Dua Ibu

“Kakakku ambil anak dari bayi.  Sekarang anak itu sudah gadis.  Bagaimana cara ngasih tahu statusnya ke anak itu supaya dia nggak kaget?”  Seorang sahabat bertanya. 

Ini bukan pertanyaan baru.  Pertanyaan senada sering tercetus dari orang tua angkat yang kebingungan harus mulai dari mana untuk membuka rahasia yang selama ini mereka simpan dengan rapat.  Bismillah, semoga tulisan ini dapat membantu mereka yang membutuhkan.

Siap Mental
Pada saat mendengar bahwa ia bukan anak kandung dari orang yang selama ini dipanggilnya ayah dan ibu, si anak akan kaget.  Sulit untuk membuat anak tidak terkejut, ini adalah reaksi yang tidak bisa dihindari.  Yang dapat diantisipasi adalah kesiapan mental ayah dan ibu angkat pada saat menyampaikan informasi.  Mereka harus siap dengan apa pun respon anak.  Sikap orang tua yang tenang dan penerimaan yang baik atas reaksi anak (yang kadang tak terduga) in syaa Allah akan membuat hubungan anak dan orang tua tetap harmonis.

Jangan Menunda
Beberapa klien mengalami masalah sehubungan dengan pemberian informasi status anak angkat.  Setelah si anak tahu bahwa ia tidak terlahir dari ibu yang membesarkannya, ia marah.  Beberapa anak kemudian ‘lari’ mencari orang tua kandungnya, meninggalkan luka di hati orang tua yang merawatnya sejak kecil.

“Saya nggak mau bilang karena takut dia pergi nyari ibunya.  Bener aja, sekarang dia pergi.”

Ketakutan akan kehilangan sang anak kadang membuat orang tua menyembunyikan kebenaran.  Beberapa orang tua angkat menunda penyampaian informasi hingga anaknya ‘cukup dewasa’ untuk mengerti.  Namun si anak tidak akan pernah ‘cukup dewasa’ dalam pandangan orang tua yang tidak menyiapkan mental untuk menyampaikan hal ini.  Kuncinya ada di orang tua.

Ragam Reaksi Anak
Pada beberapa kasus, anak mengetahui statusnya sebagai anak angkat bukan dari orang yang selama ini ia percaya sebagai orang tuanya.  Reaksi yang muncul bisa beragam.  Ia bisa marah, sedih, kecewa, tidak percaya, takut, cemas atau merasa ditolak.  Hubungan dengan orang tua seketika bisa berjarak.  Rasa dibohongi dapat mengaburkan logika, merasa tidak dipercaya bisa menorehkan luka.  Belum lagi rasa tidak berharga yang mungkin muncul karena orang tua kandung menyerahkan bayi yang semestinya dirawat dan disayangi kepada orang lain.  Terkadang anak mengaitkan beberapa sikap orang tua dengan status yang baru diketahuinya dan menyimpulkan bahwa ia bukanlah anak yang disayang.  Berbagai perasaan yang mungkin dialami anak perlu dipahami oleh orang tua angkat agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru terhadap sikap anak.  Ini memang bukan situasi yang mudah.  Oleh karena itu orang tua perlu mempersiapkan diri untuk menyampaikan hal ini secara terencana.  Jika merasa belum siap, ayah dan ibu dapat meminta bantuan profesional untuk mempersiapkan mental.  Si anak pun perlu dipersiapkan agar memiliki tempat bersandar saat dunianya terguncang.  Sahabat dekat, kerabat atau konselor dapat menjadi teman berbagi rasa sehingga ia tak merasa sendiri.  Ada kalanya anak tak ingin (atau tak bisa) berbagi perasaannya dengan ibu dan ayah angkat.  Orang tua perlu menghargai ini dan memberi ruang bagi anak untuk menenangkan diri.

Sedari Dini
Kapan saat yang tepat untuk mengatakan pada anak mengenai statusnya sebagai anak angkat?  Jawabannya adalah sedini mungkin.  Semakin cepat anak tahu mengenai asal usulnya, semakin baik bagi perkembangan jati dirinya.

Anak mempunyai hak untuk mengertahui kebenaran mengenai dirinya.  Tentunya orang tua tidak akan mengatakan hal ini secara tiba-tiba.  Momen yang paling tepat adalah pada saat anak bertanya.  Pertanyaan menunjukkan kesiapan anak untuk menerima jawaban.  Jawablah pertanyaan anak dengan jujur, pada usia
berapa pun ia bertanya.  Kejujuran merupakan dasar dari relasi yang sehat.  Sampaikan alasan yang sebenarnya mengapa ia diadopsi.  Sesuaikan bahasa yang digunakan dengan kemampuan anak dalam mengolah informasi.

Ragam Peran  Orang Tua
Beberapa cara dapat dilakukan saat menyampaikan informasi adopsi pada anak.  Salah satunya adalah dengan mengenalkan ragam peran orang tua.  Bisa disampaikan bahwa ada beberapa peran ibu.  Ada ibu biologis yang mengandung dan melahirkan anak, ada ibu psikologis yang merawat dan mengasuh dan ada ibu ideologis yang mendidik dan memberi teladan.  Ada anak yang merasakan peran ini dari satu orang ibu.  Beberapa anak, memiliki lebih dari satu ibu dengan perannya masing-masing.  Ia memiliki ibu biologis yang berbeda dengan ibu psikologisnya.  Namun semua ibu, apa pun perannya pasti sangat menyayangi anaknya.  Kalimat terakhir ini penting ditekankan agar anak merasa bahwa ia berharga dan dicintai walaupun tidak dibesarkan oleh ibu kandungnya.

Demikian pula dengan ayah.  Ada ayah biologis yang mewariskan sifat-sifat genetiknya pada anak, ada ayah psikologis yang mengasuh dan membesarkan dan ada ayah ideologis yang mendidik dan memberi teladan.  Beberapa anak merasakan peran ini dari ayah yang berbeda, mereka memiliki lebih dari satu ayah.

Unconditional love
Hakikatnya anak adalah amanah dari Sang Pemilik Hidup.  Ia bukanlah milik orang tuanya.  Setiap anak memiliki jalan hidupnya sendiri.  Tugas orang tua adalah mengenalkan anak pada Sang Pencipta dan mendidiknya menjadi pribadi mandiri dalam balutan kasih sayang yang tak bersyarat.  Dengan dasar ini, in syaa Allah orang tua angkat akan lebih nyaman dalam menyampaikan identitas anak.  Kasih sayang yang tulus akan selalu terasa, menyentuh jiwa anak dan akan menggerakkan jiwanya untuk juga menyayangi dalam bentuk yang sama.  Jadi, selama orang tua angkat menjadi orang tua psikologis yang mencintai anak dengan tulus, ketakutan bahwa si anak akan marah atau pergi in syaa Allah dapat dihindari.  Anak pasti tahu bahwa ia dicintai dan hal itu in syaa Allah akan membawanya kembali seandainya pun pada awalnya ia merasa perlu untuk sejenak menyendiri.

Mengapa?
Mengapa adalah pertanyaan yang akan menggema dalam diri anak saat ia mengetahui kenyataan tak biasa yang dialaminya.  Orang tua perlu menjelaskan alasan yang sebenarnya.  Hal ini penting bagi ketenangan hati anak dan mempercepat proses menuju penerimaan.  Hal yang juga penting adalah keterangan mengenai orang tua kandung.  Beberapa orang tua angkat dengan sengaja menutupi akses anak untuk mengetahui orang tua kandungnya, ini bukanlah pilihan yang bijak.  Secara naluri anak akan mencari orang tua biologisnya.  Ada kebutuhan dalam dirinya untuk mencari tahu identitas mereka, bertemu dan bertanya.  Bantulah anak melewati proses ini.  Anak perlu mengisi ruang kosong yang terbentuk saat ia tercabut dari “akarnya”.  Ia perlu merasa utuh kembali, sebuah langkah penting bagi penerimaan dan pembentukan jati dirinya.

Keputusan untuk mengadopsi seorang anak adalah sebuah hal besar.  Orang tua yang sampai pada keputusan ini tentunya telah mempertimbangkan berbagai hal yang berhubungan dengan kesejahteraan fisik dan mental dari semua pihak yang terlibat.  Berproses bersama anak menuju kemandirian sejatinya juga perlu diiringi dengan mempersiapkan jiwa murni ini untuk mengetahui identitasnya secara utuh. Wallahu a’lam.

Dian L  Izwar
Cakranegara, 20 Mei 2022


“… dan Dia tidak menjadikan anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataan di mulutmu saja. Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).”
“Panggillah mereka (anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu jika kamu khilaf tentang itu, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

(QS. Al-Ahzab: 4-5)


Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *