Nutrisi Jiwa

Seorang sahabat bercerita, “Saya seharusnya bisa bahagia.  Saya punya suami dan anak-anak, punya rumah bagus dan kendaraan, saya juga bisa jalan-jalan kemana saja saya mau, tapi saya merasa kosong.  Saya tidak bahagia.”

Apa yang terjadi padanya?  Mengapa ia merasa hampa?  

Sang sahabat tengah mengalami kekosongan jiwa.  Ia tidak mampu mengisi kehampaan tersebut dengan segala hal yang saat ini dimiliki karena kebutuhan jiwa memang bukanlah itu.  Nutrisi jiwa tidak dapat dipenuhi dengan hal-hal yang bersifat duniawi.  Hal ini berkaitan dengan esensi jiwa yang tak kasatmata. 

Jiwa yang sehat laksana cahaya yang bersinar terang.  Cahaya ini memberi arah pada perilaku.  Manusia terlahir dengan cahaya terang ini.  Allah yang Maha Penyayang memberikannya sebagai modal awal bagi setiap insan. 

Cahaya jiwa dapat bertambah terang dan dapat juga meredup seiring dengan perjalanan hidup.  Pada saat cahaya jiwa meredup, manusia mulai merasakan kegelisahan atau melakukan hal-hal di luar batas norma dan etika.  Nutrisi jiwa bertujuan untuk mempertahankan terangnya cahaya ini.  Bagaimana caranya?

Pada saat diciptakan, Allah telah mengilhamkan dua jalan kepada jiwa manusia.  Jalan itu adalah fujur (berlebihan) dan takwa (berhati-hati).  Siapa yang membersihkan jiwanya maka ia beruntung dan siapa yang mengotori jiwanya akan merugi. 

Allah memberikan manusia pilihan.  Jiwa yang sehat adalah jiwa yang bersih.  Pilihan agar cahaya jiwa tetap benderang tentu saja takwa.  Senantiasa mengingat Allah dan berada dalam batas-batas yang ditetapkanNya merupakan nutrisi bagi jiwa.  Mengingat Allah bukan hanya sekedar melafalkan namaNya tapi juga meniatkan apa saja yang kita lakukan sebagai bentuk ibadah kepadaNya.  Menyadari posisi sebagai hamba dan memahami tujuan Allah menciptakan manusia in syaa Allah akan membuat kita menjalani hidup dengan lebih bermakna. 

“Berarti kita harus terus-terusan ibadah? Shalat, gitu?”

Sebagai manusia, kita tidak sempurna.  Kita sangat bisa berbuat salah yang menyebabkan jiwa terkena noda, sengaja atau pun tidak.  Oleh karena itu Allah mempersiapkan sarana bagi setiap insan untuk membersihkan jiwanya melalui shalat.  Minimal 5 kali sehari, jiwa dibersihkan dari kotoran yang mungkin dapat menutupi cahayanya.  Shalat dan istigfar adalah bagian dari nutrisi jiwa.  Jika ingin lebih bersinar, tentu perlu lebih sering lagi dibersihkan.  Makin terang sinarnya, makin sehat jiwanya. 

“Tapi ada orang yang shalat tapi kayaknya jiwanya nggak sehat.  Dia shalat tapi tetap aja stres, cemas, depresi.”

Adakalanya, cahaya jiwa terlanjur meredup sehingga butuh lebih banyak energi untuk membuatnya kembali bersinar.  Pada saat redup ini, bisa jadi kita membutuhkan bantuan dari luar diri untuk menata sikap dan perilaku secara lebih efektif.  Hal ini diperlukan karena dalam keremangan masalah, terkadang kita tak mampu melihat jalan keluar dengan jelas.

Intinya, kita perlu menyadari bahwa ada bagian dari diri kita yang perlu mendapatkan nutrisi secara prima layaknya kita memperhatikan nutrisi bagi tubuh.  Tubuh dan jiwa adalah dua hal yang tidak terpisahkan dan saling mempengaruhi.  Kesejahteraan jiwa mempunyai dampak yang sangat besar bagi tubuh dan perilaku seseorang.  There is no health without mental health.

Menyambut hari kesehatan mental sedunia besok, mari bersama-sama menjaga dan merawat kesehatan jiwa.  Semoga Allah rida dan memudahkan kita untuk selalu mengingatNya.  Salam sehat mental, Sahabat.

Mutiara, 9 Oktober 2023

Dian L Izwar


…demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya,
maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya,
sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu),
dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
QS. As-Syams 7-10


 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *