Kids Zaman Now
Sore itu saya sedang menghabiskan waktu dengan bidadari cantik di rumah kami, mengobrol tentang banyak hal hingga sampai pada sebuah topik yang membuatnya berkata, “O..o..o..”
Mendengar ucapan “O..o..o..” itu, tiba-tiba saya ingat lagu Kopral Jono. Saya pun bersenandung.
“O..o.. o.. Kopral Jono… lalalalala lala lala…”
Gadis kecil di hadapan saya mendengarkan dengan ekspresi ingin tahu.
“Apa, Bunda?” tanyanya.
“Itu ada lagunya. Judulnya Kopral Jono,” saja menjelaskan.
Seperti yang sudah saya duga, pertanyaan berikutnya adalah: “Kopral itu apa?”
“Kopral itu nama tingkatan di kepolisian. Kan ada jendral, nah ada kopral juga,” Saya menerangkan sambil bersiap-siap menunggu pertanyaan lanjutan. Kalau belum paham, si Cantik ini akan terus bertanya.
“Kalau Jono?” pertanyaan singkat meluncur dari mulut mungilnya.
Syukurlah, pertanyaannya beralih ke Jono bukan pada tingkat kepangkatan di kepolisian.
“Jono itu namanya. Jadi pangkatnya kopral yang namanya Jono,” jawab saya.
“Kalau lalalala itu apa?”
Saya tertawa kecil. “Lalalala itu ada kalimatnya tapi Bunda lupa,”
“Kalimatnya apa?” kejarnya ingin tahu.
Begitulah gadis kecil saya kalau sedang penasaran tentang sesuatu. Dia akan bertanya terus hingga merasa puas dengan jawaban yang kita berikan. Alam mengajarkannya seperti itu. Allah mengilhamkan rasa ingin tahu pada anak-anak sebagai motivasi bagi mereka untuk belajar.
Saya bersenandung lagi, mencoba menghadirkan kalimat lanjutan dari lagu tersebut ke dalam memori.
“O..o..o.. kopral Jono… gadis mana yang tak kenal akan dikau.” Alhamdulillah. Kalimat pertama meluncur dengan mulus.
Dia tampak senang, ikut bergoyang mengikuti irama suara saya. Kami pun bernyanyi.
“O..o..o.. kopral Jono… gadis mana yang tak kenal akan dikau.
O..o..o.. kopral Jono… lalalalala lala lala lala…”
“Kok lalalala lagi, Bunda?” tanyanya.
“Bunda lupa kalimat keduanya, Sayang” ujar saya.
Saya benar-benar lupa. Telah beberapa kali saya bernyanyi untuk memancing memori mengenai lirik lagu itu namun saya tetap tak dapat mengingatnya.
“Bunda lupa?” gadis kecil saya bertanya memastikan.
“Iya. Bunda lupa lanjutannya,” saya menjawab dengan jujur. Ini adalah nilai yang saya tanamkan padanya. Jujur itu penting. Tak perlu malu mengakui kita lupa atau tidak tahu sesuatu.
“Coba lihat di hp, Bunda. Mungkin ada.” Kalimat ini meluncur manis dari bibir mungilnya.
Saya tak menduga akan mendengar solusi tersebut dari gadis yang belum genap berusia 5 tahun ini. Rupanya ia telah mengamati bahwa apabila saya ingin tahu sesuatu, saya mengambil ponsel. Saya memang suka menjelajah di dunia maya untuk mencari informasi yang saya butuhkan. Gadis kecil saya merekam kegiatan ini sebagai salah satu cara pemecahan masalah. Kids zaman now, bisik saya dalam hati.
Saya mengikuti sarannya. Bertanya teks lagu “Kopral Jono” pada google dan mendapatkan jawaban. Si Cantik tampak senang.
Meskipun sampai usia 2 tahun gadis kecil saya tidak bermain ponsel dan sampai sekarang pun hanya pada waktu-waktu tertentu saja ia memegang ponsel, kebiasaan saya saat berinteraksi dengan gawai terekam dengan baik dalam ingatannya. Ia tahu untuk keperluan apa saja saya menggunakan benda pintar itu.
Anak-anak kita adalah anak-anak gawai, sejak kecil mereka telah terpapar oleh kecanggihan teknologi. Mereka melihat kita menggunakan beragam gadget. Tidak mungkin mengisolasi kids zaman now ini dari gawai, apalagi saat pandemi seperti sekarang banyak aktivitas kita kerjakan dengan bantuan perangkat tersebut.
Yang perlu kita lakukan adalah mendampingi mereka saat berinteraksi dengan peranti elektronik praktis ini. Memberi pemahaman bagaimana menggunakan gawai secara bijak dan memberi batasan yang dapat mereka pahami alasannya. Alasan yang saya berikan pada si Cantik adalah radiasi.
Setiap gawai mengeluarkan radiasi yang berbahaya untuk anak kecil, oleh karena itu anak kecil tidak boleh lama-lama memegang ponsel serta tidak boleh terlalu dekat dengan televisi dan komputer. Dia paham, dia menurut. Dia juga tahu ada mode pesawat di ponsel saya. Untuk mengurangi paparan radiasi, saya mengaktifkan mode pesawat ini saat ia menggunakan ponsel. Pada saat dia ingin mengetik (aktivitas yang ditemukannya sendiri saat bermain ponsel) dia akan meminta saya mengaktifkan mode pesawat. Setelah beberapa kali melihat, ia pun bisa mengaktifkan dan menonaktifkan sendiri mode pesawat itu.
“Kakak aja, Bunda,” ujarnya.
Begitu cepat ia belajar. Suatu waktu saya membicarakan sebuah kebiasaannya pada saat ia berusia sekitar 2 tahun. Ia mengangguk-angguk dan memberikan komentar mengenai peristiwa itu.
“Kakak ingat?” tanya saya takjub. Tidak banyak anak yang mengingat peristiwa yang terjadi pada usia batita mereka.
“Kan ada videonya, Bunda,” ia menjawab dengan santai.
“Oiya,” ujar saya sembari memberinya kecupan sayang.
Interaksi pertamanya dengan ponsel memang seputar melihat foto dan video tentang dirinya sewaktu kecil. Ia senang menonton videonya ketika mulai bisa bertepuk tangan, pertama kali berjalan, mencipta lagu atau hal-hal lucu lain yang saya rekam.
Sampai saat ini aktivitasnya dalam menggunakan ponsel di samping melihat foto dan video tentang dirinya adalah mengetik, pura-pura mengirim pesan singkat pada temannya. Ia senang melihat deretan huruf yang muncul saat ia menekan keyboard. Ia bisa mengetik “surat” untuk temannya. Bercerita tentang kegiatannya hari ini. Beberapa pekan terakhir, saat ia sudah dapat menulis namanya. Ia senang mengetik namanya di ponsel. Sebentar lagi, saat ia memasuki usia sekolah, rencana saya adalah mengenalkan padanya cara mencari informasi di dunia maya.
Secara bertahap kita perlu mendampingi anak-anak dalam berinteraksi dengan gawai, sesuai dengan kebutuhan dan usia mereka. Kita perlu mengenalkan mereka pada sungai sambil mengajari mereka berenang. Menjauhkan mereka dari sungai yang mengalir di depan rumah karena khawatir mereka akan hanyut terbawa arus adalah suatu hal yang sangat sulit. Setiap hari mereka melihat aliran air itu dan rasa ingin tahu akan membawa mereka mendekat. Pemahaman mengenai sifat arus sungai, apa yang dapat kita manfaatkan dari sungai dan kapan perlu menjauh dari sungai akan membantu mereka memiliki interaksi yang sehat dengan sungai. Demikian pula dengan gawai dan dunia maya.
Di samping itu, kita perlu sedari dini mempersiapkan mereka untuk mencipta mainannya sendiri. Dengan demikian akan selalu ada hal yang lebih menarik bagi mereka dari pada bermain gawai. Mereka perlu memiliki inisiatif untuk terlibat aktif dalam sebuah kegiatan. Mereka perlu pengalaman mencipta, melakukan dan mengevaluasi sebuah kegiatan. Tiga keterampilan yang in syaa Allah akan membuat mereka selalu belajar dan berkembang. Wallahu a’lam.
Mutiara, 30 November 2020
Dian L Izwar
“Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu”
(Ali bin Abi Thalib)
