2022

Dian L Izwar


Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan kebajikan serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad; dan itulah kebenaran dari Tuhan mereka; Allah menghapus kesalahan-kesalahan mereka, dan memperbaiki keadaan mereka.

Q.S. Muhammad: 2


 

 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *