Apa Pendapatmu?

Pada saat Idul Adha kita sering mendengar cerita nabi Ibrahim ‘alaihissalam.  Bagaimana beliau diminta untuk menyembelih anak kandungnya – nabi Ismail, yang kehadirannya telah dinanti selama 86 tahun –  sungguh menggugah emosi.  Ketaatan nabi Ibrahim dan kesabaran nabi Ismail menjadi teladan bagi kita semua.  Kisah ini menunjukkan bagaimana Allah yang Maha Adil menguji hambaNya sekaligus juga melindungi dan menyayangi hambaNya yang takwa.

Pada tulisan ini saya ingin mengulas kisah sang nabi dari sisi relasinya dengan putra beliau.  Sejak usai shalat Id, narasi elok yang tertuang dalam surat As-Saffat ayat 102 menggema di kepala saya.

Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”

“Pikirkanlah, apa pendapatmu?” Kalimat ini sungguh menjadi teladan bagi kita para orang tua untuk berkomunikasi dan bersikap terhadap anak.  Kita perlu memperhatikan pendapat anak saat mereka akan terlibat dalam sebuah aktivitas, terutama saat mereka telah mencapai usia balig.  Sudahkah kita menanyakan pandangan mereka?  

Pada saat nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih nabi Ismail, beliau tidak serta merta melaksanakannya tapi meminta pendapat sang anak.  Bapak para nabi ini menanyakan apa yang dipikirkan oleh nabi Ismail mengenai perintah itu.  Pemahaman pentingnya mengetahui apa yang dipikirkan anak mengingatkan saya pada beberapa anak muda yang gundah dan tak bahagia. 

Beberapa waktu belakangan saya mendapati klien-klien mahasiswa yang stres karena perkuliahan.  Setelah bercerita beberapa lama, terungkap bahwa jurusan yang saat ini digeluti bukanlah jurusan yang ia minati.  Ini adalah pilihan orang tua dan ia harus menurut.  Sebagian karena terang-terangan disuruh, yang lain karena takut nanti mengecewakan orang tua dan tak dapat menunjukkan bakti.  Padahal mereka sesungguhnya tidak nyaman dengan pilihan tersebut.

Di sisi lain juga ada orang tua yang berkonsultasi mengenai bagaimana caranya agar sang anak mau masuk ke universitas pilihan orang tua. 

“Ini kan untuk masa depannya, Mbak.  Sebagai orang tua kita kan mau yang terbaik untuk anak.”   Kalimat ini sering terucap dari ayah-ibu yang memilihkan sekolah atau jurusan tertentu bagi anaknya.

Tentu saja orang tua menginginkan yang terbaik bagi anaknya.  Ini adalah tanggung jawab sekaligus bentuk kasih sayang orang tua.  Namun kembali pada teladan nabi Ibrahim, sudahkah kita memperhatikan pendapat ananda?  Apa yang ia pikirkan sehubungan dengan pilihan yang kita tawarkan?  Nyamankah ia dengan keputusan itu?  Dan yang paling penting saat menawarkan pilihan studi, jauh di dalam hati kita perlu jujur: apakah benar pilihan ini murni untuk kebaikan sang buah hati?  Tak adakah terselip gengsi orang tua di dalamnya?  Rasa bangga ananda bersekolah di universitas terkemuka sebenarnya untuk siapa?

Terkadang kita sibuk mengantisipasi masa yang akan datang sehingga lupa untuk mensyukuri saat ini.  Kita asyik merancang masa depan hingga lupa melihat apa yang sedang dialami sang putra, lalai menangkap apa yang sesungguhnya dibutuhkan sang buah hati.   Kadang kita terlena oleh cita-cita.

Mengupayakan tercapainya cita-cita tentu merupakan hal yang baik.  Sehubungan dengan pendidikan, minimal ada dua hal yang perlu dipertimbangkan dengan matang.  Yang pertama adalah kemampuan, yang kedua minat.  Kedua hal ini perlu kita diskusikan dengan ananda yang akan menjalani pendidikan tersebut.  Seberapa mampu ia dan seberapa berminatnya ia terhadap pilihan yang ditawarkan.  Jika ragu-ragu atau belum tahu, kita dapat mengajak mereka mencari bantuan profesional.  Hal ini penting karena memaksa anak yang tak mampu sama dengan meminta ia mengiris batu.  Butuh waktu lama dan tenaga ekstra baginya untuk berhasil.  Membuat anak melakukan sesuatu yang tidak ia sukai biasanya jarang berujung sukacita.  Meski pun bisa, ia tidak bahagia melakukannya.  Hati saya pilu saat seorang mahasiswa berkata, “Saya harus bisa, Bu.  Saya harus bisa membuat bangga ibu saya.  Saya hanya tidak tahu mengapa saat ini saya tidak bisa mengerjakan tugas.  Saya tidak bisa berpikir.  Saya gelisah dan tidak bisa tidur.  Saya hanya ingin jadi anak berbakti.”

Selamat Idul Adha, Sahabat.  Semoga Allah menerima semua amal ibadah kita.  Semoga kita dapat meneladani sikap bijak nabi Ibrahim dalam mendampingi putra putri penerus generasi.  Di awal tahun ajaran ini, semoga anak-anak mendapatkan pendidikan terbaik bagi mereka.  Tidak hanya sebagai bekal di dunia tetapi juga di akhirat nanti, in syaa Allah.

Mutiara, 10 Juli 2022 – 10 Dzulhijah 1443 H

Dian L Izwar


Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai ujian dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.

Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu, menghapus segala kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)-mu. Allah memiliki karunia yang besar.

 (QS. Al-Anfal: 28-29)


 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *