Sekotak Ubi Rebus

Soleh memandang uang lima puluh ribuan di tangannya.  Dilipatnya uang itu dan disimpannya di saku baju.  Dengan lunglai ia melangkah menuju jembatan penyeberangan.  Sapaan satpam di pintu gerbang kantor yang megah itu dijawabnya dengan lambaian tangan.  Ia sedang tak ingin bicara. 

“Kamu habis merokok?!”  Suara tajam itu masih terngiang di telinga Soleh.  Sebuah pertanyaan yang mengandung amarah. 

Belum sempat Soleh menjawab, sebuah perintah datang dengan nada yang lebih tegas.

“Turun!  Mana kunci dan karcis parkir?”

Soleh menyerahkan keduanya pada wanita berpakaian rapi yang sudah berada di samping pintu supir.  Cepat sekali ia tiba di sana, padahal sebelumnya perempuan itu telah duduk manis di kursi penumpang.

“Kamu pulang sendiri,” ujar perempuan muda itu seraya menyerahkan selembar uang berwarna biru dan menutup pintu mobil. 

Tak berapa lama kemudian Soleh mendengar mesin mobil menyala.  Sedan putih itu bergerak menuju gerbang, meninggalkan Soleh dengan sebuah penyesalan.  Ia melakukan kesalahan besar.  Ia telah menghancurkan mimpinya sendiri.

Bis Transjakarta meluncur tenang.  Pandangan Soleh menerawang.  Ingatannya melayang ke suatu sore 28 hari yang lalu.

—————-

Soleh berada di sebuah ruang tamu yang tidak begitu besar namun terasa asri.  Lima menit menunggu, sebuah suara ramah mengetuk gendang telinganya. 

“Mas Soleh?” sapa seorang wanita muda yang datang dari arah dalam.

“Iya, Bu.” Soleh berdiri menyambut kehadiran sang tuan rumah. 

“Saya Dewanti.  Mas Soleh biasa nyetir?”

“Iya, Bu.  Saya kerja di material.  Nganter pesenan ke pelanggan.  Kemarin pas saya nganter ke sebelah, kata supir sebelah Ibu lagi nyari supir.”

“Iya, saya lagi hamil muda.  Bapak pengen saya nggak nyetir dulu selama hamil ini.  Saya memang nitip minta dicariin supir sama Pak Paiman,” ujar Dewanti sambil mengamati pria bertubuh kurus di dalam balutan kemeja batik yang tampak agak kebesaran. 

“Tapi maaf, Bu.  Saya belum hafal jalan kalau ke tengah kota.  Saya biasanya nganter di sekitaran sini aja.”  Soleh merasa bahwa ia harus jujur dari awal, jangan sampai nanti mengecewakan majikannya. 

“Nggak masalah, nanti lama-lama juga hafal.  Sekolahnya sampai mana, Mas?”

“SD nggak tamat, Bu.  Saya harus bantu orang tua kerja di sawah.  Tapi malamnya saya ikut nyantri, belajar ngaji sama Ustad”

“Bisa baca tulis?”

“Alhamdulillah bisa, Bu.”

 “OK.  Jadi supir saya syaratnya cuma dua: bisa dipercaya dan tepat waktu.  Bisa?”

“In syaa Allah bisa, Bu,” jawab Soleh lega.  Ia tadinya mengira ada syarat lain yang harus dipenuhi.  Soleh sangat ingin bekerja sebagai supir pribadi. 

“Oya, Mas Soleh merokok?”

Refleks Soleh mengangkat wajahnya, ia tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan itu.  Apa hubungannya merokok dengan pekerjaannya sebagai supir pribadi?  Supir-supir yang dikenalnya hampir semua merokok.  Jadi dengan santai Soleh menjawab, “Iya, Bu.”

“Sejak hamil ini saya sangat sensitif sama rokok.  Jangankan asapnya, baunya saja sudah membuat saya mual.  Di samping itu asap rokok kan memang tidak baik bagi janin.  Jadi saya tidak mau ada bau rokok di sekeliling saya.”  Dewanti berhenti sejenak. 

“Apa Mas Soleh bisa tidak merokok selama jam kerja dan sebelum mulai bekerja?  Maksud saya, kalau habis mandi dan siap untuk bekerja jangan pegang rokok lagi.  Karena saya bisa mencium bau asap rokok yang menempel di baju atau di rambut dan itu membuat saya mual.”  Dewanti menjelaskan kondisinya dengan panjang lebar.  Sebelum hamil ia sudah tidak suka bau rokok, apalagi saat mulai hamil.  Ini penting diketahui oleh calon supirnya, jangan sampai mobilnya bau asap rokok gara-gara si supir.

“Jadi saya nggak boleh ngerokok sama sekali, Bu?”  tanya Soleh memastikan. 

Syarat ini terasa berat dalam bayangan pemuda itu.  Ia terbiasa merokok.  Rokok membuatnya lebih percaya diri.  Rasanya ada yang dipegang pada saat ia grogi atau salah tingkah.  Sebatang rokok dapat menjadi penghilang kantuk dan jalan untuk diterima di sebuah pergaulan.  Rokok juga penghibur di kala ia merasa sedih atau pusing.  Mengisap rokok bisa membuatnya melupakan sejenak masalah yang ada.  Namun Soleh sangat menginginkan pekerjaan ini.   Ia mendengar cerita bahwa menjadi supir pribadi jauh lebih nyaman.  Bisa menikmati AC mobil mewah dan berkunjung ke tempat-tempat yang tak akan dikunjunginya jika hanya hanya menjadi pengantar bahan bangunan.  Rasanya saat ini Soleh ingin mengambil sebatang rokok dari kantong bajunya.  Ia mulai stres. 

Dewanti menangkap kegelisahan pemuda di hadapannya.

“Mas Soleh pertimbangkan dulu, tidak harus jawab sekarang.  Ini masih hari Rabu, saya butuh supir mulai hari Senin untuk ngantar saya ke kantor.  Pikir-pikir dulu 1-2 hari ini.  Saya tunggu sampai hari Jumat siang.  Kalau saya nggak terima kabar dari Mas Soleh sampai habis salat Jumat, saya cari supir yang lain.”

“Saya bisa, Bu.”  Soleh menjawab cepat.  Ia tak ingin kehilangan kesempatan besar ini.  Dua tahun menjadi supir di toko material sudah cukup baginya, ia ingin berubah.

“Yakin?”  Dewanti menatap mata Soleh, ia ingin melihat kemantapan hati pemuda itu.

“Yakin, Bu.  In syaa Allah.”  Soleh menjawab sambil meyakinkan dirinya sendiri.  Tidak merokok selama jam kerja kira-kira sama dengan tidak merokok selama bulan puasa.  Kalau selama Ramadan ia bisa puasa rokok, pasti selama bekerja ia juga bisa.  Pemuda itu menguatkan hati atas keputusan yang diambilnya.

Dewanti tersenyum cerah, “Alhamdulillah.  Saya tunggu hari Senin jam 06.30 ya.  Cuci mobil dulu sebelum kita berangkat.”

Soleh mengangguk, “Terima kasih, Bu.” 

Soleh melirik ke garasi saat ia akan meninggalkan rumah itu.  Mulai hari Senin ia akan mengendarai sebuah sedan putih yang dilihatnya sedang terparkir dengan gagah di sana.  Alhamdulillah, selamat tinggal mobil bak. 

————–

“Yang transit Matraman.  Yang transit Matraman!”  Pengumuman dari kondektur bus Transjakarta membuyarkan lamunan Soleh.  Bergegas ia turun untuk berganti bus.

Rasa letih oleh penyesalan membuat Soleh tertidur hingga menjelang magrib.  Suara orang mengaji dari mesjid di samping kontrakan membangunkan pemuda itu.  Ia melirik ponselnya.  Belum ada pesan apa pun.  Biasanya menjelang magrib Dewanti telah mengirimkan jadwal kemana mereka akan pergi esok hari.  Apakah ini artinya aku tidak akan masuk kerja lagi? Lintasan pikiran ini menimbulkan rasa cemas.  Ia sangat menikmati menjadi pekerjaan sebagai supir pribadi Dewanti.

“Assalamualaikum, Bu Dewanti.  Saya minta maaf karena telah melanggar larangan Ibu.  Saya tadi ngerokok karena ngantuk, kebetulan ada teman sesama supir yang nawarin.  Tapi begitu saya ingat kalau saya nggak boleh ngerokok, langsung saya buang, Bu.  Nggak sampai setengah batang yang saya isap.  Saya janji saya nggak akan ngerokok lagi.   Apa saya masih boleh kerja sama Ibu?” tulis Soleh dalam pesan yang dikirimnya pada Dewanti.

Tak berapa lama sebuah pesan masuk ke ponselnya.  Soleh membaca dengan hati cemas dan penuh harap.  Ia tahu Dewanti sangat marah.  Apakah wanita itu akan memaafkannya?

“Waalaikumussalam.  Saya tidak main-main dengan masalah rokok.  Mas Soleh tahu kalau asap rokok itu bisa menempel sampai 3 bulan di bahan kain?  Saya suruh Mas Soleh turun karena saya nggak mau dalam 3 bulan ke depan saya menghirup sisa asap rokok yang menempel di jok mobil.  Rokok itu berbahaya tidak hanya untuk perokok tapi juga buat orang yang mencium asapnya.  Saya nggak mau jadi perokok pasif gara-gara Mas Soleh merokok di jam kerja.  Kita sudah sepakat mengenai hal ini sejak awal.”

Pesan itu cukup panjang namun belum menjawab pertanyaan apakah ia masih boleh terus bekerja.  Soleh merasa cemas.  Refleks tangannya meraih rokok yang ada di meja. 

Sebuah pesan kembali masuk.  Jantung Soleh berdetak lebih cepat.  Perasaannya mengatakan jawaban yang ia tunggu ada dalam pesan ini.

“Saya sudah bilang syarat bekerja dengan saya adalah bisa dipercaya.  Dengan kejadian siang tadi saya merasa sulit untuk bisa percaya lagi….”

Sampai di sini jantung Soleh seakan berhenti.  Apa ia akan dipecat dan kembali menjadi supir toko material?  Berpanas-panas menaikturunkan pasir dan semen dari mobil bak terbuka.  Apakah ia akan kehilangan kesempatan menikmati sejuknya AC di tengah panasnya udara Jakarta.  Tak bisa lagi jalan-jalan di mall sementara menunggu bosnya berbelanja? 

Soleh meneruskan membaca.

“… tapi karena Mas Soleh telah berjanji untuk tidak merokok lagi, saya akan lupakan kejadian tadi siang.  Saya mendukung setiap orang yang mau berhenti merokok.  Saya kasih Mas Soleh libur dua hari.  Kalau Mas Soleh sungguh-sungguh mau berhenti merokok, silakan masuk lagi hari Jumat.  Kita ke kantor seperti biasa.”

Soleh menarik nafas lega, ia masih bisa terus bekerja.  Namun tunggu dulu, mengapa Bu Dewanti mengatakan bahwa ia akan berhenti merokok?

Soleh membacanya lagi pesannya untuk Dewanti.  Ya, Allah.  Dia tidak menuliskan “selama bekerja” di belakang kalimat “Saya janji saya nggak akan ngerokok lagi.” 

Berarti ia telah berjanji untuk tidak akan merokok dalam situasi apa pun?  Apakah ia bisa?  Soleh kebingungan sendiri.  Tangannya meraih sebungkus rokok yang ada di meja.  Saat akan menyalakan api, ia teringat janjinya.  Diletakkannya korek api, rokok yang telah ada di mulut ditaruhnya kembali.  Soleh memutuskan untuk mandi.

Setelah mandi, ia menikmati kopi.  Refleks tangannya meraih sebatang rokok.  Sekali lagi saat akan menyalakan api, Soleh teringat janjinya.  Dipandanginya benda berbau tembakau itu.  Dinikmatinya aroma khas yang tercium, keinginan untuk mengisapnya semakin kuat.  Namun Soleh juga ingat ucapan ustad, yang dipegang dari seorang laki-laki itu adalah kata-katanya.  Malaikat mencatat semua yang dikatakan.  Ia telah berjanji.  Allah Maha Menyaksikan.  Bu Dewanti tak jadi memecatnya karena ia berjanji tidak akan merokok lagi.  Ia harus bisa mendapatkan kembali kepercayaan Bu Dewanti agar bisa terus menjadi supirnya.

Soleh membuang sisa rokok yang ada di kamarnya.  Ia tak mau tergoda untuk menyentuh benda itu lagi.  Kalau dulu ia tidak merokok, tentu sekarang ia juga bisa untuk berhenti merokok. 

Semakin ia berusaha untuk menghilangkan rokok dari pikirannya, semakin kuat keinginan Soleh untuk kembali merasakan asap benda itu.  Dalam gelisah Soleh berjalan ke warung.  Setengah hatinya ingin kembali membeli rokok.  Sebatang saja, agar ia bisa berpikir apa yang harus dilakukannya setelah ini.  Biasanya merokok akan menghilangkan kalut pikirannya.  Ya, sebatang kan nggak apa-apa.  Habis itu baru berhenti total.  Ini yang terakhir, habis ini nggak lagi.  Demikian pikir pemuda itu.

“Mau beli apa, Mas Soleh?” sapa ibu pemilik warung dengan ramah.

Soleh memandang pinggan-pinggan berisi pengananan dihadapannya.  Matanya berhenti pada tumpukan ubi jalar rebus.

“Ini, Bu.  Beli Rp.10.000,” ujarnya sembari menyodorkan uang pas.

Sang ibu dengan cekatan memindahkan potongan ubi rebus itu ke dalam kantong plastik bening hingga kantong itu hampir penuh.

“Malam ini mau makan ubi aja, Mas?” tanyanya saat menyerahkan kantong ubi.

Soleh hanya menjawab dengan senyuman dan ucapan terima kasih.  Sesungguhnya pemuda itu sama sekali tak merasa lapar, pikirannya sedang gundah.  Ia juga tak sepenuhnya sadar saat membeli ubi rebus itu, hanya sekedar mengalihkan pikirannya dari keinginan membeli rokok.  Tak enak rasanya telah sampai di warung tetapi tidak membeli apa-apa.

Soleh meletakkan kantong ubi di meja.  Saat kembali ke kamar keinginan untuk menyalakan rokok kembali terasa.  Dimakannya sepotong ubi.  Hanya itu makanan yang ada di dekatnya saat ini, ia malas untuk menyeduh kopi atau mi instan.

Usai salat Isya, rokok kembali mengisi pikiran pemuda itu.  Dimakannya lagi sepotong ubi.  Demikian malam itu berlalu.  Setiap kali ingin merokok, Soleh memakan sepotong ubi – satu-satunya makanan yang bisa langsung dikonsumsinya.

Sehabis salat Subuh Soleh menyeduh kopi.  Biasanya ia akan menikmati kopi ditemani rokok.  Keinginan mengisap tembakau kembali muncul.  Soleh mengambil ubi rebus, masih ada 5 potong sisa semalam.  Dimakannya sepotong ubi.  Saat masih ada keinginan untuk membuat kepulan asap, dikunyahnya lagi umbi manis itu.

Pagi itu Soleh memutuskan untuk mengganti sebatang rokok dengan sepotong ubi rebus.  Ia memesan khusus ubi rebus pada ibu pemilik warung.  Dia mengambil ubi rebus setiap pagi dan sore di warung si ibu.

Demikianlah dua hari berlalu.  Ubi rebus sebagai pengganti rokok.  Pada hari kedua Soleh sudah mulai bosan.  Saat bosan, kerinduannya akan rokok bertambah. Namun ia sudah berjanji untuk mengganti gulungan tembakau itu dengan sepotong ubi.  Makin bosan ia makan ubi, makin ingin ia merokok.  Makin sering keinginan merokoknya muncul, makin banyak ia makan ubi.  Bagaimana pun, Soleh bertekad untuk berhenti mengepulkan asap tembakau.  Ia ingin kembali meraih kepercayaan Bu Dewanti.

Jumat pagi Soleh meminta pemilik warung memasukkan ubi pesanannya ke dalam kotak makanan bening dari plastik.  Ia ingin wadah yang lebih pantas untuk dibawa bekerja.

“Tumben Mas Soleh bawa bekal,” komentar Dewanti melihat kotak makanan tersebut.

“Iya, Bu.  Biar nggak jajan,” jawab Soleh dengan senyum.  Ia senang karena sikap Dewanti tidak berubah.  Soleh bertambah semangat untuk berhenti merokok.  Tak ingin ia mengecewakan ibu hamil yang telah berbaik hati memberinya kesempatan kedua ini.

Bulan berganti, Soleh konsisten dengan ketetapan hatinya.  Tambah lama keinginannya untuk merokok makin berkurang.  Kini pas 30 hari sejak ia memutuskan untuk tak lagi mengisap gulungan tembakau itu.

“Mas Soleh hari ini nggak bawa bekal?”  Dewanti yang penuh perhatian tidak melihat kotak makanan yang biasa dibawa Soleh.

“Ibu tahu aja.”  Soleh menjawab sambil tertawa.  “Hari ini nggak bawa, Bu.  Udah bosen,” sambungnya dengan tawa berderai.

Dewanti ikut tertawa.  “Saya juga mikir apa Mas Soleh nggak bosan, tiap hari makan ubi rebus.”

“Iya, Bu.  Sebenarnya dah lama bosen tapi tetep dimakan kalau lagi kepengen ngerokok.  Sekarang dah nggak kepengen lagi dan ngeliat ubi juga udah bosen banget.”

“Oh, Mas Soleh makan ubi kalau pengen merokok?  Lalu sekarang sudah nggak kepengen merokok sama sekali?”

“Iya, Bu.  Alhamdulillah sudah 2 hari ini saya nggak ada lagi kepengen merokok.  Saya pikir juga nggak baik buat kesehatan kan, Bu?  Kayak yang Ibu bilang waktu itu.”

“Wah, keren.  Salut saya,” puji Dewanti.

Soleh memandang ke kursi penumpang melalui kaca spion.  Hatinya berbunga-bunga.

Jakarta, 1 Maret 2021
Dian L Izwar

Cerpen ini ditulis berdasarkan kisah nyata dan dimuat dalam buku Antologi  Cerpen  berjudul Hijrah terbitan Elfa Mediatama, Jakarta, Juni 2021 


Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran dari depan dan belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka…

QS. Ar-Ra’d: 11


 

Dian

Psikolog yang senang belajar dan mengajar, gemar memasak dan menulis. Berharap agar sedikit pengetahuan yang dititipkan Allah padanya dapat membantu sesama dan menjadi penambah amal kebaikan baginya kelak di hari perhitungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *