Bunga Pertama
Bulan Oktober tahun lalu saya mendapat hadiah. Seorang keponakan yang baik hati mengirimkan bunga anggrek. Setelah mawar, melati, kembang sepatu dan adenium, saya memang ingin menghadirkan nuansa baru di taman mungil kami.
Anggrek-anggrek itu dipesan online. Saya menerimanya terbungkus dalam kotak karton tanpa media tanam. Memang demikian cara pengirimannya agar lebih hemat ongkir. Saya perlu segera menempatkan tanaman epifit ini di wadah yang tepat agar ia tumbuh sehat dan berbunga indah. Pilihan saya jatuh pada pot dari sabut kelapa yang diisi dengan potongan pakis sebagai penyangga. Batang-batang hijau itu tampak gagah, berdiri tegak di rumah barunya.
Anggrek yang saya terima adalah jenis dendrobium: pink loving strip & airy way blue. Keduanya datang dalam keadaan hijau segar. Mereka saya letakkan bersisian, potnya menempel di pohon mangga. Agar lebih mudah menyebutnya, kita namai saja mereka Pinky dan Airy.
Pinky dan Airy mendapatkan perlakuan yang relatif sama. Mereka mendapatkan sinar matahari yang setara karena berada di tempat yang berdekatan di pohon mangga. Demikian pula cipratan air kolam yang sampai pada keduanya tak banyak berbeda karena jaraknya dari kolam juga hampir sama. Setiap kali saya menyiramkan air beras pada Pinky, Airy pun kebagian. Saat saya memberikan potongan kulit pisang kering pada Airy, Pinky juga mendapatkannya. Rumpun-rumpun hijau itu tumbuh sehat dan mulai mengeluarkan akar muda dari bagian bawah batangnya, salah satu tanda mereka sudah mulai beradaptasi dengan tempat tumbuhnya yang baru. Alhamdulillah.
Di bulan November Pinky mulai berbunga. Indah sekali. Hampir setiap keluar rumah saya sempatkan mampir menikmati kuntum cantik berwarna merah muda itu. Saya foto dari berbagai sisi. Saya ceritakan pada teman dan kerabat.
Hari terus berganti. Sekitar sebulan Pinky menghiasi taman depan dengan bunganya yang menawan. Sementara Airy semakin subur. Tunas-tunas baru terus tumbuh dengan diameter yang lebih besar. Saya menyayangi keduanya. Saya sirami pagi dan petang.
Sekitar bulan Mei, Pinky kembali mengeluarkan spike, malai panjang calon bunga. Saya menyambut dengan gembira. Saya tunggu mekarnya dengan bahagia. Suka cita saya bertambah karena kali ini tak hanya ada satu bakal bunga. Saya melihat dua malai dari dua pseudobulb yang berbeda. Umbi semu yang sudah pernah berbunga kembali memunculkan spike. Alhamdulillah, dua tangkai bunga dari satu rumpun dendrobium memberi warna di dalam taman. Anggun di antara hijau dedaunan. Membuat mata terpikat, mengajak kaki mendekat.
Beberapa hari kemudian syukur saya bertambah. Salah satu bunga menghasilkan putik. Saya menduga terjadi penyerbukan silang di antara kuntum-kuntum dari tangkai berbeda yang mekar bersamaan. Baru kali ini saya melihat putik anggrek. Saya sangat senang membayangkan kelak akan menyemai biji tersebut.

Suatu sore tanpa sengaja tukang yang sedang merapikan taman menyenggol tangkai Pinky yang berputik. Tangkai itu patah. Saya memandang putik Pinky di tangan saya, tampaknya saya tak akan bisa menyemai bijinya.
Beberapa waktu setelah bunganya patah, Pinky kembali mengeluarkan spike. Saat satu pseudobulb sedang berbunga, pseudobulb yang lain mulai mengeluarkan spike. Ma syaa Allah, segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Sejak bulan Mei hingga September Pinky senantiasa menemani saya dengan bunganya yang indah. Kuntum-kuntum cantik itu mekar silih berganti.
Pada bulan Oktober, Pinky mengeluarkan lagi bunga-bunga indahnya. Kali ini jumlah kuntumnya dua kali lipat dari saat pertama ia berbunga. Dalam setahun Pinky menghadirkan 5 malai yang kemudian menjelma menjadi kuntum-kuntum anggrek cantik. Ma syaa Allah. Rajin sekali ia berbunga. Pinky benar-benar menarik perhatian saya.
Saat bunga Pinky mekar di bulan Oktober 2020 kemarin, Airy mengeluarkan malai untuk pertama kalinya. Setelah satu tahun, Airy pun berbunga. Lima hari yang lalu bunga pertamanya menyapa dunia. Saya memandangi kuntum berwarna ungu pekat itu dengan suka cita. Dari pseudobulb Airy yang bongsor (hampir tiga kali tinggi umbi semu Pinky) muncul 4 kuntum bunga. Kuntum-kuntum yang menginspirasi saya membuat tulisan ini.
Dalam berinteraksi dengan anak-anak, apa yang saya alami dengan kedua anggrek ini juga dapat terjadi. Meski kita mengatakan menyayangi semua anak, secara manusiawi akan ada anak yang lebih menarik perhatian. Ada anak yang lebih sering kita bicarakan dan lebih sering kita perhatikan. Terkadang tanpa sadar kita juga membuat perbandingan.
“Kakak umur 9 bulan sudah jalan, adik kok belum?”
“Adik diajari sekali sudah mengerti, kakak kok nggak?”
“Abang berani, adik juga dong!”
Padahal mereka memiliki waktunya sendiri untuk tumbuh dan berkembang. Meski mendapat perlakuan yang relatif sama, mereka merupakan individu yang berbeda. Membandingkan mereka dengan adik atau kakaknya berisiko salah seorang tampak lebih baik dan hal itu akan mempengaruhi sikap kita pada mereka.
Semoga kita mampu menemani anak-anak dengan keunikannya masing-masing dan memberikan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan khas mereka. Semoga kita sabar berproses bersama mereka, mendampingi sang buah hati memunculkan bunga pertamanya. In syaa Allah.
Mutiara, 21 November 2020
Dian L Izwar
“Adillah kepada anakmu, adillah kepada anakmu, adillah kepada anakmu.”
(HR. Abu Dawud)
